Penyembahan Yesus pada Abad-abad Awal

Banyak pihak menuduh bahwa ajaran tentang keilahian Yesus adalah ciptaan gereja yang disahkan dalam Konsili Nicea tahun 325 M. Mereka beranggapan bahwa Yesus serta para murid dan pengikutnya mula-mula memahami Yesus hanya seorang manusia bukan Tuhan. Tetapi oleh gereja Yesus dijadikan Tuhan pada masa-masa berikutnya.

Tuduhan ini jelas spekulatif tanpa didukung data sejarah. Banyak bukti membantah hal ini seperti data manuscript-manuscript Injil sebelum Nicea yang terdapat teks-teks tentang keilahian Yesus dll. Salah satu bukti yang akan kita bahas adalah catatan dari luar kekristenan pada masa awal yaitu pernyataan Trypho seorang Yahudi yang menolak kemesiasan Yesus sebagaimana dicatat oleh Justin Martyr, pernyataan Celsus seorang non Yahudi dalam Againts Celsus (Origen), catatan seorang pujangga Yunani: Lucian dari Samosata serta sejarawan/pejabat Romawi: Pliny the younger. 


Point utama dari referensi ini yaitu deskripsi sejarah tentang eksistensi pengikut Yesus mula-mula serta kaitannya dengan sikap mereka terhadap Yesus. Trypho, Celsus, Lucian & Pliny memang tidak mempercayai Yesus tetapi pernyataan mereka menjadi rujukan kita untuk memahami bagaimana pandangan & sikap pengikut Yesus mula-mula terhadap pribadi Yesus.

Mari kita bahas satu persatu referensi tersebut.

A.  Dialogue with Trypho, Justin Martyr, abad ke-2
Justin Martyr mencatat dialognya dengan seorang Yahudi yang tidak percaya bernama Trypho, salah satu bagian dari dialog itu (Dialogue with Trypho, Bab 68) membahas keilahian Yesus yang diawali dengan permintaan dari Trypho agar Justin Martyr membuktikan tentang konsep inkarnasi (Allah menjadi manusia) "..And Trypho said, “You endeavour to prove an incredible and well-nigh impossible thing; [namely], that God endured to be born and become man.” Justin kemudian menjelaskannya dengan merujuk nubuatan mesianik dalam kitab Yesaya kemudian menyatakan secara tegas tentang keilahian Yesus "..He will come to suffer, and to reign, and to be worshipped, and to be God". http://www.logoslibrary.org/justin/trypho/068.html

Data ini merupakan salah satu bukti bahwa jauh sebelum konsili Nicea, pengikut Yesus mula-mula telah mengenal & mengimani keilahian Yesus. Orang Yahudi yang tidak percaya seperti Trypho menolaknya bahkan menurut Trypho, Justin sebagaimana pengikut Yesus mula-mula lainnya telah melakukan banyak penghujatan.
Trypho calls the worship of Jesus the most objectionable matter of all, and for his part, Justin considers the worship of Jesus as divine to be the crucial claim to justify. For example, Trypho accuses Justin of "many blasphemies" in claiming. Hurtado, Larry W., Lord Jesus Christ: devotion to Jesus in earlist Christianity, Eerdmans, Grand Rapids Michigan, 2003

B. Lucian of Samosata, The Passing Peregrinus.
Lucian of Samosata, seorang pujangga Satire Yunani abad ke-2, mengolok-olok kristen mula-mula yang dianggapnya dungu karena telah menyangkal dewa-dewa Yunani dan menyembah seorang sofis yg disalibkan itu.. "the christian.. worship a man this day.. the distingushed personage who introduced this new cult", Lucian, The Passing Peregrinus. http://www.tertullian.org/rpearse/lucian/peregrinus.htm.

Sometime around AD 165 Lucian wrote a book entitled The Death of Peregnnus, in which he blamed the ruin of Peregrinus on Christians, based on the fact that they discouraged the worship of Peregrinus's traditional gods.. Gregory A. Boyd and Paul Rhodes Eddy, LORD OR LEGEND? Wrestling with the Jesus Dilemma, BakerBooks, Grand Rapids, Michigan, 2007

C. Agains Celsus, Origenes, abad ke-2
Celsus seorang filsuf Romawi pada awal abad kedua, banyak menyerang kekristenan dengan menuduh Yesus seorang penyihir atau pembuat magic, dia juga mencela kepercayaan para pengikut Yesus mula-mula terhadap keilahian Yesus. Tulisan-tulisannya telah hilang dan yang ada dalam bentuk kutipan-kutipan dalam tulisan Origen, Against Celsus.
Sometime around 175 C.E., shortly after Lucian's Peregrinus, the Neo-Platonist thinker Celsus wrote an attack on Christianity entitled True Doctrine (Αληθής Λόγος). This work is the earliest known comprehensive attack on Christianity... True Doctrine perished, but a large amount variously estimated at between 60 and 90 percent was incorporated into Origen's vigorous and lengthy response, Against Celsus (Contra Celsum, ca. 250 C.E). Robert E. Van Voorst, Jesus Outside the New Testament: An Introduction to the Ancient Evidence, Eerdman, Grand Rapids Michigan, 2000

Salah satu pernyataan Celsus yaitu tentang penyembahan kekristenan mula-mula terhadap Yesus "these people worshipped one God alone, ... But they pay excessive reverence to one who has but lately appeared among men, and they think it no offence against God if they worship also His servant." Against Celsus, Chapter XII. http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf04.toc.html

D. Pliny the younger, Correspondence With the Emperor Trajan
Pliny the younger, gubernur Bithynia (kira-kira daerah Turki saat ini) di tahun 106 M menulis surat ke kaisar Trajan tentang Kekristenan. Salah satu isi suratnya tentang hasil investigasi dia terhadap pengikut Yesus dimana dia mendapatkan informasi mengenai praktek penyembahan yang dilakukan Kristen terhadap Yesus sebagai Tuhan "They affirmed, however, that the whole of their guilt, or their error, was, that they were in the habit of meeting on a certain fixed day before it was light, when they sang in alternate verse a hymn to Christ as to a god.."
https://legacy.fordham.edu/halsall/ancient/pliny-letters.asp

Plini beranggapan bahwa kekristenan adalah kepercayaan terhadap takhyul, dia tidak terlalu memusingkan dirinya dengan asal-usul dari kepercayaan takhyul itu, tetapi kesimpulan ini diambilnya berdasarkan perilaku para pengikut Yesus mula-mula yang menyembah Yesus sebagai Tuhan.
That Pliny calls Christianity a superstitio might militate against any close look at its origin — the origins of a superstition did not matter! Robert E. Van Voorst, Jesus Outside the New Testament: An Introduction to the Ancient Evidence, Eerdman, Grand Rapids Michigan, 2000


Point penting dari surat Pliny terhadap kaisar Trajan yaitu baik kekristenan maupun pihak non kristen telah mengetahui Yesus sebagai figur yang riil (historical person) dan Kristen menyembah Dia sebagai Ilahi.
We also learn from this letter that both Christians and non-Christians at this time assumed Jesus had existed as a real, historical person and that Christians worshipped him as divine, confinning the view of Jesus given in the New Testament. Thus, even apart from all evidence from Paul or the Gospels, Pliny's testimony challenges us to explain how a movement begun among Jews and on Jewish soil could have come to believe that a man was "a god" and could have experienced the kind of rapid growth it obviously experienced. Gregory A. Boyd and Paul Rhodes Eddy, LORD OR LEGEND? Wrestling with the Jesus Dilemma, BakerBooks, Grand Rapids, Michigan, 2007
---------

Sebenarnya masih ada beberapa tulisan lain yang menyerang kekristenan seperti tulisan Fronto, tetapi dokumen tulisannya telah hilang, namun demikian elemen-elemen dari pemikirannya bisa ditemukan dalam tulisan Minucius Felix berjudul Octavius.
in this period Christians were also the subject of more serious literary attacks. Probably around 160 Cornelius Fronto, the celebrated orator who was also the tutor and intimate of Marcus Aurelius, composed an address against Christians that is referred to in ancient sources but is unfortunately now lost...Fronto's (ca. 100-166) anti-Christian address does not survive, but elements are thought to be reflected in the speeches of the character Caecilius in the Latin Christian apologetic work Octavius, by Minucius Felix (third century). Hurtado, Larry W., Lord Jesus Christ: devotion to Jesus in earlist Christianity, Eerdmans, Grand Rapids Michigan, 2003


Dalam Octavius, penolakan Fronto terhadap kekristenan terefleksi dalam karakter Caecilius yang dianggapnya bersumber dari kepercayaan pagan. Tuduhan dari Fronto/Caecilius ini jelas tidak berdasar, karena inti ajaran kekristenan bersifat unik yang berakar pada Yudaisme dan bukan bersumber dari paganisme.
In the Octavius, the pagan philosopher Caecilius claims that Christian beliefs are simply reshaped versions of pagan religious fantasy: ''All such figments of unhealthy belief, and vain sources of comfort, with which deceiving poets have trifled in the sweetness of their verse, have been disgracefully remoulded by you, believing undoubtingly on your god." Luke Timothy Johnson, AMONG THE GENTILES: Greco/ Roman Religion and Christianity, Yale University Press

Berdasarkan semua data ini kita bisa menyimpulkan bahwa kepercayaan pada keilahian Yesus dan penyembahan Yesus sebagai Tuhan, telah ada sejak masa pengikut Yesus mula-mula yang merupakan lanjutan berkesinambungan dari apa yang diajarkan Yesus sendiri dan para rasul. Tuduhan bahwa keilahian Yesus adalah ciptaan gereja pada konsili Nicea pada awal abad ke-4 (324 M) jelas spekulatif dan ahistoris.
Share:

1 komentar:

Nyong Nuzex mengatakan...

Bagus artikelnya.
Agar lebih di mengerti, tolong terjemahkanlah tulisan/kutipan dalam bahasa Indonesia.