Kajian Tekstual & Konteks Sejarah Perkataan Yesus: Eli/Eloi Eli/Eloi Lama Sabachthani

Perkataan Yesus di kayu salib "Eli/Eloi Eli/Eloi Lama Sabachthani" menarik untuk dikaji secara teliti, karena beberapa polemikus Islam mempersoalkan perkataan tersebut. Polemik tentang hal ini begitu hangat di bahas di media sosial dan dipertajam dengan kajian The Yeshiva Intitute (TYI) dengan mengkonfrontir perkataan Yesus terhadap teks dalam Tanakh Hebrew dan Targum Aramaic. http://yeshivainstitute.net/hello-world-2/. Pada tulisan ini kita akan fokus pada kajian tekstual dari teks perkataan Yesus itu dan melihat kesesuiannya dengan konteks sejarah bahasa-bahasa di Israel pada abad pertama. Pada tulisan berikutnya kita akan menganalisis berbagai versi Tanakh termasuk Tarqum pada masa Yesus dan teknis pengutipannya yang membuktikan bahwa pengutipan itu tidaklah harus secara verbatim atau harus persis kata demi kata.

Berikut ini point utama dari TYI:
[[[Eli Eli lama azvatani אֵלִ֣י אֵ֭לִי לָמָ֣ה עֲזַבְתָּ֑נִי itu bahasa IBRANI sedangkan Eli Eli methul ma shevaqtani א ִלי ֵא ִלי ְמטוּל ַמה ְשַׁב ְקָתִּני itu bahasa ARAM. Bukan gado-gado Ibrani dan Aram.
Methul ma shevaqtani adalah frase Aram yang termaktub dalam Targum Yonathan, dan Lama shevaqtani adalah frase Ibrani atau Aram? Meskipun artinya sama tapi redaksinya BEDA. Masalahnya dari mana Yesus mengutip ucapan tersebut?
Apakah Yesus mengutip dari Targum versi ubahan sendiri atau rabbi-rabbi Yahudi yang telah mengubah teks Targum Yonathan?]]]

Preposisi TYI dalam melontarkan tuduhan ini bahwa setiap perkataan yang merujuk ke Tanakh harus berupa kutipan verbatim (kata per kata). Menurutnya teks dalam Tanakh Hebrew tersebut menggunakan Ibrani dan Targum menggunakan Aramik, sehingga perkataan Yesus harus memilih diantara keduanya. Karena kata-kata dari perkataan Yesus terdapat unsur kata Ibrani & Aramik atau tidak sama persis dengan Tanakh Hebrew & Targum, maka disimpulkan Yesus telah keliru mengutip atau Yesus merujuk Targum ubahannya sendiri. Alternatif lain yang diajukan mereka bahwa teks Targum itu "aslinya" terdapat perkataan Yesus secara verbatim, namun kemudian diedit oleh rabi-rabi Yahudi. Alternatif solusi yang diajukan ini berdampak pada “pembenaran” adanya perubahan teks-teks kitab suci oleh orang Yahudi sesuai dengan perspektif teologis Islam.

Kajian TYI ini secara linguistik terkesan cukup powerfull karena ditunjang dengan data tekstual yang cukup memadai. Namun sayangnya pendekatan linguistik ini mengabaikan konteks sejarah berupa penggunaan bahasa yang multilingual di Israel pada masa Yesus serta cara perujukan ke teks-teks Tanakh melalui interpretasi teks-teks apokaliptik messianik yang lazim pada masa itu. Apakah rujukan atau pengutipan harus verbatim? inilah yang menjadi titik persoalan sebenarnya dan bukan pada masalah di permukaan menyangkut perbedaan minor secara tekstual . Sebagai kickback untuk TYI dan polemikus Islam lainnya, bagaimana jika metodologi mereka ini diterapkan ke Quran? akan terlihat terjadinya standard ganda dan Quran tidak akan lulus ujian berdasarkan standard mereka sendiri.

Tulisan ini diawali dengan kajian tekstual terhadap teks-teks yang dipermasalahkan. Transliterasi dilakukan menggunakan standard kaidah linguistik yang ada sedangkan arti dari beberapa kata kunci serta transliterasinya mengacu pada kamus standard Hebrew/Aramaic & Greek yang banyak digunakan dalam dunia akademik yaitu Strong's Hebrew & Greek Dictionaries. Sebagai pembanding digunakan kamus lainnya seperti Thayer, Gesenius & Jastrow. Untuk penjelasan terhadap konteks sejarahnya mengacu pada pendapat pendapat bible scholar sebagaimana tertulis dalam buku & jurnal akademik yang ada.

1. Kajian Tekstual: Sabachthani & Azavthani

Berikut ini teks yang akan menjadi kajian kita: 
Markus 15:34 Eloi, Eloi, lamma sabachthani
Matius 27:46 Eli, Eli, lama sabachthani
Mazmur 22:1 Eli, Eli Lama Azavthani (Catatan: untuk Bible versi Jewish ayatnya Maz 22:2)

Perkataan Yesus di kayu salib ini terdapat perbedaan antara Markus dan Matius pada kata Eloi &; Eli, sedangkan perbedaan antara Markus/Matius dengan Mazmur pada kata Sabachthani dan Azavthani. Untuk itu kita bahas dulu kata Sabachthani dan Azavthani yang paling dipersoalkan para polemikus Islam. Jawaban standard atas masalah ini dengan menyatakan bahwa kata Sabachthani adalah Aramik sedangkan Azavthani adalah Ibrani, namun kedua-duanya memiliki pengertian yang sama. Jika kita perhatikan teks-teks dalam Markus & Matius, pada bagian pertama penulis tidak menerjemahkan perkataan itu tetapi mentransliterasikannya ke Yunani. Nanti pada bagian kedua penulis memberikan terjemahan atau maknanya dalam bahasa Yunani. Untuk itu kita perlu memahami perspektif penulis Injil ini karena mereka lebih tahu situasinya pada masa itu.
Markus 15:34:...Ελωι ελωι λαμμᾶ σαβαχθανι ὅ ἐστιν μεθερμηνευόμενον Ὁ θεός μου ὁ θεός μου εἰς τί με ἐγκατέλιπές. Translit: elOi elOi lamma sabachthani o estin methermEneuomenon o theos mou o theos mou eis ti me enkatelipes
Matius 27:46:... Ηλι, Ηλι, λαμα σαβαχθανι; τουτ εστι, Θεε μου, Θεε μου, ινατι με εγκατελιπες; Translit: Eli Eli lama sabachthani tout estin thee mou thee mou ina ti me enkatelipes. 
Tidak ada perbedaan signifikan dari kedua "terjemahan" ini, hanya perbedaan minor dalam grammar. Markus menggunakan kata Theos dalam bentuk nominatif sedangkan Matius menggunakan kata Thee bentuk vokatif dari Theos serta perbedaan dalam penggunaan conjuction (eis & ina). Sedangkan kata lainnya terutama verb menggunakan kata yang identik "εγκατελιπες" (enkatelipes). Maka bisa dipastikan antara penulis Markus & Matius memiliki pengertian yang sama terhadap perkataan Yesus di kayu salib tersebut. Mari kita bandingkan dengan teks dalam Mazmur 22:1 dalam versi Greek (LXX/Septuginta)
Mazmur 22:1 . ...Ὁ θεὸς ὁ θεός μου, πρόσχες μοι· ἵνα τί ἐγκατέλιπές με; μακρὰν ἀπὸ τῆς σωτηρίας μου οἱ λόγοι τῶν παραπτωμά των μου. Translit: O theos o theos mou, prósches moi: ína tí enkatelipes me
Teks dalam LXX ini tidak ada perbedaan signifikan dengan Markus/Matius khususnya penggunaan kata "Theos" dan "Enkatelipes". Secara sederhana kita rumuskan silogismenya.
Premis 1: Kata "Sabachthani" dalam bahasa Aramik pada injil Matius/Markus diterjemahkan menjadi "Enkatelipes" dalam bahasa Yunani.
Premis 2: Kata "Azavthani" dalam bahasa Ibrani pada Mazmur diterjemahkan menjadi "Enkatelipes" dalam bahasa Yunani pada LXX.
Konklusi: Kata "Sabachtani" memiliki pengertian yang sama dengan "Azavthani".

Karena kata Sabachthani & Azavthani telah mendapatkan tambahan pronomina suffix "thani" maka kita perlu melacak apa kata dasarnya. Langkah pertama kita bandingkan dulu kata Azavthani & Enkatelipes menggunakan Strong's Hebrew & Greek Dictionaries.
Azavthani: H5800 עָזַב ‛âzab aw-zab' A primitive root; to loosen, that is, relinquish, permit, etc.: - commit self, fail, forsake, fortify, help, leave (destitute, off), refuse, X surely.
Enkatelipes: G1459 ἐγκαταλείπω egkataleipō eng-kat-al-i'-po From G1722 and G2641; to leave behind in some place, that is, (in a good sense) let remain over, or (in a bad one) to desert: - forsake, leave.

Akar kata azavthani: azab dan enkatelipes:egkataleipo dari rentang arti semantik kedua kata tersebut memiliki kesamaan pada makna "forsake/leave" dalam bahasa Indonesia artinya "meninggalkan". Langkah kedua kita mengidentifikasi apa kata dasar yang tepat untuk Sabachthani mengacu pada makna "forsake/leave" tersebut. Ada dua kandidat akar kata yang biasa diajukan dari beberapa peneliti berdasarkan kemiripan dengan kata "Sabach" (tanpa prononima thani) yaitu Shebaq (shebak) dan Zebach (zehbakh), ada beberapa variasi transliterasi dari kedua kata ini. Namun dalam tulisan ini kita gunakan transliterasi & arti kata menurut Strong.

Pertama, H7662 שְׁבַק shebaq sheb-ak' (Chaldee); corresponding to the root of H7733; to quit, that is, allow to remain: - leave, let alone.
Kedua, H2077 זֶבַח zebach zeh'-bakh From H2076; properly a slaughter, that is, the flesh of an animal; by implication a sacrifice (the victim or the act): - offer (-ing), sacrifice.
Berdasarkan rentang arti semantik kedua kata tersebut, maka kata yang pertama "shebak" yang paling sesuai yaitu pada makna kata "leave", sedangkan kata zebach makna katanya "sacrifice" tidak ada kaitannya dengan arti dari kata azavthani & enkatelipes.Selanjutnya kita menentukan jenis bahasa dari kata "shebak" apakah Ibrani atau Aramik dengan membandingkan berbagai Hebrew/Aramaic Dictionaries serta menganalisis sebaran & penggunaan kata ini dalam Tanakh. 

Dari uraian arti kata menurut Strong, kata Shebak disebut sebagai bahasa Chaldee, yang diserap ke dalam Aramik menjadi kata standard Aramik. HWF Gesenius dalam bukunya Gesenius Hebrew-Chaldee Lexicon to The Old Testament, 1846 serta Thayer juga menyatakan hal yang sama kata shebak adalah Chaldee. Sebagai kata standard Aramik kata ini digunakan di berbagai Targum (Aramik) sebagaimana dituliskan Marcus Jastrow dalam bukunya Dictionary of Targumim, Talmud and Midrashic Literature, 1926.

Mari kita lihat distribusi penggunaan kedua kata tersebut dalam Tanakh. Kata Shebaq digunakan sebanyak 5 kali tersebar di 5 ayat, kitab Ezra (6:7) dan Daniel (2:44, 4:15, 4:23, 4:26). Jika dicermati ayat-ayat ini hanya terletak pada teks-teks Aramik dalam Tanakh yang menurut bible scholars teks-teks Aramaic tersebut diantaranya Ezra (4:8-6:18;7:12-26) dan Daniel (2:4b-7:28). Daniel 2:4 (JPS) "Then spoke the Chaldeans to the king in Aramaic...". Sedangkan kata zebach digunakan sebanyak 162 kali di 153 ayat dan tidak satupun kata ini terletak di bagian Aramik dari Tanakh.

Kita sependapat dengan TYI dalam menganalisis teori Hamp tentang kata "shavak" sebagai kata Ibrani. Jika yang dimaksud kata shavak adalah shebak, maka meskipun kata itu terdapat dalam Mishnah tidak serta merta diklaim sebagai Ibrani. Karena memang Talmud & Mishnah banyak menyerap kosakata Aramik. Kata original Ibrani untuk makna yang sama dari kata Shebak: forsake/leave yaitu "azav/azab".

Dari kajian ini kita bisa pastikan bahwa akar kata yang tepat untuk Sabachthani adalah Shebaq (Aramaic) dan bukan Zebach (Hebrew). Jika ada yang tetap berpendapat bahwa akar kata sabachthani adalah Zebach yang artinya sacrifice/mengorbankan maka jelas telah berbeda pendapat dengan penulis Markus & Matius. Kedua penulis memahaminya demikian dan menerjemahkan ke Yunani menggunakan kata "εγκατελιπες/enkatelipes" yang artinya “leave/forsake”. Jika yang dimaksud maknanya adalah “sacrifice” maka akan digunakan kata "θυσία/thusia". Kata Shebaq setelah ditambah pronomina menjadi shebaqthani yang ditransliterasikan ke Greek menjadi σαβαχθανί, huruf vokal e & a disamakan menjadi a dan huruf q atau k menjadi huruf ch dalam bahasa Yunani sehingga transliterasi dalam huruf latinnya menjadi Sabachthani.

2. Kajian Tekstual: Eli/Eloi & Lamma
 
Sekarang kita kaji kata Eli & Eloi, mengapa terdapat perbedaan antara Markus & Matius?. Selama ini pemahaman umum yang berkembang kata Eli adalah Ibrani sedangkan Eloi adalah Aramaik. Arti kata Eli menurut Strong, G2241 ἠλί ēli ay-lee' Of Hebrew origin ([H410] with pronoun suffix); my God: - Eli. Kata El merupakan Noun yang merupakan nama ilahi selain Eloah dan Elohim. Setelah ditambahkan pronoun menjadi El-i atau my God/Allahku.

Kata Eloi yang selama ini dikenal sebagai Aramik, menurut saya kurang tepat. Karena kata yang tepat untuk Aramik adalah Elahi terdiri atas kata Elah bentuk noun nama ilahi dalam Aramik ditambah suffix pronoun "i" menjadi Elahi. Contoh penggunaan kata Elahi dalam Aramik bisa dilihat pada bagian Aramik dari Tanakh (Daniel 4:8). Kata Eloi merupakan salah satu varian hasil transliterasi dari Ibrani ke Yunani. Contohnya bisa dilihat dalam versi Greek dari Tanakh (LXX), Hakim-hakim 5:5 ὄρη ἐσαλεύθησαν ἀπὸ προσώπου κυρίου Ελωι, tertulis kata κυρίου Ελωι yang ditransliterasikan menjadi kyríou Eloi, kata Ελωι yang sama terdapat juga dalam Markus 15:34 ελωι ελωι λαμμα σαβαχθανι.

Bagaimana dengan kata λαμμα (Lamma)? Menurut Strokng kata ini adalah Ibrani; G2982 λαμά, λαμμᾶ lama lamma lam-ah', lam-mah' Of Hebrew origin ([H4100] with preposition prefixed); lama (that is, why): - lama. Kata dasarnya dalam Ibrani H4100, maw, mah, maw, mah, meh, A primitive particle; properly interrogitive what? (including how?, why? and when?). Penggunaan kata dasar yang mirip (מָה mâh) juga digunakan dalam teks-teks Aramik dengan makna yang sama (Why/Mengapa), seperti dalam Daniel 2:15 (מָה mâh). Kata ini menurut Strong adalah Aramik/Chaldee merujuk pada kata dasar yang mirip seperti yang digunakan dalam kata "lamma". H4101 מָה mâh maw (Chaldee); corresponding to H4100: - how great (mighty), that which, what (-soever), why.

Dari kajian ini kita telah mengetahui bahwa kata Eli bahasa Ibrani, Lamma bahasa Ibrani/Aramik dan Sabachthani bahasa Aramik. Dari data ini, maka kemungkinan paling kuat bahwa bahasa dasar yang digunakan Yesus adalah Aramik mengacu pada penggunaan kata sabachtani, jika bahasa dasarnya Ibrani maka yang digunakan Azavthani. Kata Lamma memang cenderung Ibrani namun memiliki akar kata yang mirip dengan Aramik, sehingga kata dasarnya Aramik telah mendapat pengaruh dari Ibrani. Khusus untuk kata Eli ada dua kemungkinan, pertama karena berkaitan dengan nama ilahi, orang Israel termasuk Yesus cenderung menggunakan istilah dalam Ibrani dibanding Aramik. Kemungkinan kedua kata El itu sendiri sifatnya generik untuk nama ilahi sebagai kata dasar untuk Elah (Aramik) dan Elohim (Ibrani), sehingga bisa digunakan oleh penutur bahasa Ibrani maupun Aramik.

Kesimpulan dari kajian tekstual ini perkataan Yesus tersebut menggunakan bahasa dasar Aramik yang beberapa katanya telah mendapat pengaruh cukup kuat dari Ibrani. Kesimpulan ini akan kita uji dengan kajian konteks sejarah bahasa-bahasa Palestina pada masa Yesus.

3. Kajian Konteks Sejarah Bahasa-bahasa di Israel pada Abad Pertama

Palestina pada masa Yesus memiliki keanekaragaman bahasa: Yunani, Ibrani dan Aramik bahkan di lingkungan penguasa Romawi digunakan bahasa Latin. Tidak heran tulisan pada salib Yesus (Titulus) dituliskan dalam tiga bahasa. Yoh_19:20 "... kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani". Kajian para scholar secara umum menyatakan bahwa orang Israel pada masa itu termasuk Yesus bisa berbahasa Ibrani & Aramik termasuk Yunani walaupun dalam bentuk percakapan yang sederhana.
"..Simultaneously, then, from about the time of the Maccabean revolt until into the third century A.D., the peoples of Palestine coexisted in a state of multilingualism. Native speakers of Hebrew, various dialects of Aramaic, anda Koine Greek lived side by side... Current scholarship tends to support the belief that Jesus may well have spoken at least three languages: Hebrew, Galilean Aramaic, and at least some Greek. Roger T. Macfarlane, Language of New Testament Judea, hal 233
"...This means that for Jesus to have conversed with inhabitants of cities in the Galilee, and especially of cities of the Decapolis and the Phoenician regions, he would have had to have known Greek, certainly at the conversational level..", The Galilee in Late Antiquity, Lee Levine (ed.), Jewish Theological Seminary of America: 1992
Penyebaran bahasa Aramik di Israel di mulai pada periode kerajaan Assyrian (720 SM), pada saat itu Aramik menjadi bahasa internasional (lingua franca) menggantikan Akkadian. Pengaruhnya semakin besar sejak periode Persia (538-332 SM), saat itu Persia menduduki wilayah-wilayah di sekitarnya termasuk daerah Palestina/Israel. Wilayah utara Israel yaitu Galilea yang berbatasan dengan Asyur/Persia jelas terkena dampak paling kuat dibanding daerah selatan: Yudea dan Yerusalem. Pada sekitar tahun 332 SM Alexander dari kerajaan Yunani menaklukan Persia sehingga mengakhiri hegemoni Persia digantikan dengan helenisasi diseantero wilayah mediterania termasuk Palestina, saat itulah bahasa Yunani menancapkan pengaruhnya. Pada masa Yesus bahasa lokal di Palestina menggunakan bahasa Ibrani/Aramik, sedangkan bahasa Yunani merupakan bahasa internasional yang umumnya digunakan dalam perdagangan, diplomasi, & surat menyurat. Makanya injil ditulis dalam bahasa Yunani untuk menjangkau semua orang termasuk non Yahudi. 

Penggunaan bahasa Aramik di Israel tidak saja dampak dari aneksasi kerajaan Persia, namun yang sangat signifikan terjadi saat orang-orang Israel dibuang ke Babel. Saat di Babel mereka diajarkan bahasa Aramik seperti Daniel dan orang-orang muda lainnya dan berinteraksi dengan penduduk setempat menggunakan Aramik. Sekembalinya dari Babel banyak orang Israel telah menggunakan Aramik dan khususnya untuk anak-anak mereka banyak yang tidak berbahasa Ibrani. Neh 13:24 “Sebagian dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain itu dan tidak tahu berbicara bahasa Yahudi”. Para scholar seperti Joseph a. Fitzmayer telah mengkaji fenomena ini.
"..During the Babylonian captivity (sixth century B.C.) many Jews had been cut off from their homeland; in Babylonia, they had come to use the dominant lingua franca, Aramaic, a sister language of Hebrew. After their return, some of the returnees probably used Hebrew, but the use of Hebrew does not seem to have been widespread. Fitzmyer, Joseph A. “Did Jesus Speak Greek?.” Biblical Archaeology Revi ew, Sep/Oct 1992, 58-63, 76-77.
Bible scholars awalnya cukup banyak yang memandang fenomena pengaruh Aramik ini secara berlebihan dengan beranggapan bahasa Ibrani menjadi bahasa yang mati dan hanya digunakan di sinagoge saja atau dilingkungan keagamaan bangsa Yahudi. Namun dari berbagai penemuan arkeologi dan kajian terbaru, pemikiran ini sudah out of date.
"..Earlier scholarship used to argue that Hebrew had become a dead language after the exile, and that Aramaic was the spoken language of ordinary Jews" M.O Wise "Languages of Palestine" in Dictionary of Jesus and the Gospels, (Downer’s Grove, IL: InterVarsity Press) 1998, c1992. 
Inskripsi arkeologi dari Dead Sea Scroll menjadi salah satu bukti membantah anggapan itu, dengan jumlah teks-teks mayoritas dalam Ibrani dari berbagai dokumen Qumran tersebut. Namun di sisi lain mengambil kesimpulan ekstrim sebaliknya bahwa bahasa utama saat itu Ibrani dan mengecilkan arti bahasa Aramik juga tidak tepat. Karena di lingkungan Qumran yang sektarian dan tertutup itu, jejak pengaruh bahasa Aramik cukup banyak ditemukan walaupun tidak sebanyak Ibrani. Beberapa teks Aramik dari DSS sebagai berikut; Genesis Apocryphon, the Prayer of Nabonidus, the New Jerusalem text, bagian2 dari Enoch literature, a “pseudo-Daniel” cycle, Tobit dan the Testament of Levi. Selain itu kehadiran Targum yang merupakan parafrase Aramik dari Hebrew Tanakh juga menjadi salah satu bukti pengaruh Aramik yang cukup kuat di Israel pada abad pertama.

Persoalan Hebrew vs Aramaic memang masih diperdebatkan para ahli, namun satu hal yang pasti bahwa kedua bahasa ini memang telah eksis di Israel pada masa Yesus. Maka yang perlu dicermati bagaimana kehadiran secara bersama kedua bahasa ini. Beberapa scholar telah menganalisis tentang penyebaran kedua bahasa ini secara geografis bahwa di bagian utara Palestina/Israel yaitu Galilea tingkat konsentrasi pengggunaan Aramik lebih tinggi dibanding Ibrani dibanding bagian selatan; Yudea & Yerusalem. Beberapa scholar menyebut bahasa di Galilea ini sebagai Jewish Palestine Aramaic dan ada pula yang menyebutkan sebagai bahasa Ibrani dialek Galilea. Keterangan mengenai perbedaan bahasa atau dialek ini bisa kita temukan dalam Injil.
Mat 26:69 Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu. ...
Mat 26:73 Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." 
Rabin Chaim seorang jewish scholar menyatakan pendapatnya mengenai perbedaan bahasa/dialek di kedua daerah ini
"...while in Jerusalem mishnaic Hebrew was a home language and probably already also a literary language, and Aramaic a lingua franca, in Galilee Aramaic was a home language..", Rabin, Chaim. “Hebrew and Aramaic in the First Century.” in The Jewish People in the First Century: Section One: Historical Geography, Political History, Social, cultural and Religious Life and Institutions. Edited by Shmuel Safrai and Menahem Stern. Philadelphia: Fortress, 1976.
Tesis Chaim cukup masuk akal mengingat daerah Galilea berbatasan dengan Assyria sehingga tingkat penetrasi Aramik begitu tinggi, disamping itu kondisi Galilea umumnya pedusunan yang kurang maju di banding Yerusalem & Yudea. Kajian Chaim sejalan dengan Michael O. Wise yang menyatakan kurangnya pengaruh Ibrani di Galilea dibanding di Yudea.
"...The fact that the region [of Galilee] came under Jewish control only after some centuries of government by Aramaic and Greek-speaking rulers suggests that Hebrew was much less well known in Galilee than it would have been in Judea..." Michael O. Wise, "Languages of Palestine." Pages 434-44 in The Dictionary of Jesus and the Gospels (IVP: 1992).
Berdasarkan data ini, saya cenderung pada posisi bahwa bahasa dasar yang digunakan Yesus adalah Aramik karena Dia memang besar di Nazareth daerah Galilea dan pelayanannya umumnya di daerah tersebut. Namun pengaruh Ibrani dari bahasa yang digunakan Yesus begitu kuat, sebagaimana terlihat dari penggunaan beberapa kata Ibrani disamping Aramik & sebagian kecil Yunani yang tercatat dalam Injil. Silahkan saja bagi mereka yang berpendapat lain bahwa bahasa dasar Yesus adalah Ibrani, masalah ini bukan fokus tulisan ini. Jika seandainya Ibrani memang bahasa dasar Yesus maka pengaruh Aramik juga begitu kuat terhadap bahasa dasar tersebut. Hubungan saling mempengaruhi ini telah dikaji oleh banyak scholars salah satunya Roger T. Macfarlane.
 "..There is no doubt that Aramaic influenced the grammar and vocabulary of postexilic Hebrew. Aramaic, on the other hand, was no uniformly applied by the various ethnic and cultural groups that received it, Roger T. Macfarlane, Language of New Testament Judea, hal 233 ".
4. Kesimpulan

Kajian konteks sejarah bahasa-bahasa di Israel sejalan dengan kajian tekstual sebelumnya mengenai perkataan Yesus di kayu salib. Apa yang dikatakan Yesus di kayu salib tersebut merupakan kata-kata ungkapan keseharian mereka. Berbagai pengajaran Yesus yang merujuk kepada Tanakh termasuk berbagai perumpamaan dan pengajaran penggenapan nubuatan yang diajarkan Yesus menggunakan ungkapan keseharian dari penduduk Israel pada masa itu. Maka perkataan Yesus di kayu Salib dalam bahasa Aramik dengan pengaruh Ibrani merupakan hal yang wajar pada masa itu. Dari kajian ini pendekatan linguistik lewat kajin tekstual yang teliti, sangat cocok dengan kajian konteks sejarahnya. Sehingga anggapan bahwa kutipan atau rujukan kepada Tanakh harus mengacu secara verbatim pada teks Ibrani (Proto Masoret) atau teks Aramik (Tarqum) tidaklah tepat. Karena pengungkapan kata-kata dari pengutipan itu disesuaikan dengan ungkapan sehari-hari namun maknanya tepat sama dengan apa yang dimaksudkan dalam Tanakh tersebut.
Share:

1 komentar:

Kristian Handoyo Sugiyarto mengatakan...

Silakan Baca di FB Om Jimmy J