Parakletos vs Perikletos

Dalam Perjanjian Baru, janji tentang akan datangnya Parakletos menjadi salah satu acuan favorit pihak muslim. Berbagai upaya dilakukan untuk mengutak-atik bagian ini untuk mengaitkannya dengan Muhammad. Dengan tafsiran eisegetis, Paracletos dianggap merujuk kepada Muhammad dibandingkan arti sebenarnya tentang Roh Kudus. Upaya lain dengan mengembangkan teori bahwa kata aslinya bukan Parakletos melainkan Perikletos, karena kata Perikletos yang memiliki arti indah atau pujian dianggap cocok untuk kata Ahmad (akar kata Muhammad) yang artinya terpuji. Teori ini berimplikasi munculnya tuduhan bahwa kata Parakletos adalah interpolasi pihak Kristen.


Kemungkinan besar ide awalnya berasal dari Benyamin Keldani dalam bukunya "Muhammad in Bible" yang dipublikasikan pertama kali tahun 1928. Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan menjadi rujukan banyak polemik Islam. Yusuf Ali dalam terjemah quran & tafsirnya tahun 1934 juga mengusulkan kata Perikletos ini ".. "Ahmad", or "Muhammad", the Praised One, is almost a translation of the Greek word Periclytos...". Asad salah satu ahli tafsir lainnya menegaskan bahwa kata Parakletos hasil dari rekayasa atau penggantian dari kata aslinya Perikletos(1980) "..his prediction is supported by several references in the Gospel of St. John to the Parakletos (usually rendered as "Comforter") who was to come after Jesus. This designation is almost certainly a corruption of Periklytos ("the Much-Praised"), an exact Greek translation of the Aramaic term or name Mawahamana"

Namun tuduhan ini spekulatif karena pihak Islam tidak mampu menunjukan satu bukti manucript dari ribuan manuscript yang memuat kata Perikletos. Sebaliknya dalam salah satu manuscript injil Yohanes yang tertua (P75) sekitar abad-2 jelas tertulis Parakletos. William Campbell telah mengkaji hal ini dan menyimpulkan bahwa teks aslinya memang Parakletos  "..Not one copy of the Gospel of John, from the oldest Greek copy of 200 AD until now shows periclytos in place of paracletos. Photograph 7 of Papyrus p75 from 200 AD shows John 14:9-26a. The last word on the page clearly shows "PARACLETOS..". Dr. William F. Campbell, The Qur'an and the Bible in the light of history and science, Middle East Resources Inc, 1992.

So.. tuduhan tentang pemalsuan ini jelas tidak berdasar, semua versi Bible baik Greek maupun terjemahan lainnya mengacu pada kata Parakletos yang diterjemahkan menjadi advocate, comforter, penolong, penghibur etc. Yoh 14:16.
LAI: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya
NIV: And I will ask the Father, and he will give you another advocate to help you and be with you forever--
Nestle GNT: κἀγὼ ἐρωτήσω τὸν Πατέρα καὶ ἄλλον Παράκλητον δώσει ὑμῖν ἵνα ᾖ μεθ’ ὑμῶν εἰς τὸν αἰῶνα,
Nestle Translit: kagō erōtēsō ton Patera kai allon Paraklēton dōsei hymin hina ē meth’ hymōn eis ton aiōna,

Hal menarik, teori tentang perubahan dari Parakletos menjadi Perikletos ini bisa dikatakan sebagai "penemuan baru" dalam khazanah apologetik Islam. Konsep ini "tidak dikenal" dalam tradisi Islam mula-mula seperti dalam Quran, Hadist, kitab tarikh & tafsir. Ibn Ishaq dalam bukunya "Sirat Rasul" yang disunting kemudian oleh ibn Hisham, beranggapan nubuatan Muhammad ini merujuk pada kata Aramaic dari Paracletos yaitu "mnahmana" yang diangggap ada kesamaan tulisan dengan Muhammad. Pendapat Ibn Ishaq ini juga mengabaikan konteks dari teks tersebut.

Menachem Ali salah seorang debator muslim yang cukup terkenal, dalam sebuah debat menghadapi pihak Kristen (Pangeran Manurung cs) tentang topik Proses Pewahyuan Bible & Quran, membahas masalah kata "paraqleyta" dalam bahasa Aramaic (Suryani). Menurutnya kata "Paraqleyta" berasal kata Parakletos (Greek) yang disuryanikan atau bukan originil Aramaic/Suryani. Dia kemudian menyatakan kata parakletos atau paraqleyta bukanlah yang diucapkan Yesus karena bukan aramaic yang merupakan bahasa percakapan yang digunakan Yesus. Point Menachem Ali, karena Yesus bercakap-cakap dengan Aramaic sedangkan Paracletos bukan original Aramaic sehingga kata Parakletos itu tidak bisa dipastikan adalah kata sebenarnya yang diucapkan Yesus.

Sekilas point M. Ali cukup kuat, tetapi kita tidak boleh berhenti sampai disitu karena kita perlu menelusuri kata original Aramaic yang digunakan Yesus. Perlu diketahui cukup banyak bukti bahwa Yesus cukup paham bahasa Yunani karena memang saat itu bahasa Yunani merupakan bahasa internasional pada masa itu. Sehingga tidak menutup kemungkinan menggunakan term Yunani "Parakletos". Ok mari kita asumsikan bahwa kata yang digunakan Yesus itu Aramaic, dalam Aramaic padanan yang paling dekat dengan dengan Parakletos yaitu "mnhm". Dalam The Comprehensive Aramaic Lexicon diuraikan akar kata & turunannya: mnḥm, mnḥmˀ (mɘnaḥḥem, mɘnaḥḥɘmā) n.m. comforter; advocate yang bisa juga ditransliterasikan menjadi mnahmana, menachem etc. Kebetulan debator tersebut menggunakan salah satu nama turunannya "Menachem" Ali. Kemungkinan posisi M. Ali memegang teori "Mnahmana/Menachem" ini, bukankah nama lain yang bersangkutan adalah "Muhammad" Ali.

Masalahnya di sini apakah kata MNHM atau Menachem itu merujuk pada nama pribadi? jelas tidak karena yang dimaksud di sini tentang figur Sang Penghibur/Penolong sesuai konteks dari teks tersebut. Jika Parakletos (Mnahmana) yang dimaksud merujuk ke Muhammad, perhatikan ayat berikut, dengan memberikan dalam kurung kata Muhammad untuk kata Parakletos dan pronomina-nya, is it making sense?

Yoh 14:16-17 "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong (Muhammad) yang lain, supaya Ia (Muhammad) menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia (Muhammad), sebab dunia tidak melihat Dia (Muhammad) dan tidak mengenal Dia (Muhammad). Tetapi kamu mengenal Dia (Muhammad), sebab Ia (Muhammad) menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu".

Pada ayat itu tertulis kalimat "..penolong (Paracletos) yang lain", jika Paracletos merujuk ke Muhammad, apakah berarti ada Muhammad yang lain?. Kita bandingkan dengan 1 Yoh 2:1 yang menyebutkan Yesus sebagai Paracletos. 
LAI: "... kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil."
Nestle GNT Translit: " ... Paraklēton echomen pros ton Patera Iēsoun Christon dikaion"

Pointnya jelas, bahwa Paracletos di sini bukanlah penyebutan nama pribadi melainkan sebagai "sebutan" atau gelar untuk peran tertentu. Dalam konteks Yoh 14 itu merujuk pada Roh Kudus sebagai penolong & penghibur. Sebagaimana Yesus juga disebut Parakletos dalam 1 Yoh 2:1 dalam peran sebagai pengantara kepada Bapa. So.. teori tentang "mnahmana/menachem" yang mengarah pada "nama pribadi" yang mirip menjadi tidak valid.


Selanjutnya, apakah ada kemiripan tulisan dari kata MNHM atau Menachem/mnahmana dengan Muhammad? jelas tidak mirip. Bahkan dari akar kata Muhammad atau Ahmad yaitu HMD (highly praised, the praised one, yang terpuji) juga tidak ada kemiripan dengan mnhm atau menachem/mnahmana. Kalaupun dipaksakan ada kemiripan,  hal ini tidak bermakna apa-apa, bukankah kata DOA dan DOSA juga mirip? :-)

Kembali ke masalah Perikletos, jika memang benar kata ini yang original maka kata aramaic yang cocok adalah HLL (hillul, hillula). So.. point Perikletos ini kontradiktif dengan pendapat mengenai "mnahmana/menachem" yang mengacu pada Ibn Ishaq. Kalau konsisten dengan point Perikletos, maka kata Aramaic yang diusulkan adalah Hillula. Tetapi bukti manuscript membantah semuanya ini. Kajian eksegetis yang cermat menunjukan bahwa Parakletos adalah Roh Kudus bukan Muhammad http://apologiakristen.blogspot.co.id/2009/09/siapakah-parakletos.html. Hal ini sejalan dengan referensi sejarah seperti tulisan dari para bapa gereja  seperti Ignatius, Clement, Tertullian yang merujuk ke Roh Kudus.

So.. bisa disimpulkan teori tentang "Perikletos" atau teori "Mnahmana/Menachem" tidak bisa dijadikan dasar yang valid untuk nubuatan ke Muhammad!
Share:

Tidak ada komentar: