Polemik Perjanjian Baru: Kriteria Otentisitas

Tulisan sebelumnya "New Testament, Oral/Written & Witnesses" ditutup dengan pertanyaan "apa dasar logisnya, tulisan atau keterangan di abad 6-7 dijadikan "hakim" untuk menilai tulisan yg ditulis para saksi mata di abad pertama?" Jawabannya tergantung sudut pandang polemikus. Pak Leonardo Winarto mengandaikan jawabannya simple: "wahyu", jika jawaban seperti ini maka "case closed" artinya ruang diskusi ilmiah tidak berlanjut.

Namun bagi para polemikus yang mau membuka ruang diskusi lebih lanjut, terdapat beberapa varian pendekatan yang dilakukan mereka. Diantaranya mempersoalkan otentisitas kitab-kitab yg memuat teks-teks yg digunakan misalnya pernyataan Petrus sebagai saksi mata dalam 2 Pet 1:16 diklaim teks itu tdk otentik karena surat 2 Petrus tdk ditulis oleh Petrus. Hal serupa juga berlaku pada injil kanonik yang diklaim bukan ditulis oleh murid Yesus tetapi para pengikut Paulus sang penyesat kekristenan.

Tentang siapa penulis kitab-kitab PB sebenarnya sdh dikenal bapa-bapa gereja karena ini salah satu pertimbangan dlm proses kanonisasi PB. Tetapi perlu diingat hanya 7 (tujuh) kitab saja dari PB yg banyak dibahas bapa gereja karena kehati-hatian mereka. Berbeda dengan keempat injil kanonik dan kitab-kitab lain.

Para bapa gereja yg hidup lebih dekat dengan peristiwa dlm PB jauh lebih tahu dibanding ahli-ahli modern ribuan tahun kemudian. Misalnya pernyataan Origen dalam Homilies on Joshua 7.1 jelas menyebut Petrus sebagai penulis kedua surat Petrus termasuk Yohanes sebagai penulis surat-surat Yohanes ".. Even Peter cries out with trumpets in two of his epistles; also James and Jude. In addition, John also sounds the trumpet through his epistles, and Luke, as he describes the Acts of the Apostles."

Beberapa polemikus kemudian menyodorkan injil Barnabas sebagai alternatif injil yang "asli" karena dianggap isinya bersesuaian dengan teologi Islam. Altenatif lainnya injil Filipus sebagaimana diajukan ustad Zuma yg diklaim berisi jejak injil yg "asli". Pendekatan ini jelas tdk memiliki bobot ilmiah yg memadai, karena injil Barnabas telah terbukti injil rekaan yang ditulis awal abad pertengahan. Sedangkan injil Filipus adalah produk kristen Gnostik yg ditulis sesudah abad pertama atau setelah meninggalnya para saksi mata. Bahkan jika dicermati secara teliti ada terdapat bagian2 dari injil "palsu" Barnabas dan injil Filipus yg kontradiksi dengan teologi Islam.

Selanjutnya ada polemikus yg memcoba mengambil sikap moderat bahwa injil-injil kanonik dan non kanonik berisi bagian-bagian injil yg asli namun bercampur yg palsu, namun masalahnya alat ujinya adalah tulisan & keterangan yg nanti muncul 600an tahun kemudian.

Para polemikus umumnya mempermasalahkan otentisitas kitab-kitab Perjanjian Baru, poin argumentasi yang digunakan biasanya merujuk ke tulisan liberal scholars yang cocok dengan agenda mereka. Namun masalahnya tulisan kesarjanaan liberal secara umum justru tidak mendukung posisi teologis Islam. Misalnya fakta kematian Yesus diakui oleh para sarjana liberal seperti John Dominic Crossan, Gerd Ludeman dll. Hal ini kontra dengan Islam yang menolak fakta ini, dikenal dengan substitution & swoon theory. Bart Ehrman yang biasa dirujuk berkaitan otentisitas tekstual ayat2 PB menyatakan skeptisismenya saat ditanyakan pandangannya tentang Quran.

Jika ingin berdiskusi secara ilmiah dlm menilai otentisitas sebuah kitab kuno, maka prinsip kriteria yg telah diterima dalam dunia kesarjanaan harus digunakan. Ada 3 kriteria yaitu: The criterion of multiple attestation, The criterion of dissimilarity (or double dissimilarity) dan The criterion of embarrassment. Tentu tulisan utk kajian akademis yg detail agak terbatas kalau di ditulis di FB, tetapi sedikit saya beri gambaran tentang kriteria multiple attestation.

Secara sederhana kritera multiple attestation berkaitan dengan sebuah pernyataan yang terdapat di beberapa sumber independen yg berbeda & kontemporer atau ditulis diera yg sama dgn peristiwa konteks pernyataan itu, hal ini akan memberi nilai otentitas yg semakin tinggi. Misalnya peristiwa penyaliban dan kematian Yesus yg dicatat dalam sumber-sumber independen seperti tulisan Joshepus, Tacitus, Pliny the younger, Mara Bara Serapion dll. Bandingkan dengan pernyataan yg kontradiktif yg sumbernya 600an tahun kemudian apalagi locus atau tempat penulisan yg berbeda dan jauh dari lokasi peristiwanya.

Bagi yg serius melakukan riset lebih lanjut, silahkan mempelajari referensi berikut ini: Robert H. Stein, “The Criteria for Authenticity,” R.T. France & David Wenham, eds., Gospel Perspectives, Vol. 1, Studies of History and Tradition in the Four Gospels. Sheffield: JSOT Press, 1980. Stanley E. Porter, The Criteria for Authenticity in Historical-Jesus Research (England: Sheffield Academic Press, 2000).

Terkait tentang "Q" Quelle yang sangat dikenal dlm dunia biblical scholarship. Q adalah sebuah entitas hipotesis kumpulan perkataan Yesus, oleh beberapa scholar dianggap sebagai salah satu sumber independen dlm studi Historical Jesus. Hipotesis ini muncul karena adanya beberapa kesamaan narasi dalam kitab Matius dan Lukas yang disebut Q sebagai sumber dari Matius dan Lukas dan sumber lainnya yaitu Markus. Konsep ini dikenal dengan two document hypothesis dengan asumsi Markus adalah injil pertama yg ditulis (Markan Priority) yg kemudian menjadi salah satu sumber utk Matius dan Lukas. Namun hipotesis ini ditentang scholars lainnya salah satunya Mark Goodacre karena memang tdk ada referensi dari data arkeologi, kutipan bapa2 gereja dll yg mengkonfirmasi keberaadan Q.

Bagaimana kaitannya dengan konteks apologetik Kristen-Islam. Pertama eksistensi Q ini masih debatable dan kedua jikalau memang Q itu eksis yaitu berupa kumpulan perkataan Yesus hal ini juga tdk menjustifikasi posisi teologi Islam. Banyak perkataan2 Yesus dalam "Q" itu kontradiksi dengan teologi Islam misalnya berbagai pernyataan Yesus sebelum peristiwa penyaliban bahwa Dia akan mati atau bernubuat atas kematianNya.

Ok ini dulu tulisan di akhir tahun nanti dilanjutkan lagi di tahun depan .

Selamat menyongsong tahun baru 2024.
Share:

New Testament, Oral/Written Tradition & Witnesses

Banyak polemikus mempersoalkan historitas Perjanjian Baru yang ditulis di abad pertama, namun ironisnya standing point para penuduh justru berdasarkan informasi yang ditulis 6 sd 7 abad kemudian. Rentang waktunya sekitar 600 tahun yang berarti sudah banyak generasi sejak peristiwa itu terjadi.

Menurut teologi & sejarah Islam, hadith dikompilasi oleh Bukhari dll nanti 200an tahun kemudian. Maka untuk menyatakan apakah hadith itu Shahih atau Dhoif dilakukan kajian atas rantai transmisinya (chain of transmission) dikenal dengan nama Sanad/Itsnad serta kajian isi hadithnya (content) atau Matan. Dengan metode ini, lalu bagaimana dengan kisah-kisah tentang Yesus atau Isa dalam Quran termasuk kisah-kisah Israeliyat, adakah Sanadnya sejak peristiwa itu terjadi?

Berbeda dengan PB yg telah ditulis dan dibukukan oleh para saksi mata itu sendiri masih di abad pertama, sehingga yg diwariskan ke generasi berikutnya tidak lagi mengandalkan hafalan atau ingatan (oral tradition) melainkan dokumen-dokumen yang utuh yg disalin dari generasi ke generasi (written tradition).

Pada abad pertama seiring penulisan PB, tradisi lisan (oral tradition) tetap terpelihara karena para saksi mata masih banyak yang hidup. Namun sejak PB telah ditulis & disirkulasikan maka acuan utama gereja mula-mula lebih tertumpu pada dokumen tertulis itu. Tradisi lisan masih ada di abad ke-2 namun datanya sinkron dan sekaligus mengkonfirmasi apa yang telah tertulis.

Adanya tradisi lisan ini terkait dengan pola pembelajaran orang Yahudi yg juga melakukan hafalan, seperti dikatakan Witherington "..Disciples in early Jewish settings were learners, and, yes, also reciters and memorizers. This was the way Jewish educational processes worked. In fact it was the staple of all ancient education, including Greco-Roman education“. Ben Whitherington, The Jesus Quest. Downers Grove: IVP, 1995.

Tentang saksi mata, mari kita lihat datanya dalam PB. Penulis PB seperti Yohanes utk Injil Yohanes & Petrus yg jadi sumber penulisan Injil Markus, mereka menyatakan dengan tegas bahwa mereka adalah saksi mata.
2 Pet 1:16 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.
1 Yoh 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Dalam ayat-ayat lain, juga dinyatakan terkait eksistensi para saksi mata.
Yoh 21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus...
Luk 24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.
Kis 2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
1 Pet 5:1 Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus...

