Pilihan Iman yang Berbeda: Metzger VS Ehrman


Menarik menyimak dua "giants" Bruce Metzger (alm) & Bart Ehrman yang menggeluti bidang sama Textual Criticism namun menarik kesimpulan akhir berbeda, Metzger tetap setia pada iman Kristen konservatif sedangkan Ehrman meninggalkan imannya menjadi liberal dan agnostic. Padahal keduanya cukup dekat, Ehrman menganggap Metzger sebagai mentor & "doctor father", bahkan Ehrman menjadi co author Metzger untuk bukunya The Text of The New Testament edisi keempat. Salah satu textbook studi Textual Criticism disamping buku-buku tulisan Kurt Aland/Barbara Aland, Keith Elliot, Maurice Robinson,Gordon Fee, Michael Holmes dan lain-lain.


Ben Witherington penulis buku2 akademik berbobot seperti The Jesus Quest, The Christology of Jesus etc. Salah satu anak didik Metzger selain Ehrman, dalam bukunya What Have They Done with Jesus, mengkritik metodologi Ehrman yang dianggapnya terlalu berlebihan menarik kesimpulan melebihi kapasitas data yg ada. Dalam sebuah tulisan lainnya Review of Jesus Interrupted dia menyatakan ketidaksetujuan pada pandangan Ehrman mengenai arti penting Textual Variants dan tetap sependapat dgn mentor mereka "..It appears to me that Bart and I disagree profoundly about the important of textual variants. As Bruce Metzger who TAUGHT US BOTH once said— we know what about 92% of the NT said in its original manuscripts with a rather high degree of certainty. As for the other 8%, very little of theological or ethical consequence is at stake..".

Ehrman berbeda dengan mentornya sendiri termasuk dgn rekannya Witherington sesama murid Metzger. Apakah Ehrman lebih cerdas dari keduanya? ini tentu sulit diukur, karena mereka sama-sama sarjana kaliber yg disegani.

Sekarang kita lihat contoh sarjana lain, William Lane Craig seorang sarjana, debater, apologist kristen terkenal. Dalam sebuah perdebatan dengan Ehrman topik ttg Kebangkitan Kristus, menyatakan adanya "kesamaan" perjalanan hidup dirinya dengan Ehrman, namun pada studi level doctoral mereka menjadi berbeda. ".. both of our lives were turned upside down when at the age of 15 or 16 we each experienced a spiritual rebirth through personal faith in Christ. Eager to serve him, we both attended the same college in Illinois, Wheaton College, where we both even studied Greek under the same professor. After graduation we both went on to pursue doctoral studies. Thereafter our paths radically diverged. I received a fellowship from the German government to study the resurrection of Jesus under the direction of Wolfhart Pannenberg and Ferdinand Hahn at the University of Munich and at Cambridge University. As a result of my studies, I became even more convinced of the historical credibility of that event (Resurrection)..". Transcript debate

Mereka sama-sama menganggap telah mengalami "lahir baru", belajar Greek pada profesor yang sama & menempuh pendidikan doctoral. Tetapi mereka mengambil kesimpulan mengenai iman kristen yg bertolakbelakang.

Ada 3 sarjana terkemuka lainnya yang pernah berdebat dengan Ehrman. Daniel B. Wallace salah satu ahli Textual Criticism yang aktif melakukan riset manuscript dewasa ini, direktur The Center for The Study of New Testament Manuscripts http://www.csntm.org. Craig Evans sarjana terkemuka Historical Jesus dan pakar Dead Sea Scroll, penulis berbagai buku akademik seperti Fabricating Jesus. NT. Wright salah satu sarjana terkemuka lainnya di bidang Historical Jesus, "musuh" utama the Jesus Seminar dan terkenal dengan buku akademisnya seperti Jesus & the Victory of God, The People of New Testament etc. Melalui berbagai riset mendalam selama puluhan tahun, iman kristen mereka tidak menjadi goyah; studi mereka justru menguatkan dasar kebenaran dari iman mereka kepada Yesus.

Jiika terus diperluas sebenarnya Ehrman tidak sendiri ada beberapa sarjana lain yang semula konservatif kemudian menjadi liberal seperti Robert Price, John Dominic Crossan, Marcus Borg, John Shelby Spong etc. Lalu mengapa mereka berbeda? apakah ada sumber data primer penting & menentukan yg hanya diketahui Ehrman & sarjana liberal lainnya? tentu tidak, karena semua data telah tersebar & dapat diakses oleh para scholar.

Lalu apa masalah dasar perbedaan itu? Jawabannya adalah perbedaan INTERPRETASI pada data yg sama seperti yg dinyatakan Daniel Wallace dlm bukunya yg terbaru "...What is the issue then? The text is not the basic area of our dis-agreement; the interpretation of the text is. Even here, it is not to so much the interpretation of the text as the interpretation of how the textual variants arose and how significant those variants are-that is where our difference lie. .. To be sure, Ehrman would regard the NT books to be in contradiction with each other over many issues, while I would regard the basic beliefs of the authors to be in general agreement. The larger issue is wheter what the NT essentialy teaches is true" Daniel B. Wallace, Revisiting the Corruption of the New Testament, Kregel Academic, 2011.

Menurut saya, kuncinya, Bart Ehrman & beberapa sarjana liberal lainnya TERLALU FOKUS pada DETAIL tertentu, yang bersifat debatable, namun tidak melihat keseluruhan data sebagai The Big Picture tentang kekristenan. Memang ada terdapat banyak varian teks, namun hanya sebagian kecil saja yang memiliki makna yang berarti.

Jika sebagai kecil varian yang dianggap bermasalah dihilangkan, tidak akan mengurangi inti pesan kebenaran kekristenan. Ajaran Trinity tidak hanya berdasarkan 1 Yoh 5:7 tetapi ada banyak ayat lain yang mengajarkan demikian, seperti Yoh 1:1,14; Yoh 20:28 etc. Masalah terkenal long ending Mark, jika bagian akhir ini memang tdk ada dlm naskah aslinya, bukti kebangkitan masih terdapat dlm ayat-ayat (Markus) sebelumnya, apakah ada ajaran doktrin dlm perikop perempuan berzinah? etc. Seperti dikatakan Craig Blomberg (Review of Misquoting Jesus), Ehrman membesar-besarkan beberapa contoh ini dan para pembaca awam mendapat kesan ada begitu banyak masalah serupa lainnya dalam Alkitab, padahal sudah tidak ada lagi. Ehrman pasti tahu implikasi dari bukunya kepada pembaca awam seperti dugaan Darrel Bock (Dethroning Jesus) tetapi dia tidak pernah meluruskannya.

Jika Ehrman begitu pesimis dalam pemulihan naskah NT yang asli sesuai dengan autograph, lalu bagaimana Ehrman menjelaskan tentang fakta perkembangan gereja mula-mula. Anggaplah tidak ada manuscript NT, namun Injil dapat disusunkan kembali berdasarkan kutipan-kutipan Injil yang tersebar di tulisan bapa-bapa gereja. Hasilnya hampir seluruh isi injil minus belasan ayat dapat disusun kembali. Ini justru cocok dengan Alkitab sekarang ini yang mengacu pada manuscript-manuscript yang ada. Jadi kita bisa optimis bahwa Alkitab sekarang tidak jauh berbeda dengan original text.

Kita dapat kembangkan lagi, berdasarkan data extrabiblikal seperti Joshepus, Tacitus, Celsus, Talmud etc, yang dipastikan bersifat indepen. Beberapa point penting:
- Adanya seorang nabi di Palestina yang punya pengikut, mati dibunuh & dianggap telah bangkit
- Nabi itu dianggap melakukan sihir/magic atau perbuatan ajaib seperti yang dituliskan dalam Talmud, Celsus etc. Jelas hanya ada dua kemungkinan, Dia tukang sihir atau ilahi, tidak ada kemungkinan untuk teori mitos.
- Ada sekelompok orang yang menyembah nabi itu seperti menyembah kepada Tuhan, mereka melakukan sakramen sebagai peringatan atas kematiannya, penggunaan simbol nomina sacra dsb. Lihat tulisan Larry Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in The Earliest Christianity, Eerdman, 2003
- Terjadi perubahan pada banyak orang tadinya Judaism fanatik menjadi pengikut seorang yg dianggap Mesias
- Kematian tragis para murid nabi itu termasuk penganiayaan dialami pengikutnya oleh beberapa kaisar Romawi, adakah orang yang mau mati utk suatu kebohongan? Lihat tulisan GW. Bowersock, Martyrdom & Rome, Cambridge, 1995

Ini semuanya cocok dengan apa yang dituliskan dalam Alkitab berdasarkan manuscript yang ada. Sehingga pesimisme Ehrman tidak memiliki dasar kuat, hanya didorongkan oleh presupposisi bahwa Injil tidak mungkin akurat.

Satu point penting lainnya, jika dianggap kekristenan konservatif saat ini salah, maka tantangannya adalah silahkan berikan model "kekristenan alternatif itu". Misalnya tentang Kebangkitan Kristus yg ditolak Ehrman, teori alternatif yang ada seperti teori natural para murid salah mengidentifikasi lokasi kubur Yesus hanya cocok untuk beberapa kepingan data tertentu saja yang sebenarnya bersifat netral karena bisa digunakan untuk point kebangkitan. Namun teori alternatif ini akan gugur jika diperhadapkan kumpulan data yang ada. Satu-satunya penjelasan poling logis & hanya sedikit menimbulkan "masalah" yg bersifat debatable yaitu Yesus memang telah bangkit. Gary Habermas telah merintis pendekatan "minimal facts"  dalam pembuktian kebangkitan Kristus sehingga seorang historian dapat menerima historias kisah kebangkitan. Mike Licona lewat buku terbarunya The Resurrection of Jesus: A New Historiographical Approach mendokumentasi bukti-bukti ini secara komprehensif.  N.T. Wright juga telah menyusun buku komprehensif tentang hal ini sebelumnya,  The Resurrection of the Son of God

Point kunci kebenaran kekristenan adalah PEMBUKTIAN KOLEKTIF baik dari sumber biblikal, non biblikal maupun eztrabibilikal. Bruce Metzger telah tepat melihat hal esensial dibalik ribuan data yang ada, sedangkan Ehrman terfokus pada data tertentu dan menarik kesimpulan mengacu pada data tersebut.

Sebagai refleksi:
Studi kritis terhadap Alkitab tidak akan membahayakan iman seseorang, asalkan dia tahu mana hal yang esensial (data keseluruhan) dan tidak esensial (sebagai data yang debatable). Tentu dalam studi kritis kita tidak bisa bersifat fundamentalis seperti kritikan Craig Evans (Fabricating Jesus) terhadap sikap Ehrman terutama masalah "innerancy" karena menurut Evans iman kekristenan tidak terletak pada "innerancy" atau usaha mengharmoniskan beberapa masalah melainkan pada kebangkitan Kristus.

Daniel Wallace menyatakan hal sama saat diwawancarai Lee Strobel.“Personally, I believe in inerrancy,” he began. “However, I wouldn’t consider inerrancy to be a primary or essential doctrine for saving faith. It’s what I call a ‘protective shell’ doctrine. Picture a con-centric circle, with the essential doctrines of Christ and salvation at the core. A little bit further out are some other doctrines until, finally, outside of everything is inerrancy. Inerrancy is intended to protect these inner doctrines. But if inerrancy is not true, does that mean that infallibility is not true? No. It’s a non sequitur to say I can’t trust the Bible in the minutiae of history, so therefore I can’t trust it in matters of faith and practice..." Lee Strobel, The Case for Real Jesus, Zondervan, 2007

Bagi kita, masalah dalam Alkitab seperti kontradiksi dan lain-lain memiliki penjelasan logis, tetapi ada juga yang tidak memberi jawaban yang benar-benar tuntas, karena terbatasnya data acuan mengenai masalah tersebut. Tetapi ingat itu hanya sebagain kecil  & tidak akan menghilangkan kebenaran keseluruhan. Melalui studi kritis yang benar iman kita semakin diteguhkan dan iman itu berdiri di atas batu karang sejarah yang teguh.

Jadilah metzger-metzger modern yang mampu mengkombinasikan akal pikiran lewat studi kritis dan iman percaya pada Kristus sebagai juruselamat pribadi sampai pada akhir hayat kita masing-masing.

Apologia Kristen
Share:

1 komentar:

Sang Murid mengatakan...

pak, numpang share situs sy.. http://roma14-ayat8.co.cc
bnyk bahan sini yg sy copas bt di masukin di situs sy.