Data dari bapa gereja juga menyebut tentang saksi mata terkait penulisan PB/Injil Kanonik. Salah satunya dikatakan Justin Martyr, bahwa Injil yang ditulis itu adalah memoirs (ingatan atau catatan) dari para rasul.
".. For the apostles, in the memoirs composed by them, which are called Gospels, have thus delivered unto us what was enjoined upon them.."; (Justin Martyr, First Apology, 66

Berdasarkan semua data ini, PB ditulis di abad pertama oleh para saksi mata dan mereka masih hidup serta adanya tradisi lisan maka data akumulatif ini mengkoroborasi historitas PB. Lalu apa dasar logisnya, tulisan atau keterangan di abad 6-7 dijadikan "hakim" untuk menilai tulisan yg ditulis para saksi mata di abad pertama?
Share:

Sensus di masa kelahiran Yesus & Data Arkeologi

Biblical Archaeology Repost mempublikasikan artikel tgl 21 Des 2023 berjudul Top Ten Discoveries Related Christmas (Sepuluh Teratas Penemuan terkait Natal). Dari 10 penemuan arkeologi itu, ada terdapat 2 penemuan terkait Sensus di masa kelahiran Yesus yaitu The Res Gestae (Acts or Achievements) of Caesar Augustus dan Roman Census Edict – Papyrus 904. Kedua penemuan ini mengkoroborasi historitas Natal khususnya Sensus yang diikuti Yusuf & Maria.

Luk 2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.

Frase "seluruh dunia" konteksnya adalah semua penduduk di wilayah kerajaan Romawi termasuk Israel sebagai salah satu jajahan Romawi. Keterangan dari injil Lukas sejalan dengan inskripsi The Res Gestae of Caesar Augustus, sebuah otobiografi yg ditulis oleh Caesar. Dalam inskripsi itu disebutkan Caesar mengadakan sensus tiap 5 tahun (lustrum) dengan jumlah penduduknya lebih dari 4 juta orang. Sepertinya pola ini diadopsi sampai di era modern.

"In my fifth consulship I increased the number of patricians by order of the people and the senate. Three times I revised the roll of the senators. And in my sixth consulship (28 BC), with Marcus Agrippa as my colleague, I conducted a census of the people. I performed the lustrum after an interval of forty-two years. At this lustrum 4,063,000 Roman citizens were recorded. Then a second time, acting alone, by virtue of the consular power, I completed the taking of the census in the consulship of Gaius Censorinus and Gaius Asinius (8 BC). At this lustrum 4,233,000 Roman citizens were records. And a third time I completed the taking of the census in the consulship of Sextus Pompeius and Sextus Appuleius (14 AD), by virtue of the consular power and with my son Tiberius Caesar as my colleague. At this lustrum 4, 937,000 Roman citizens were recorded." [Roman Civilization, Sourcebook II: The Empire, Naphtali Lewis and Meyer Reinhold, Harper:1955, p.12]

Pada ayat selanjutnya diuraikan bahwa tiap orang didaftarkan di kotanya sendiri, ternasuk Yusuf & Maria dari Nazareth pergi ke kampung halamannya di Bethlehem.
Luk 2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Luk 2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud--
Luk 2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

Craig Keener menjelaskan bahwa sebelumnya telah terjadi migrasi orang-orang dari Bethlehem ke Nazareth.
2:4. Pottery samples suggest a recent migration of people from the Bethlehem area to Nazareth around this period, so Joseph and many other settlers in Galilee may have hailed from Judea. Joseph’s legal residence is apparently still Bethlehem, where he had been raised. The IVP Bible Background Commentary.

Pendaftaran di kota asalnya terkonfirmasi data arkeologi dalam inskripsi Roman Census Edict – Papyrus 904 yang berisi perintah dari gubernur Romawi Gaius Vibius Maximus (104M) di Mesir.

"Gaius Vibius Maximus, prefect of Egypt [says]: Seeing that the time has come for the house-to-house census, it is necessary to compel those who for any cause whatsoever are residing out of their homes (districts) to return to their own homes..". George Milligan, “The Greek Papyri and the New Testament.” The Biblical World. Vol. 34, No. 3 (Sep., 1909), p. 158.

Dari data ini, peristiwa Sensus pada masa kelahiran Yesus yg tercatat dalam Injil Lukas sejalan dengan data arkeologi. Hal ini salah satu bukti kuat historitas Natal.

Selamat Natal...
Share:

Orang Majus & Astrologi?

Pada masa kelahiran Yesus belum begitu dikenal Astronomi atau ilmu perbintangan berdasarkan sains khususnya ilmu astrofisika. Saat itu ilmu perbintangan lebih banyak dipahami secara mistik atau non sains atau dikenal dengan nama Astrologi (nujum) yang memahami benda-benda langit itu memiliki kaitannya dengan kehidupan manusia di bumi.

Dalam astrologi, formasi bintang-bintang atau zodiak (horoskop) akan berpengaruhi pada nasib baik & buruk seseorang. Hal ini dipahami semacam peringatan dari para dewa sehingga ada upaya mencari tahu maknanya agar bisa menghindari terjadinya peristiwa yang diramalkan itu.

Apakah bintang Betlehem bagian dari Astrologi? jika mencermati secara seksama jawabannya Tidak. Bintang Betlehem tidaklah seperti yang dipahami dalam Astrologi, karena bintang Betlehem adalah petunjuk atas sebuah peristiwa yang terjadi. Sedangkan dalam Astrologi, bintang-bintang itu sebagai petunjuk atas "prediksi" (ramalan) peristiwa yang akan terjadi.

Penggunaan "tanda-tanda langit" merupakan salah satu cara Allah untuk menyampaikan pesannya dan dalam Perjanjian Lama/Tanakh tercatat tentang hal ini. Pesan Allah melalui tanda-tanda ini juga bisa dimengerti bangsa-bangsa lain selain kepada bangsa Israel.
Yer_10:2 Beginilah firman TUHAN: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya.
Dan_6:28 Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa."

Dalam Perjanjian Baru, juga dituliskan penggunaan tanda-tanda langit yang umumnya berkaitan dengan eskatologi.
Luk_21:11 dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.
Why 15:1 Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, besar dan ajaib: tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka terakhir, karena dengan itu berakhirlah murka Allah.

Dari uraian singkat ini bisa ditegaskan bahwa bintang Betlehem tidak terkait dengan Astrologi melainkan sebuah pernyataan Allah dan telah dipahami para Majus sebagai tanda kelahiran seorang raja yang istimewa yaitu Yesus di Betlehem.
Share:

Siapakah para Majus?

Mat 2:1-2 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

Beberapa scholar merujuk ke pemimpin cultic misalnya menyebut mereka sebagai pendeta Zoroastrian berdasarkan keterangan dari Herodotus “…Extrabiblical evidence offers various clues that shed light on the place of origin and positions held by the “wise men” of Matthew 2. The historian Herodotus mentions “magi” as a priestly caste of Media, or Persia, and, as the religion in Persia at the time was Zoroastrinism, Herodotus’ magi were probably Zoroastrian priests.." .
Elwell, W. A., & Beitzel, B. J. (1988). Baker encyclopedia of the Bible. Map on lining papers. (2153). Grand Rapids, Mich.: Baker Book House

Pendapat lain merujuk pada sebuah wisdom movement dan para majus bagian dari gerakan tersebut. “..wise men, sages who appear in the biblical traditions within the context of an international wisdom movement (on Egyptian, Persian, and Babylonian wise men, see Gen. 41:8; Esther 1:13; Dan. 2:12); the term applies also to the Magi in the infancy narrative of Matt. 2:1-18..” ..
Achtemeier, P. J., Harper & Row, P., & Society of Biblical Literature. (1985). Harper's Bible dictionary. Includes index. (1st ed.) (1137). San Francisco: Harper & Row

Dalam Alkitab juga disebut para orang bijaksana “… lalu disuruhnyalah (oleh Firaun) memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir.." (Kej 41:8) dan “Maka bertanyalah raja (Ahasyweros) kepada orang-orang arif bijaksana, orang-orang yang mengetahui kebiasaan zaman-.” (Est 1:13).

Jika kita membandingkan kedua pendapat ini, sepertinya pendapat kedua yang lebih kuat yaitu merujuk pada orang-orang bijaksana di Timur khususnya Persia & Babilonia dan tidak terkait dengan ritual cultic karena tidak ada petunjuk apapun dalam injil Matius yang mengindikasikan mereka adalah imam Zoroastrian.
Share:

Markus & Lukas: Penulis Injil yang namanya kurang "Keren"

Keempat Injil kanonik sering dipermasalahkan para polemikus dan dianggap bukan injil yang "asli". Namun menariknya yang mempermasalahkan justru orang-orang yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun kemudian. Para bapa gereja sejak awal telah mengenal keempat Injil kanonik, mengutipnya atau menyebutnya dalam daftar kitab yang telah mereka ketahui. Sejak ditulis di abad pertama, proses sirkulasi kitab-kitab mulai berlangsung sd abad kedua dan di sekitar akhir abad kedua, semua kitab2 PB telah sampai di tangan para bapa gereja.

Di kalangan liberal scholars dikenal teori "anonymous" bahwa kitab-kitab PB awal mulanya tidak ada nama dan nanti diberi nama pada abad kedua, teori ini banyak diadopsi para polemikus. Teori ini tidaklah kuat salah satu scholar yg membantahnya Martin Hengel dalam bukunya The Four Gospels and the One Gospel of Jesus Christ (Harrisburg, PA: Trinity Press International, 2000). Hengel menegaskan bahwa pemberian nama telah ada sejak awal di abad pertama seiring adanya beberapa injil kanonik yang telah ditulis dan tersebar sehingga diperlukan judul/identitas untuk membedakan kitab-kitab itu.

Kita tidak akan mengeksplorasi lebih detail argumen Hengel serta banyak argumen lain membantah teori ""anonymous" namun kita akan sedikit mengulas tentang nama Markus & Lukas bagian dari nama Injil Kanonik. Markus & Lukas bukanlah anggota dari 12 murid Yesus, berbeda dengan Matius & Yohanes penulis kedua Injil lainnya. Jika injil Markus & Lukas ditulis oleh penulis "palsu" maka mereka tidak akan menggunakan kedua nama itu yg kesannya kurang "keren" dibandingkan nama dari 12 murid Yesus termasuk nama "keren" lainnya seperti Maria & Yakobus.

Hal ini senada dengan munculnya injil-injil apokrif mulai abad ke 2, 3 & 4 menggunakan nama-nama "keren" seperti injil Petrus, injil Filipus, injil Thomas, injil Maria dll. Pada masa itu abad ke-2 dst para rasul dan saksi mata lainnya telah mati, maka mulailah bermunculan para bidat yang umumnya melakukan sinkretisasi dengan gnostisisme dan menulislkan injil-injil mereka dengan mengambil rujukan injil kanonik yang disesuaikan dengan konsep ajaran mereka. Untuk menyakinkan banyak orang, diambillah nama-nama "keren" seperti injil Filipus dll menjadi judul kitab mereka.

Secara khusus injil Matius & Yohanes berbeda dengan injil-injil apokrif karena banyak bukti menunjukan bahwa keduanya ditulis oleh rasul Yohanes & Matius. Namun point dalam tulisan ini berkaitan injil Markus & Injil, jika keduanya bukan injil yang "asli" maka tidaklah tepat menggunakan kedua nama tersebut.

Kalau begitu mereka bukan saksi mata tentang Yesus karena bukan anggota 12 murid? tidak juga, karena mereka juga murid Yesus dalam kelompok yang lebih besar atau 70 (tujuh puluh) murid.
Luk_10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.

Data dari bapa gereja kita bisa mengetahui daftar nama ketujuhpuluh murid itu dan nama Markus serta Lukas ada di dalamnya. Diantaranya ditulis oleh Hippolytus of Rome dengan judul On the Seventy Apostles of Christ. Hyppolytus mendaftarkan nama-nama: Yakobus, Kleopas, Matias, Ananias, Stefanus... dan urutan ke 14 & 15 Markus dan Lukas.

Data dari Perjanjian Baru sendiri, kedua nama itu tidaklah asing dalam kehidupan jemaat mula-mula bersama para rasul.
Kol_4:14 Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.
2 Tim 4:11 Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.
Fil 1:24 dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.

Lukas seorang tabib dan dia juga ternyata sejarawan, hal ini telah dikonfirmasi oleh banyak sejarawan modern tentang keakuratan Lukas menulis data sejarah, geografis dan detail lainnya dalam injil Lukas & kitab para rasul. Maka informasi tentang Yesus tentu banyak didapatkan dari para rasul selain yang dia ketahui sendiri sebagai bagian dari 70 murid. Sedangkan Markus menuliskan injil Markus berdasarkan kesaksian Petrus. Hubungan keduanya sangat dekat sebagaimana ditulis Petrus dalam suratnya dan menyebutnya sebagai anaknya.
1 Pet 5:13 Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku.

Data gereja menyatakan bahwa Markus menuliskan kesaksian Petrus secara akurat, sebagaimana ditulis Eusebius berdasarkan pernyataan Papias.
“When Mark became Peter’s interpreter,[14] he wrote down accurately, although not in order, all that he remembered of what was said or done by the Lord. For he had not heard the Lord nor followed Him, but later, as I have said, he did Peter, who made his teaching fit his needs without, as it were, making any arrangement of the Lord’s oracles, so that Mark made no mistake in thus writing some things down as he remembered them” (Church History 3.39.15)

Dari semua data ini, tuduhan bahwa injil Lukas & Markus bukanlah "asli" jelas tidak terbukti.
Share:

Tinjauan Akhir atas pertanyaan Apakah Yesus sama dengan Isa?

Dalam tulisan ini saya akan memberikan tinjaun akhir atas pertanyaan ini. Sebelumnya telah diuraikan pembahasannya dalam tulisan "Yesus yang Lain?" yg menegaskan jawabannya bisa Ya atau Tidak tergantung sudut pandangnya. Kita akan mengelaborasi kembali kedua jawaban ini dengan mengambil perbandingan dengan pandangan bidat kristen gnostik dan tokoh "Krisna" salah satu tokoh sentral dalam Hinduisme.

Jawaban Ya berdasarkan sudut pandang bahwa tokoh Isa itu dimaksudkan merujuk ke Yesus yg ada di tanah Palestina/Israel pada abad pertama itu. Data menunjukan bahwa nama Isa adalah nama lain dari Iesous (Yunani), Yeshua (Ibrani), Isho (Suryani/Aramaic), Jesus (Inggris) dll. Selain itu penulisannya dalam Quran, Hadith & literatur Islam klasik memberi petunjuk jelas Isa itu dimaksudkan Yesus dengan detail Isa: seorang nabi dari bangsa Israel, diberikan kitab "Injil" sama seperti Musa diberikan Taurat, memiliki ibu bernama Maryam, memiliki murid, disebut Almasih mirip dengan Masiah, Mesias walaupun ada perbedaan makna teologisnya karena di Islam juga dikenal Almasih Dajjal, melakukan banyak mujizat dan beberapa persamaan lainnya.

Bandingkan dengan pertanyaan apakah Yesus sama dengan Krisna? jawabannya jelas Tidak, karena Krisna itu berasal dari India, bukan bangsa Israel, tidak terkait dengan Musa dll.

Apakah dengan jawaban Ya, berarti kita Kristen menyetujui pandangan mereka? Saya kira tidak, sepanjang kita memberi tambahan penjelasan bahwa jawaban Ya itu berdasarkan maksud penulisan nama Isa.

Sedangkan jawaban Tidak berdasarkan sudut pandang perbandingan deskripsi profil dari Yesus dan Isa. Dari perbandingan ini terdapat perbedaan substansial antara keduanya sehingga bisa disimpulkan keduanya tidak sama. Deskripsi Isa diuraikan hanya sebagai nabi dan tidak ilahi, mendapatkan kitab Injil berupa wahyu/firman Allah yang diterima dan diteruskan ke para muridnya, tidak disalibkan tapi orang lain, kalaupun disalibkan tidaklah mati hanya pingsan, berarti juga tidak pernah bangkit, lahir dibawah pohon kurma dll.

Bandingkan dengan pengikut kristen gnostik di abad-abad awal yg juga menerima "Yesus". Bidat kristen gnostik ini menerima banyak kisah Yesus dalam injil kanonik namun mereka menambahkan beberapa detail yg biasanya selaras dengan konsep teologis mereka yg khas gnostik. Misalnya dalam injil Petrus dikisahkan Yesus yg "asli" berada di atas pohon menyaksikan penyaliban/kematian dari seseorang yg menurut mereka bukanlah Yesus yang "asli" hal senada juga diajarkan Basilides. Mereka tidak menerima natur kemanusiaan Yesus hanya keilahianNya yg khas gnostik dll.

Dari uraian ini, maka kita bisa simpulkan bahwa pertanyaan "Apakah Yesus sama dengan Isa?" memilki jawaban yg bersifat ambigu, bisa Ya atau Tidak tergantung sudut pandang dan kedua jawaban itu valid. Seseorang yg mempersoalkan salah satu jawabanya, biasanya telah memliki prasuposisi sebelumnya atas pertanyaan itu dan menyalahkan jawaban lainnya yg berbeda. Misalnya jika prasuposisinya Yesus itu berbeda dgn Isa berdasarkan perbedaan substansial, maka orang lain yg menjawab Ya (sama) akan disalahkan, demikian juga sebaliknya.

Maka untuk menghilangkan kesalahpahaman ini, seharusnya pertanyaannya diperbaiki agar jawabannya tidak bersifat ambigu. Misalnya,
- Apakah Yesus sama dengan Isa dalam pengertian sama-sama merujuk ke seorang tokoh dari bangsa Israel yg ada di Palestina/Israel pada abad pertama? Ya
- Apakah Yesus sama dengan Isa dalam pengertian memiliki profil historis dan inti pengajaran yg sama? Tidak.
Share:

Yesus yang Lain?

Pertanyaan apakah Yesus sama dengan Isa cukup hangat dibahas di dunia maya. Saya telah menulis status singkat tentang hal ini, yg intinya jawaban Ya & Tidak seharusnya tidak perlu dipertentangkan karena hanya perbedaan sudut pandang. Jawaban Ya, melihatnya dari maksud penulisannya bahwa Isa dimaksudkan merujuk ke Yesus yg ada di tanah Palestina/Israel pada abad pertama. Sedangkan jawaban Tidak, melihatnya dari perbedaan deskripsi profilnya misalnya Yesus lahir di bawah pohon kurma dll.

Bagi mereka yang memahami adanya dua sudut pandang ini, saya kira tidak akan mempersoalkanya lebih lanjut. Namun masalahnya jika ada pihak yang mencoba memaksakan hanya salah satu sudut pandang yang benar. Polemikus muslim Menachem Ali telah membahas hal ini dengan fokus pada kajian linguistik kata Isa (Arabic) dengan Isho (Suryani) serta menyebut referensi Arabic Bible yang menuliskan kata Isa. Namun pendekatan yang terlalu menekankan pada aspek kesamaan kata ini sepertinya mengabaikan signifikansi perbedaan substansial yang ada.

Dalam status saya itu, saya menyatakan posisi saya bahwa penyebutan Isa memang dimaksudkan ke Yesus namun itu "Yesus yang lain". Saya menggunakan istilah ini sebagaimana digunakan dalam Perjanjian Baru.
2 Kor 11:4 Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.

Frase "Yesus yang lain" (allon Iēsoun) bukan berarti merujuk ke orang lain atau "salah orang" namun tetap merujuk ke orang yg sama. Namun dalam beberapa detail deskripsinya yg substansial tidaklah tepat bahkan menyimpang walaupun banyak detail lainnya sama.

Menariknya dalam 2 Kor 11:4 tidak hanya menyebut Yesus yang lain melainkan juga roh dan Injil yang lain atau berbeda.
- Another Jesus (allon Iēsoun)
- A different spirit (pneuma heteron)
- A different gospel (euaggelion heteron)

Perlu ditegaskan di sini bahwa penyebutan kata "injil" tidak terkait dengan "kitab Injil" melainkan pada berita kabar baik tentang keselamatan dalam Kristus. Polemikus muslim sering berasumsi bahwa Yesus telah diberikan sebuah "kitab Injil" walaupun sampai sekarang tidak bisa memberikan bukti eksistensi manucript "injil Yesus" bahkan tidak ada referensi kutipan dari bapa-bapa gereja, penulis sekular kuno dll yang pernah menyebut keberadaannya.

Lalu apa yg dimaksud dengan Yesus/roh/Injil yg lain itu? Dari data Perjanjian Baru kita bisa mengetahuinya bahwa itu adalah ajaran menyimpang dari apa yang diajarkan Yesus dan para rasul.. Munculnya ajaran menyimpang ini seiring terbentuknya komunitas mula-mula orang yang percaya Yesus yg biasanya terkait dengan kepercayaan lama mereka. Misalnya beberapa orang Yahudi yang percaya, mengajarkan bahwa untuk selamat juga harus menjalankan Taurat selain percaya Yesus. Ajaran ini kemudian ditolak dalam Sidang Yerusalem.

Kis 15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
Kis 15:11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."

Yesus yg lain pada masa itu juga terkait dengan konteks kepercayaan paganisme seperti doketisme atau istilahnya proto gnostik menurut scholar Ben Witherington. Para pengikut Yesus ini melalukan sinkretisasi dengan gnotisisme sehingga mereka tidak menerima kemanusiaan Yesus, hanya keilahianNya yg khas gnostik. Rasul Yohanes tegas menolak ajaran doketisme ini dengan menyatakan bahwa roh yang benar, juga menerima kemanusiaan Yesus disamping keilahianNya.
1 Yoh 4:2 Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,

Dari semua data ini, kita bisa tegaskan bahwa "Yesus yang lain" memang merujuk ke Yesus dalam Alkitab. Beberapa detail deskripsinya bisa saja sama namun adanya beberapa perbedaan substansial maka itu dikategorikan sebagai "Yesus yang lain". Salah satu hal yg substansial yaitu menolak aspek kemanusiaanNya atau keilahianNya.
Share:

Nasrani vs Kristen

Pihak polemikus seperti Zuma, Kainama dkk beranggapan Nasrani adalah pengikut Yesus yg asli yaitu orang-orang Yahudi yg menerima Yesus sebagai nabi, mengajarkan Tauhid, menjalankan Sunat & Taurat. Menurut mereka Nasrani bertolakbelakang dengan Kristen yang didirikan Paulus atau kelompok Farisi yg ajarannya bertentangan dengan ajaran Yesus atau nabi Isa dan para rasul, karena telah menuhankan Yesus dan menolak Sunat & Taurat.

Kainama mengatakan bahwa Nasrani adalah sebuah sekte Yahudi kemudian Paulus mendirikan Kristen yg adalah sekte dari sekte tersebut. Namun jika kita cermati asumsi mereka ini tidak didukung data karena baik data biblikal maupun extrabiblikal abad-abad awal tidak mendukung teori mereka.

Mari kita lihat data Alkitab untuk kata Nasrani ini.
Kis 24:5 Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani.

Kata Nasrani dari kata Yunani Ναζωραῖος Nazōraios, dalam Arabic (nashara/nasharani), Inggris (nazarene). Kata ini dipasangkan dengan kata αἵρεσις (hairesis) yg diartikan sekte atau aliran sebagaimana terjemahan LAI TB2 ".. tokoh dari aliran Nasrani".

Dari ayat ini saja sudah terlihat jelas kekeliruan asumsi para polemikus itu bahwa Paulus adalah pendiri Kristen dan dia bukan Nasrani. Padahal jelas disebutkan Paulus tokoh dari sekte/aliran Nasrani. Penyebutan Nazōraios (Nasrani) terkait dengan kata Nazareth dan Yesus biasa disebut Yesus orang Nazaret.
Mat_2:23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.
Yoh_18:7 Maka Ia bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret."

Penyebutan nama Nasrani dalam Kis 24:5 terjadi di hadapan Feliks oleh pengacara Tertulus mewakili imam besar Ananias dan tua-tua Yahudi (Kis 24:1). Tuduhan Tertulus, Paulus adalah penyakit sampar yg telah menyebabkan kekacauan diantara orang Yahudi dan pada ayat 6 Paulus juga dituduh melanggar kekudusan Bait Allah. Jika kita perhatikan datanya secara kronologis, pemberitaan Paulus kepada orang Yahudi bahwa Yesus Sang Mesias memang menimbulkan reaksi penolakan orang Yahudi yg tdk percaya (Kis 21:28-30). Namun oleh Zuma dkk diputarbalikan faktanya bahwa Paulus dianggap telah melakukan penyesatan dengan melahirkan Kristen padahal konteksnya terkait kata "Nasrani".

Dalam jawaban Paulus terhadap Tertulus, selain membantah tuduhan Tertulus, dia menegaskan bahwa dia menganut Jalan Tuhan yaitu percaya Yesus Sang Mesias dan menegaskan dia juga percaya pada Taurat & kitab para nabi.
Kis 24:14 Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi.

Paulus menyebut nama "Jalan Tuhan" sedangkan orang Yahudi menyebut "Nasrani" kemudian di Antiokhia digunakan nama "Kristen" untuk kelompok/komunitas pengikut Yesus. Ini hanyalah penyebutan "nama" tetapi substansinya semua nama itu merujuk pada kelompok/komunitas yg sama. Upaya Zuma dkk mendikotomikan Nasrani dan Kristen jelas spekulatif seperti dalam teori-teori konspirasi.

Bagaimana dengan sekte Nasrani di era bapa-bapa gereja? Saya akan menguraikan hal ini secara ringkas. Pihak polemikus mencoba membangun pembenaran dengan teori mereka dengan mengatakan pengikut Yesus yg asli itu tetap eksis sampai di era bapa-bapa gereja. Defenisi mereka atas kelompok ini yaitu orang-orang Yahudi yg mengakui Yesus sebagai nabi tetapi bukan Ilahi, tetap disunat dan menjalankan Taurat.

Dari tulisan patristik penyebutan kata Nasrani (nazarene) tidak ditemukan sebelum era Epifanus atau akhir abad ke-4. Pertama kali disebutkan Epifanus dalam bukunya Panarion (the Refutation of All Heresies) 374-376M. Data dari Panarion 29 menunjukan bahwa Nazarene merujuk kepada orang-orang Yahudi pengikut Yesus yg masih menjalankan Taurat, disunat, memelihara sabat, menerima PB disamping PL namun dalam hal Kristologi mereka tdk berbeda dengan kekristenan. Hal senada juga dinyatakan oleh Jerome ".. "They believe in Christ, the Son of God, born of Mary the Virgin, and they say about him that he suffered under Pontius Pilate and rose again" (Epis. To Augustine, 112,13).

Memang ada orang Yahudi yg percaya Yesus tetapi tdk menerima konsep keilahian Yesus sebagaimana diimani oleh Nazarene dan kekristenan. Mereka disebut "Ebionites", mereka bukan "Nasrani" dan kemunculannya nanti di akhir abad ke-2. Tetapi pemahaman mereka tentang Yesus juga berbeda dengan apa yg dinarasikan Zuma dkk karena pemahaman mereka khas gnostik yaitu Yesus manusia diadopsi Roh Allah menjadi ilahi atau penghulu malaikat yg berinkarnasi.

Tidak ada data menunjukan adanya orang-orang Yahudi yg percaya di abad pertama sd akhir abad ke-2 yg menolak keilahian Yesus. Data dari Justin Martyr (100-165M) saat dia berdialog dgn orang Yahudi yg tdk percaya bernama Trypho justru menunjukan orang-orang Yahudi abad awal telah menerima keilahian Yesus.
"But if some, even now, wish to live in the observance of the institutions given by Moses, and yet believe in this Jesus who was crucified, recognising Him to be the Christ of God, and that it is given to Him to be absolute Judge of all, and that His is the everlasting kingdom, can they also be saved? "he inquired of me." (Dialogue with Trypho the Jew, 46:1)

Dari berbagai data yg ada, konsep polemikus muslim bahwa Nasrani adalah pengikut Yesus yg asli yg tdk menerima keilahianNya, jelas tidak memiliki dukungan data dan spekulatif.
Share:

Farisi Kelompok Penyesat Kekristenan?

Ustad Zuma salah satu polemikus muslim yang cukup komprehensif mengulas kekristenan dari perspektif polemik. Apalagi ditambah retorika yang fasih menarasikan argumentasinya sehingga kesannya cukup meyakinkan bagi para pendengar seperti dalam debatnya vs Elia Myron. Namun jika dicermati banyak argumentasinya yang lemah karena didasarkan data yang kurang akurat, tidak sesuai konteks historis bahkan kontradiktif. Kita akan mengkaji secara cermat argumentasinya melanjutkan tulisan pertama.

Dalam tulisan sebelumnya kita telah membantah argumentasinya yg beranggapan Kristen pertama kali muncul di Antokhia berbeda dengan pengikut Yesus sebelumnya di Yerusalem. Termasuk argumentasinya yang mempersoalkan kelompok bersunat di Antiokhia adalah musuh pengikut Yesus yang "asli" di Yerusalem. Data menunjukan bahwa pelayanan di Antiokhia telah ada sebelum Paulus tinggal di Antiokhia, Barnabas sebagai utusan pimpinan gereja di Yerusalem telah memverifikasi keberadaan pengikut Yesus di sana dan data paling utama pelayanan Paulus telah diterima oleh para rasul dalam sidang Yerusalem, termasuk tidak mempermasalahkan para pengikut Yesus non Yahudi untuk tidak disunat.

Seorang netizen muslim memberi reaksi terhadap tulisan pertama dengan mengatakan: "...Nah, jelas sudah sekarang. Kristen bukanlah pengikut Yesus. Kristen adalah pengikut Paulus dan Barnabas. Karena Yesus sendiri tidak pernah menyebut Kristen untuk para pengikutnya. Pada ayat 26 di atas disebutkan”……..untuk pertama kalinya disebut Kristen” yang berarti sebelumnya (pada masa Yesus hidup) belum pernah ada istilah Kristen.."

Netizen itu sepertinya tidak mencermati tulisan pertama atau memang tidak mau memahaminya. Padahal begitu jelas diuraikan, penyebutan "Kristen" hanyalah terminologi yg ditujukan kepada sebuah "kelompok/komunitas" pengikut Yesus dan penyebutannya bermula di Antiokhia. Namun sejatinya kelompok ini sudah ada sebelumnya, ada yg menyebutkan "Jalan Tuhan" atau nama umum "Gereja" bahkan oleh orang-orang Yahudi yg tdk percaya menyebut "Sekte Nasrani" (Kis 24:5). Menurut Zuma, Nasrani adalah sekte Yahudi pengikut Yesus yang "asli" melawan Kristen yang "tidak asli". Ustad Kainama menyebutnya Kristen itu sekte dari sekte Yahudi. Kita akan bahas secara khusus di tulisan berikut tentang sekte Nasrani (nazarene, nasarah).

Yesus memang tidak menyebut nama pengikutnya sebagai "Kristen" termasuk nama "Nasrani", "Jalan Tuhan" dll karena memang tdk ada penyebutan spesifik nama kelompok pengikutNya. Pada masa Yesus pada murid dan pengikutNya yg lain, hanya disebut sebagai "Pengikut Yesus". Nanti setelah pengikut Yesus mulai berkembang menjadi komunitas yg lebih besar maka mulai ada penyebutan nama untuk kelompok/komunitas ini.

Ok sekarang kita lanjutan pembahasan kita atas argumentasi Zuma, yaitu poin "Farisi". Zuma menarasikan bahwa Kristen yang ada di Antiokhia adalah orang Farisi demikian juga Paulus dikenal sebagai orang Farisi (Kis 26:5). Zuma mencoba membangun sebuah konsep rivalitas antara kelompok pengikut Paulus atau orang Farisi yaitu Kristen di Antiokhia melawan pengikut para rasul yaitu Nasrani. Farisi dinarasikan sebagai penyesat keristenan yang mengajarkan Yesus yang ilahi, menolak Taurat, tidak mau menjalankan sunat dan lain-lain. Padahal justru Farisi adalah salah satu kelompok Yahudi selain Saduki, Zelot dll yang menolak Yesus termasuk keilahianNya. Disinilah letak kontradiksinya yang sangat jelas.

Mari kita lihat data yg melimpah tentang Farisi yang justru menolak Yesus.
Mar 8:11 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.
Luk 15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
Yoh 8:13 Kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar."

"All we can say for certain is that they weren’t priests, and the term rabbi was not yet commonly used. They were teachers and interpreters of the Torah, “a scholar class dedicated to the supremacy of the twofold Law, the Written and the Unwritten”. Bell, A. A. (1998). Exploring the New Testament world (33). Nashville: T. Nelson Publishers.
"considered the most authoritative in their explanations of the Law and esteemed as the leading sect”, Josephus, wars of the jews, 2:162

Zuma mungkin akan menjawab balik bahwa Farisi yang dimaksudkan di sini yaitu Farisi pengikut Yesus. Namun konsep yg dibangunnya juga keliru.
Kis 15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."
Coba kita cermati Kis 15:5 sangat jelas menyebutkan bahwa orang Farisi yang percaya Yesus justu mengajarkan bahwa Taurat dan Sunat diwajibkan untuk orang-orang non Yahudi. Bukankah ini kontradiksi dengan konsep Zuma dkk bahwa Farisi termasuk Paulus mengajarkan orang untuk tidak disunat.

Jika kita cermati latar belakang munculnya sidang Yerusalem yaitu adanya pengajaran orang Farisi yang percaya, mereka mewajibkan orang-orang non Yahudi untuk disunat dan menjalankan Taurat, yang justru ditentang oleh Paulus & Barnabas.
Kis 15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
Kis 15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.

Jadi jelaslah point tentang "Farisi" ini adalah upaya pemutarbalikan fakta yang dilakukan Zuma dkk.
Share:

Berkat Abraham untuk Semua Bangsa melalui Kristus

Janji Allah kepada Abraham bahwa dari keturunannya semua bangsa akan mendapat berkat.

Kej 22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."

Janji ini akan diwujudkan melalui kedatangan Sang Mesias yang akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa
Yes 42:6 "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,

Janji ini kemudian digenapi oleh Yesus sebagai Sang Mesias
Gal 3:14 Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

Jika kita percaya pada Kristus maka kita akan menerima janji itu.
Gal 3:29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

Masih banyak lagi ayat-ayat dlm Bible yang menunjukan, janji Abraham merujuk akan datangnya Mesias melalui bangsa Israel sebagaimana juga disampaikan para nabi setelah Abraham seperti Yesaya dll dan ini digenapi oleh Yesus. Polanya jelas bahwa PL berintikan janji Allah akan datangnya Sang Mesias dan kisah perjalanan bangsa Israel tempat akan lahirnya Mesias dan menurut kekristenan bahwa PB berisi penggenapannya.

Maka akan menjadi diskusi menarik memahami konsep Abrahamic Faith (Judaism, Christianity & Islam) dari perspektif kekristenan. Apakah janji berkat untuk "semua bangsa" berkaitan dengan semua tiga agama besar ini?
Share:

Kristen bukan pengikut Yesus mula-mula?

Berbagai potongan video debat Elia Myron vs Ustad Zuma tersebar di Youtube yang memberi kesan keunggulan Zuma atas Myron. Salah satu videonya berisi pandangan dan argumentasi Zuma yang menyatakan Kekristenan bukanlah pengikut Yesus mula-mula. Menurutnya Kristen itu lahir di Antiokhia yang terdiri atas orang-orang kafir dan tidak bersunat yg didirikan oleh Paulus dan pengikutnya. Berbeda dengan pengikut Yesus di Yerusalem yang terdiri atas orang-orang bersunat dan jemaat ini didirikan oleh Petrus.

Pendapat Zuma ini pandangan lama dari para polemikus muslim yang berpendapat bahwa kekristenan bukanlah ajaran asli Yesus, dalam Islam dikenal sebagai nabi Isa. Kekristenan dianggap didirikan oleh Paulus yang telah menyesat umat Kristen.

Kita akan menanggapi hal ini secara ringkas, kita mulai dulu dari penyebutan "Kristen" untuk pertama kalinya.
Kis 11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Kata yang digunakan Χριστιανός (Christianos) arti leksikalnya menurut Strong yaitu a Christian, that is, follower of Christ: - Christian. Akar katanya dari Christos atau Kristus yaitu gelar yang diberikan kepada Yesus sebagai Sang Mesias (Ha-masiah). Penyebutan Yesus sebagai Kristus telah ada dalam Injil karena memang Dialah Sang Mesias yang telah dinubuatkan. Memang di Antiokhia pertama kali penyebutan terminologi Christianos (Kristen) untuk sebuah "kelompok/komunitas" pengikut Kristus. Namun sebenarnya keberadaan kelompok ini telah ada sebelumnya yang dimulai dari Yerusalem.

Sebuah komunitas atau kelompok yang terbentuk secara alamiah akan mendapatkan nama entah dari mereka sendiri atau dari pihak lain yang menyebut nama kelompok tsb. Kelompok pengikut Kristus ini juga memiliki nama lain yaitu Jalan Tuhan (this way). Kis 22:4 Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati...
Para penguasa saat itu ada yang menyebut Jalan Tuhan misalnya oleh Feliks dan ada juga menyebut Kristen misalnya oleh Agripa.
Kis 24:22 Tetapi Feliks yang tahu benar-benar akan Jalan Tuhan,
Kis 26:28 Jawab Agripa: "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!"

Namun selanjutnya nama yang populer yaitu Kristen sebagaimana bisa dilihat dalam surat-surat di PB seperti tulisan Paulus dan Petrus serta data sejarah jemaat mula-mula.
1 Pet 4:16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Ustad Zuma mencoba membedakan antara pengikut Yesus di Antiokhia yaitu orang-orang kafir yg tdk bersunat sedangkan di Yerusalem adalah orang-orang Yahudi yg bersunat. Jelas ini asumsi tanpa dukungan data karena pengikut Kristus di Antiokhia juga orang-orang Yahudi yg bersunat . Dalam Kis 6;5 tentang pemilihan orang yg melayani meja, disebutkan salah satunya orang Yahudi dari Antiokhia "..seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia".

Sekarang mari kita lihat kronologis penginjilan yang dilakukan di Antiokhia. Misi penginjilan awalnya masih difokuskan pada orang-orang Yahudi.
Kis 11:19 "Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja"
Kemudian juga ke orang non Yahudi
Kis 11:20 ... juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dampak dari penginjilan ini terjadi banyak pertobatan dari orang non Yahudi di kota ini. Apakah munculnya pengikut Kristus non Yahudi ini oleh penginjilan Paulus? Jelas tidak karena pada tahap ini Paulus belum terlibat dalam misi penginjilan. Lalu bagaimana reaksi pengikut Kristus di Yerusalem yang dipimpin para rasul Petrus, Yohanes dan Yakobus? Mereka mengirim utusan yaitu Barnabas untuk melakukan Check & Recheck dan Barnabas justru bersukacita akan hal ini.

Kis 11:22 Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.
Kis 11:23 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,

Selanjutnya Barnabas mengajak Paulus yang mereka tahu telah bertobat untuk bersama mengajar di Antiokhia dan kemudian kelompok/komunitas pengikut Kristus di kota ini baik orang Yahudi atau non Yahudi disebut sebagai Kristen.
Kis 11:25 Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
Kis 11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Ustad Zuma mencoba mempersoalkan masalah sunat dari pernyataannya bahwa Kristen yg didirikan Paulus adalah orang-orang kafir yang tdk disunat. Namun masalah tidak disunatnya orang-orang non Yahudi, bukanlah persoalan bagi para rasul. Dalam sidang Yerusalem jelas diputuskan bahwa sunat tidaklah diwajibkan untuk orang-orang non Yahudi. Tidak hanya itu dalam sidang itu, ditegaskan bahwa keselamatan adalah kasih karunia Yesus sebagaimana disampaikan oleh Petrus. Maka jelas pengajaran Paulus tidak bertentangan dgn para rasul malah diteguhkan oleh mereka.

Ustad Zuma memberi kesan bahwa Paulus adalah musuh para rasul karena telah menyampaikan ajaran yg menyimpang, tetapi data justru berkata lain. Paulus justru disambut baik oleh para rasul di Yerusalem.
Kis 15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.

Demikian juga saat pertemuan Paulus dengan mereka di Galatia. Para rasul berkenan dengan Paulus untuk fokus memberitakan injil kepada orang-orang yang tidak bersunat.
Gal 2:9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

Dari uraian ini kita bisa tegaskan bahwa asumsi ustad Zuma jelas tidak mendasar. Penyebutan Kristen di Antiokhia hanyalah penyebutan "nama" untuk kelompok atau komunitas pengikut Kristus yang telah ada sebelumnya di Yerusalem kemudian ke Antiokhia dan sampai ke ujung bumi.
Share:

Perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak

Kej 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Kej 12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Kej 17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
Kej 17:19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
Kej 17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
Kej 17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."

Menachem Ali tak henti-hentinya berupaya mengangkat status "Ismael" bahkan melebihi posisi sebenarnya. Beberapa detail tertentu pendapatnya cukup tepat misalnya Ismael selain Ishak juga diakui sebagai anak Abraham dibandingkan anak Abraham lainnya dari Keturah serta kritikannya terhadap pemahaman beberapa penafsir Kristen yang terlalu memberi stigma negatif terhadap Ismael sebagai "keledai liar". Beberapa detail lainnya masih debatable seperti Hagar diklaim sebagai putri Firaun dll. Tetapi hal-hal yang disampaikan itu tidaklah substansial berkaitan dengan janji Allah kepada Abraham untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Teks Kej 17:18-21 di atas berisi dialog Allah dengan Abraham. Allah menyatakan Sara istrinya akan mengandung namun respon Abraham sepertinya biasa saja bahkan tertawa karena dia berpikir Sara sudah tua dan tidak mungkin mengandung. Abraham lalu menyebut Ismael untuk memberi kesan bahwa anaknya sudah ada untuk menjawab janji Allah bahwa keturunannya akan banyak dan bangsa-bangsa akan diberkati (Kej 12:2-3, 17:4). Sebenarnya tindakan Abraham mengambil Hagar adalah upaya Abraham bersama Sara mencoba memberi solusi agar janji Allah itu bisa terwujud karena Sara diangggap tidak mungkin lagi melahirkan.

Namun Allah menjawab bahwa bukan Ismael melainkan anak yang akan dilahirkan Sara yaitu Ishak adalah anak perjanjian. Pernyataan Allah ini sangat telak membungkam segala opini yang ingin dibangun Menachem Ali yang coba mengangkat Ismael setara atau melebihi Ishak dalam konteks janji Allah itu.

Memang Allah juga memberkati Ismael bahwa keturunannya juga akan banyak tetapi berkat Allah kepada semua bangsa-bangsa hanyalah melalui keturunan Ishak. Janji ini terwujud dengan datangnya Sang Mesias dari keturunan Ishak untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Yes 42:6 "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
Gal_3:16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.

Berdasarkan data sejarah keturunan Ismael banyak tersebar di wilayah antara sungai Mesir sampai dengan sungai Efrat atau dari Sinai sd ke Babilonia. Pada abad-abad awal daerah ini dikenal sebagai wilayah Arab Petraea. Diskusi melacak jejak keturunan Ismael sudah banyak dilakukan via youtube secara berbalasan dengan Menachem Ali. Namun apapun kesimpulan yang didapatkan, semuanya tidaklah substansi berkaitan dengan janji Allah untuk berkat bagi bangsa-bangsa. Janji Allah kepada Ismael hanya sebatas janji fisik keturunan Ismael akan menjadi bangsa yang besar. Perhatikan ini hanya berbicara tentang "bangsa" dan bukan sebuah "agama" dan hal ini sinkron dengan isi Tanakh/PL yang berisi sejarah pewahyuan Allah yg berpusat di bangsa Israel sebagai keturunan Ishak dan puncaknya dengan kedatangan Sang Mesias yaitu Yesus.
Share:

Dimanakah di Alkitab, Yesus mengatakan Akulah Tuhan Sembahlah Aku?

Ini adalah pertanyaan jadul yg diajukan polemikus Islam sejak Ahmed Deedat & dipopulerkan muridnya Zakir Naik. Pertanyaan2 teologis seperti ini byk dilontarkan para polemikus dan biasanya mengambil point2 argumentasi dr Saksi-saksi Yehovah utk menanggapi jawaban2 dr pihak Kristen. Jika para polemikus kewalahan dalam adu argumentasi, mereka akan melompat ke masalah otentitas Bible yang berisi teks yg sedang dibahas. Pada topik ini argumen2 yg digunakan banyak merujuk pada tulisan/pendapat liberal scholars.

Selanjutnya mulai ada variasi pendekatan dr pihak polemikus yaitu masuk ke ranah kritik teks yang umumnya mengacu pada tulisan Bart Ehrman. Ada juga polemikus tertentu yg sibuk mempelajari berbagai dokumen extrabiblikal terutama literatur rabbinik dgn agenda mencari point2 yg menjustifikasi posisi Islam dan sebaliknya menyerang kekristenan.

Belum lama ini di status FB saya tentang "kemuliaan Yesus" ada polemikus yg melontarkan pertanyaan serupa. Sudah cukup lama saya tdk melihat pertanyaan seperti ini dan ternyata ada regenerasi polemikus baru yg kembali mengulang2 pertanyaan seperti ini yg sebenarnya telah dijawab berulang2 pihak Kristen.

Dia menanyakan dimanakah di Alkitab Yesus mengatakan Akulah Tuhan. Saya menjawabnya secara singkat dgn mengutip salah satu ayat di kitab Wahyu dan Quran.
Why 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.
QS Al Hadiid 3 Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tadinya saya mengira dia akan mempersoalkan ayat dlm kitab Why itu bahwa hal itu tidak dimaksudkan sebagai pernyataan keilahian. Misalnya menanggapi Yoh 10:30 Aku dan Bapa adalah satu, diartikan bahwa satu itu adalah satu tujuan bukan satu hakekat. Contoh lainnya menanggapi pengakuan Thomas Yoh 20:28 Ya Tuhanku dan Allahku, hanya ungkapan kekagetan semata. Tetapi polemikus itu langsung meloncat ke fase berikutnya yaitu mempersoalkan otentitas kitab Wahyu. Masalah otentitas kitab Wahyu belum dibahas dalam tulisan ini.

Kemungkinan karena adanya kutipan ayat Quran yang tertulis "yang Awal dan yang Akhir" yg merujuk ke Allah, sehingga dia kesulitan membantah teks dlm kitab Wahyu itu sebagai bukan pernyataan keilahian. Maka bantahannya, itu bukan perkataan Yesus tetapi Yohanes berdasarkan mimpi.

Saya kemudian mengutip Why 1:1 yg menyebutkan bahwa apa yg dikatakan Yohanes adalah wahyu dari Yesus sendiri.
Why 1:1 Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.

Dan menanggapi pointnya bahwa perkataan Yohanes itu hanya berdasarkan mimpi, saya mengutip tulisan dari sebuah website Islam tentang proses pewahyuan dan penulisaan Quran yang menyebutkan kata "mimpi". ".. Dalam beberapa hadis, Rasulullah membeberkan bagaimana suasana batin saat wahyu itu turun kepada dirinya. Kadang Nabi Saw terasa seperti mendengar bunyi lonceng yang sangat kencang, atau Malaikat Jibril terasa seperti berbisik dalam sukmanya, dan tidak jarang pula didatangi langsung Malaikat Jibril sebagaimana dalam peristiwa di Gua Hira dan Isra Mi’raj. Kadang pula Rasulullah menerima wahyu dalam keadaan tidur melalui mimpi..". Source: https://muhammadiyah.or.id/sejarah-singkat-al-quran-perjuangan-para-sahabat-nabi-menjaga-firman-allah/

Serta mengutip ayat dlm Quran, Al Israa 60. Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak menjadikan mimpi[859] yang telah Kami perlihatkan kepadamu,...

Sampai di sini si polemikus sudah tidak memberikan poin baru lagi dlm argumentasinya kecuali mengulang2 pernyataan sebelumnya. Point "mimpi" yg digunakan utk menyerang kitab Wahyu akhirnya berbalik menyerang dia sendiri setelah ditunjukan adanya "mimpi" dalam proses pewahyuan Quran.

Kembali ke pertanyaan lama yg jadi judul tulisan ini, pihak apologis Kristen sudah lama menjawabnya dan saat ini saya coba memberikan jawaban dr perspektif lain.

Setting historis kondisi masyarakat Yahudi pada saat Yesus datang ke bumi memiliki paham monotheisme yaitu Shema: YHWH (Adonai) sebagai Allah (Elohim) yg esa (Ul 6:4). Dalam PB yg dituliskan dlm bahasa Yunani kata Elohim padanannya Theos, sedangkan kata YHWH dlm PL diberi nama pengganti Adonai yg keduanya digunakan kata Kurios dlm PB. Kata Elohim sebagai kata generik sejajar dgn kata Allah & God. Kata Allah kadangkala merujuk ke Bapa selain sebagai kata generik/gelar keilahian.

Jika dituntut dimanakah Yesus mengatakan Akulah Tuhan Sembahlah Aku, maka pernyataan eksplisit seperti itu tentulah tanpa makna yg berarti jika tidak disertai tindakan atau sikap yg mendukung pernyataan itu. Misalnya jika ada seseorang yg berkata di jalanan, Akulah Tuhan sembahlah Aku, maka reaksi orang akan menganggap itu orang gila dan menertawakannya.

Yesus justru memberikan pengajaran2 yg mendalam termasuk berbagai tindakan yg akan membuat orang Yahudi berpikir bahwa apa yg diajarkan berkaitan dgn diriNya adalah pernyataan keilahian. Para murid pada masa awal pelayanan Yesus tentu tidak menganggap Yesus sebagai pribadi Ilahi melainkan sebatas nabi atau mesias saja. Namun seiring waktu mereka mulai mengenal bahwa Yesus bukanlah hanya manusia biasa tetapi lebih dari itu.

Mari kita lihat salah satu episode yg menunjukan para murid mulai memahami bahwa Yesus bukanlah hanya sebatas nabi tetapi lebih dari itu.
Mar 4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
Mar 4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
Mar 4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Tindakan Yesus memerintahkan badai berhenti jelas hanya bisa dilakukan Allah seperti tertulis dlm PL.
Maz 107:29 dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang.
Maz 104:7 Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri..

Puncak pengenalan murid terhadap Yesus sebagai Pribadi yg Ilahi terjadi pasca kebangkitanNya. Sebagaimana ungkapan Thomas, Yoh 20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!". Jika Yesus bukanlah Tuhan dan Allah maka Dia akan mengoreksi pernyataan Thomas tetapi sebaliknya Dia meneguhkannya. Upaya bantahan dari pihak polemikus Islam termasuk pihak unitarian & SSY bahwa itu hanya seruan kekagetan jelas tdk tepat. Frans Donald memberikan contoh saat kita melihat Tsunami akan spontan berkata "Ya Allah" yg tdk berarti Tsunami itu Allah. Bantahan ini tdk sesuai dgn konteks budaya saat itu yaitu tidak ada penyebutann nama2 Ilahi utk ungkapan2 kekagetan. Bukankah sangking sakralnya nama YHWH sehingga mereka menghindari menyebutnya dan menggantikan dgn Adonai atau Hashem.

Sebelum Yesus naik ke surga, para murid datang menyembah Dia dan Yesus tdk menolak penyembahan itu. Memang ada yg masih ragu2 kemungkinna diantara 70 murid di luar dari 11 murid yg ada minus Yudas. Maka Yesus memberi penegasan bahwa segala kuasa telah diberikan kepadaNya.
Mat 28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
Mat 28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Ada yg coba membantah bahwa kuasa itu hanya diberikan, tetapi masalahnya yg "diberikan" itu adalah "segala kuasa" yg hanya dimiliki Allah. Apakah itu berarti Tuhan sedang menciptakan Tuhan yg baru? jelas tidak, tetapi itu adalah deklarasi tentang kuasa Yesus yg sebenarnya telah Dia miliki (Fil 2:6-8).

Berbagai pengajaran dan tindakan Yesus jelas telah "berbicara" banyak bahwa Dia adalah llahi dan Dia tidak menolak penyembahan kepada Dia. Maka ada 2 kemungkinan respon dari para pendengar, pertama yaitu para murid dan mereka yg percaya kepadaNya akan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Allah. Sebaliknya mereka yg tdk mau percaya seperti para Ahli Taurat akan beranggapan itu sebuah penghujatan.

Perhatikan respon orang2 Yahudi yg tdk percaya.
Yoh 10:32 Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?"
Yoh 10:33 Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."

Pengajaran Yesus begitu jelas dipahami oleh orang Yahudi sebagai pernyataan bahwa dia setara dengan Allah. Kata Allah yg dalam ayat ini merujuk kepada Allah Bapa, sehingga jelas ada 2 pribadi berbeda di sini yaitu Bapa dan Yesus dan kedua2nya setara. Point ini sekaligus membantah pemahaman pihak Oneness bahwa Bapa dan Yesus adalah satu pribadi.

Ayat lain yg menunjukan Yesus juga telah "berbicara" melalui tindakanNya bahwa Dia itu Ilahi.
Yoh_5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Puncak penolakan mereka atas pernyataan Yesus secara implisit bahwa Dia itu Ilahi terjadi saat pengadilan terhadap Dia.
Mat 26:63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."
Mat 26:64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."
Mat 26:65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
Mat 26:66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!"

Ungkapan ini menggemakan teks dalam PL seperti Daniel 7:13-14 yg juga terdapat dalam Dead Sea Scrolls. Pernyataan Yesus ini bagi imam besar jelas dipahami sebagai pernyataan keilahian Yesus yg menyebabkan Dia dihukum mati.

Selanjutnya kita akan menjumpai dari kitab-kitab berikutnya setelah Injil seperti Wahyu, Ibrani dll yg sangat jelas menyatakan tentang keilahian Yesus dan hanyalah Dia disembah selain Bapa.
Why 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.
Ibrani 1:6 Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."

Maka berbagai pengajaran dan tindakan Yesus telah "berbicara" banyak bahwa Dia Ilahi dan layak disembah.
Share:

Kemuliaan Yesus

Yes 42:8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.

Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Kedua ayat ini akan terlihat kontradiksi bagi mereka yg beranggapan Yesus adalah ciptaan. Sebaliknya mereka yg percaya Yesus adalah Tuhan kedua ayat ini justru sinkron. Jika Yesus hanyalah ciptaan maka permintaan Dia kepada Bapa untuk dipermuliakan (Yoh 17:5) jelas sebuah pelanggaran yg serius.

Bandingkan dengan Iblis yang tidak memintanya langsung namun mempuyai keinginan untuk mendapat kemuliaan itu.
Yes 14:14 Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Iblis justru dilemparkan dan diusir dari surga
Why 12:9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya
Luk 10:18 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.
Share:

Kenaikan Yesus Kristus sebagai Proklamasi Yesus sebagai Tuhan atas Alam Semesta

Kis 1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.

Hari kenaikan Yesus Kristus tidaklah begitu populer di kalangan Kristen dibanding Hari Natal & Paskah. Namun sebenarnya makna kenaikan Yesus tidaklah kalah penting dibanding Natal & Paskah. Jika Natal kita menghayati peristiwa Allah menjadi manusia dan mulai menjalankan misi penyelamatan manusia puncaknya dengan mati di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa. Paskah sebagai peringatan kemenangan Yesus atas maut, maka Kenaikan Yesus sebagai tanda selesainya tugasNya di bumi dan sebagai proklamasi Yesus sebagai Tuhan atas seluruh makhluk.

Kesemua peristiwa ini teringkas dalam hymne jemaat mula-mula sebagaimana ditulis Paulus dalam Fil 2:6-11
Php 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
Php 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Php 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Php 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
Php 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
Php 2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Para murid awalnya mengenal Yesus sebagai sang Mesias dan sama seperti para nabi-nabi sebelumnya. Namun seiring waktu mereka semakin mengenal bahwa Dia tidak hanya sekedar nabi tetapi sebagai yang ilahi. Puncaknya lewat pernyataan Thomas sesudah kebangkitanNya "Ya Tuhanku dan Allahku" (Yoh 20;28). Pada masa-masa akhir sebelum Dia naik kesurga, para murid sujud menyembah kepadaNya padahal penyembahan hanyalah untuk Allah. Yesus tidak menolak, berbeda dengan sikap para rasul seperti Paulus & Petrus menolak disembah termasuk malaikat juga menolak disembah.

Luk 24:51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.
Luk 24:52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.

Mat 28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
Mat 28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Dalam catatan Matius, menyebut ada beberapa orang ragu-ragu yg oleh beberapa penafsir, kemungkinan diantara para murid di luar dari kesebelas murid utama. Saat Dia disembah Dia tidak menolak justru meneguhkan bahwa Dia berkuasa di sorga dan di bumi atau Tuhan atas alam semesta.

Rasul Petrus kembali menyatakan hal ini dalam suratNya bahwa semuanya takluk kepadaNya.
1 Pet3:22 yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.
Penggunaan idiom "sebelah kanan Allah" tidaklah dipahami secara literal karena substansi Allah adalah Roh. Idiom itu sebagai metafora atas posisi Yesus sebagai Allah selain Allah Bapa dan juga Roh Kudus.

Di hadapan Kayafas saat Dia diadili, Yesus juga menggunakan idiom "sebelah kanan Yang Mahakuasa".
Mat 26:64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit."
Mat 26:65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
Orang Yahudi paham makna idiom ini, makanya Kayafas bereaksi keras dengan mengoyakkan pakaiannya, karena dianggap Yesus melakukan penghujatan.

Ungkapan Yesus itu, menggemakan teks dalam kitab Daniel
Dan 7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
Dan 7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Teks ini pada masa era the Second Temple Judaism dipahami sebagai Sang Mesias yang ilahi dikenal juga dengan konsep "the two power in heaven". Hal serupa juga ditemukan dalam teks-teks Qumran atau dikenal sebagai dokumen laut mati (Dead Sea Scrolls). Teks DSS 4Q246 "He will be called son of God, and they will call him son of the Most High. .... His kingdom will be an eternal kingdom, and all his paths in truth. He will jud[ge] 6 the earth in truth and all will make peace.."

Konsep ini kemudian di era rabbinik ditolak dan dianggap sebagai bidat (min), karena konsep ini senada dengan pernyataan Yesus. Anggapan konsep ini sebagai bidat didorong motif apologetik pihak Yudaisme melawan kekristenan. Tetapi yang jelas berbagai pengajaran Yesus mengakar atau mengacu pada PL/Tanakh baik sebagai penggenapan atas nubuatan atau sebagai tipologi. Hal ini juga dikonfirmasi dari tradisi Yahudi awal sebelum era rabbinik.

Yah, jelaslah bahwa hari kenaikan Yesus Kristus merupakan hari proklamasi bahwa Yesus adalah Tuhan atas alam semesta.
Selamat Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Share:

Polemik Identitas Kearaban

Beberapa waktu lalu saya & Menachem Ali cukup intens mendiskusikan perihal identitas kearaban. Belakangan ini Menachem Ali mencoba mengangkatkan kembali masalah ini malah telah & sedang menuliskan buku-buku tentang hal ini. Beberapa pointnya disajikan kembali dalam tulisan di FB dan yg menarik tulisannya mendapat reaksi dari Mun'im Sirry setelah M Ali dalam tulisannya menyebut diksi "nalar revisionis".

Point utama dari Menachem Ali masih seputar diskusi kami sebelumnya yaitu dia mencoba mengasosiasikan secara eksklusif Arab dengan Ismail, sehingga identitas kearaban menurut dia merujuk pada etnik atau jalur nasab tertentu khususnya keturunan Ismail. Referensi terbaru M Ali mengambil rujukan dr teks Peshitta (Aramaik), sebelumnya dia biasa mengambil sumber dari literatur rabbinik seperti tulisan rabbi Saadia Gaon (Rasag) & Talmud, penulis2 Kristen awal seperti Jerome dan terutama tulisan Joshepus.

Point utama ini telah saya kritik dlm diskusi kami, karena menurut saya pengasosiasian Arab dgn Ismail tidak berarti bahwa Arab itu eksklusif keturunan Ismael. Data biblikal & extrabiblikal menunjukan bahwa Arab itu terdiri dari banyak suku tidak hanya keturuan Ismail, seperti keturunan Keturah, Esau, Joktan dll yg oleh scholars merujuk pada kumpulan suku-suku nomaden di semenanjung Arabia sebagaimana diuraikan cukup jelas oleh Munim Sirry. Memang keturunan Ismail yg lebih dominan terutama sejak eksisnya kerajaan nabataen merujuk ke suku Nebayoth yg sebelumnnya suku Ismail yg dominan seperti ditulis dlm Alkitab adalah suku Kedar. Hal ini telah dianalisis secara cermat oleh Israel Eph'al "... We have seen that there is no historical basis to the tradition of associating the Ishmaelites with the Arabs… A more definite identification of the Ishmaelites with the Arabs is found at a later stage, in Josephus's Antiquities of the Jews", "Ishmmael and Arab(s): A transformation of ethnological Terms, Journal of Near Eastern Studies , Tel Aviv University, Oct 1976.

Menariknya respon Mun'im Sirry melalui pendekatan historis mirip dgn posisi saya yaitu sama-sama menolak pendapat bhw identitas Arab merujuk ke etnik atau jalur nasab tertentu. Karena memang berbagai data historis extrabiblikal termasuk arkeologi tdk mendukung posisi Menachem Ali, termasuk dari rujukan scholars yg saya gunakan dalam studi ancient arabs seperti Jan Retso, Israel Eph'al. dll. Misalnya Retso menyatakan "... The fact that so many authors and scholars have thought that Arab means 'nomad' or that it may mean anything from camp to family may indicate that the word has a very vague meaning or that it indeed means nomad, i.e. it is a term for a way of living, The Arabs In Antiquity: Their History from the Assyrians to the Umayyads, RoutledgeCurzon, London and New York, 2003 page5

Saya menghargai berbagai tulisan akademik pak Mun'im yg mengelaborasi banyak data yg ada, maka dlm tulisan & kajian saya kontra Menachem Ali dlm konteks apologetik saya berupaya utk tidak membawa2 nama pak Mun'im. Hanya saja utk pembahasan tentang identitas kearaban kebetulan ada irisan yg sama posisi saya dengan pak Mun'im. Mohon maaf pak Mun'im telah menyebut nama anda dalam tulisan ini.

Dalam tulisan2 berikutnya saya akan coba mereview dan mengelaborasi kembali diskusi saya dgn Menachem Ali, khususnya data biblikal tentang identitas kearaban termasuk data extrabiblikal yg relevan.
Share:

Q&A: Polemics of Jesus' Resurrection & Hypostatic Union

Alkitab dengan jelas mengajarkan Yesus memiliki dua natur; ilahi & manusia. Dia melakukan mujizat dengan kuasaNya sendiri, mengampuni dosa yg hak itu eksklusif milik Allah, menerima penyembahan kepadaNya, memberi pernyataan "Aku berkata kepadamu" yg setara dengan firman YHWH dlm PL dll, kesemuanya itu menunjukan natur keilahianNya. Namun di sisi lain Dia bisa merasakan lapar, menangis bahkan mati yg menunjukan natur kemanusiaanNya. Para bapa gereja kemudian membuat rumusan untuk hal ini yg kemudian dikenal dengan nama Hypostatic Union atau kesatuan hipostatis yaitu Yesus memiliki 1 hypostatic (pribadi) dengan 2 natur.

Polemik tentang kebangkitan Yesus apakah Dia aktif dalam kebangkitanNya atau pasif banyak terkait dengan konsep hypostatic union ini. Pihak yg berdiskusi, umumnya dalam posisi Yesus "aktif & pasif" dalam kebangkitanNya, sedangkan lawan diskusinya dalam posisi Yesus "hanya pasif". Argumentasi standard dari posisi "aktif pasif" menyatakan Yesus dibangkitkan merujuk pada natur kemanusiaanNya sedangkan Yesus membangkitkan diriNya sendiri merujuk ke natur keilahianNya. Namun argumentasi standard ini mendapat respon dari pihak "hanya pasif", berikut ini respon atau pertanyaan mereka dan tanggapan baliknya dalam bentuk question & answer (Q&A).

Q: Natur tidak bisa mengalami kematian/kebangkitan, bukankah yang bisa mati/bangkit adalah pribadi?
A: Ya sepakat, yang bisa mengalami kematian adalah pribadi dan dalam hal ini pribadi Yesus dalam natur kemanusiaanNya yang mengalami kematian kemudian dibangkitkan oleh Allah Tritunggal termasuk oleh pribadi Yesus dalam natur keilahianNya membangkitkan diriNya sendiri.

Q: Karena Yesus sehakekat dgn Allah Bapa, apakah berarti Allah Bapa juga mengalami disesah, disalib dan mati seperti pribadi Anak?
A: Tidak, karena Allah Bapa tidak memiliki natur kemanusiaan, berbeda dengan Yesus. Pribadi Yesus dalam natur kemanusiaanNya jelas bisa disesah, disalib, bisa mati dan telah mengalami kematian namun pribadi Yesus dalam natur ilahi jelas tidak bisa mati, karena Tuhan tidak bisa mati. Rasul Petrus tegas menyatakan hal ini. 1 Pet 3:18 "... Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia...". Jelaslah pribadi Yesus sebagai manusia atau dalam natur kemanusiaanNya yg mengalami kematian.

Q: Bagaimana dengan kelahiranNya, apakah pribadi Anak terlibat aktif dalam kelahiranNya?
A: Tentu saja Dia juga aktif dalam kelahiranNya, bukankah Yesus memiliki pra eksistensi sebagai Logos yang kemudian pada saat Dia berinkarnasi natur kemanusiaan ditambahkan kepadaNya. Sebelum inkarnasi ada 1 pribadi dengan 1 natur dan setelah inkarnasi ada 1 pribadi dgn 2 natur.

Q: Paulus banyak menuliskan Yesus dibangkitkan sedangkan Yesus dianggap menyatakan akan membangkitkan diriNya sendiri, bukankah ini kontradiksi kecuali Yesus tidak bermaksud demikian?
A: Yesus sangat jelas menyatakan Dia akan membangkitkan diriNya sendiri (Yoh 2:19-21,10:17-18). Pembahasan detail teks2 ini akan dibahas tersendiri. Memang sekilas terkesan kontradiksi dan untuk merekonsialisasinya tidak berarti Yesus dianggap tidak mengajarkan kebangkitan "aktif" supaya sama dengan Paulus. Kedua hal itu "pasif" (Paulus) dan "aktif' (Yesus) sama-sama benar dan kesan kontradiksi itu dapat diselesaikan melalui konsep hypostatic union, seperti dijelaskan Richard Gaffin "..The Chalcedon formulation proves helpful here: The two natures co-exist hypostatically (in one person), without either confusion or separation; Jesus expresses what is true of his person in terms of his deity, Paul expresses what is no less true in terms of his humanity.". Redemption and Resurrection: An Exercise in Biblical-Systematic Theology, Testamentum Imperium, An International Journal, Volume I 2005-2007, page 5-6

Q: Bukankah hal ini bisa mengarah atau dalam bayang-bayang nestorianisme?
A: Tidak, karena nestorian mengajarkan adanya 2 pribadi atau 2 hypostatic yaitu Allah Firman dan manusia Yesus, seakan-akan posisi "aktif pasif" bermakna Allah Firman telah membangkitkan manusia Yesus. Kalau pandangan seperti itu, akan menunjukan adanya suatu pribadi (Allah Firman) yg membangkitkan pribadi yg lain (manusia Yesus). Namun konsep hypostatic union tidak seperti itu, lebih tepatnya pribadi dalam natur kemanusiaan yg mengalami kematian dan pribadi yg sama dlm natur keilahianNya membangkitkan diriNya sendiri. Untuk memudahkan kita memahami hal ini, kita bisa lihat perbandingannya dgn Yesus yg berkuasa menciptakan makanan namun pada saat bersamaan Dia sebagai manusia merasakan lapar. Kondisi ini terjadi hanya pada satu pribadi Yesus yg memiliki natur ilahi yg bisa menciptakan makanan dan saat bersamaan dalam natur manusia Dia merasakan lapar. Contoh lain, sebagai manusia Yesus menangis atas kematian sahabat-Nya Lazarus namun sebagai Allah Dia berkuasa membangkitkan Lazarus dari kematian. Penjelasalan2 seperti ini telah diuraikan para bapa gereja seperti Leo yg menuliskan The Tome, Cyrillus - formula unions dll menghadapi ajaran Nestorius (ada 2 hypostatic) dan Eutyches (kedua natur bercampur) yg kemudian dirumuskan dlm konsep hypostatic union di konsili Chalcedon (451M).

Q: Karena Yesus sebagai manusia Dia sehakekat dgn kita maka seharusnya Dia tidak akan membangkitkan diriNya sendiri untuk menunjukan bahwa Dia memang sehakekat & solidaritas dengan kita?
A: Pribadi Yesus sebagai manusia memang sehakekat dengan kita, namun kita tidak boleh hanya fokus atau membatasi Yesus pada natur kemanusiaanNya saja karena Dia juga memiliki natur keilahiaan. Karena Yesus 100% sehakekat dengan manusia bahkan Dia telah mengalami kematian maka hal itu sudah cukup menunjukan Dia benar-benar sehakekat & solidaritas dengan kita manusia, tanpa harus ditambahkan Dia harus tidak menggunakan kuasaNya untuk membangkitkan diriNya sendiri. Saya kira kita harus hati-hati untuk tidak memaksakan logika berpikir kita melampaui data yang ada.

Q: Kebangkitan Yesus memang karya Allah Tritunggal, tetapi tidak semua pribadi dalam Allah Tritunggal melakukan hal yang sama, seperti dalam peristiwa penyesahan & penyaliban, Allah Bapa dan Roh Kudus tidak ikut terlibat. Demikian juga dalam kebangkitan Yesus, Yesus dalam posisi pasif sedangkan yang aktif adalah Allah Bapa & Roh Kudus?
A: Mengenai penyesahan & penyaliban sudah dijawab sebelumnya bahwa hal ini hanya dialami pribadi Anak karena dalam diriNya ada natur kemanusiaan. Namun diluar hal-hal yang hanya bisa dialami Yesus karena natur kemanusiaanNya, semuanya melibatkan semua Pribadi dari Allah Tritunggal. Dalam teologi dikenal istilah Perikoresis tentang karya bersama dari Allah Tritunggal (opera ad extra) yg juga telah digumulkan bapa gereja. Mereka tidak hanya menghadapi konsep unitarian dari Arius tetapi juga menghadapi 2 ekstrim berkaitan Allah Tritunggal, ekstrim pertama Triteisme yg terlalu menekankan ketigaan sehingga tergelincir pd konsep 3 Allah dan ekstrim kedua modalisme/sabelian yg terlalu menekankan keesaan sehingga tiga pribadi itu hanya topeng atau peran semata.

Bapa-bapa gereja Kapadokia (Gregorius dr Nazianzus, Gregorius dr Nyssa & Basilius dr Kaisarea) telah membantah kedua ekstrim ini. Gregorius dr Nyssa dalam bukunya Quod Non Sint Tres Dii sebagaimana ditulis Tony Lane dlm bukunya Runtut Pijar "... Kita tidak pernah mendengar bahwa Sang Bapa berbuat sesuatu sendiri tanpa kerja sama dengan Sang Anak. Demikian juga Anak tidak pernah bertindak sendiri tanpa Roh Kudus...". Maka konsep Perikoresis seperti yg ditunjukan dlm tulisan bapa-bapa gereja Kapadokia justru mendukung posisi "aktif pasif" bahwa Yesus sebagai bagian dari Allah Tritunggal juga terlibat aktif dalam kebangkitan tubuh manusiaNya.

Sebagai tambahan, penjelasan Geerhardus Vos & Richard Gaffin, tulisan & posisi keduanya sebelumnya telah salah dimengerti seakan-akan mereka dalam posisi "hanya pasif". Berikut pernyataan mereka ".. In all their external works, the three persons act together. And the work of the resurrection finds a parallel in the act of the incarnation, in which the same conjoint working of the divine persons manifests itself.". Geerhardus Vos (author), Richard Gaffin (editor), Reformed Dogmatics, Volume Three: Christology.

Demikian tulisan singkat dalam bentuk Q&A tentang hypostatic union dan kaitannya dengan polemik kebangkitan Yesus. Tulisan berikutnya akan membahas "kenosis" yang kemungkinan jadi acuan untuk konsep "potentiality & actuality".
Share: