Genealogy Discussion (Seri 1): Yesus Keturunan Daud Melalui Yusuf

Penulis dari The Yeshiva Institute bernama Menachem Ali selanjutnya disingkat M Ali menuliskan kajian seputar silsilah Yesus & Muhammad Link 1, Link 2 & Link 3.  Dalam tulisannya M Ali berupaya menyajikan data & intepretasi bahwa Muhammad berdarah Yahudi yang berarti keturunan Ishak sekaligus keturunan Ishmael. Di sisi lain yang bersangkutan mendiskreditkan perihal silsilah Yesus dalam injil Matius & Lukas bahkan menyerang masalah orang tua Yesus berdasarkan literatur rabbinik. Kajian tersebut memang terkesan akademik dengan argumentasi yang terlihat powerfull, namun jika diteliti secara cermat ternyata banyak kelemahan dengan argumentasi & data yang digunakan. Bahkan tanpa disadari atau memang disadarinya, beberapa point argumentasinya justru menyerang otentitas Quran itu sendiri.

Mengingat persoalan yang dibahas cukup kompleks, maka tanggapan atas kajian M Ali akan dibagi 5 (lima) bagian. Pertama, tentang Yesus keturunan Daud melalui Yusuf. Kedua, Yesus Keturunan Daud melalui Maria, telah ditulis sebelumnya Link. Ketiga, menjawab tuduhan Talmud tentang orang tua Yesus yang dianggap sebagai pezinah. Keempat mempertanyakan validitas data & signifikansi atas klaim Muhammad berdarah Yahudi dan mempertanyakan historitas klaim Muhammad keturunan Ishmael. Dan kelima, menyajikan perbandingan antara silsilah Yesus & Muhammad serta konklusi pembahasan.

Sebelum kita lanjut dalam pembahasan pertama, kita perlu melihat dua faktor utama yang mendasari diskusi kita yaitu Mesias dari keturunan Daud & kelahiran Yesus dari perawan Maria (The Virgin Birth). Berikut ini data tentang kedua faktor penting tersebut.
= Mesias keturunan Daud
Yes 11:1  Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah
Yer 23:5  Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.

Selain keturunan Daud, Mesias juga disebutkan berasal dari keturunan Yehuda salah satu anak Yakub/Israel. Namun kita fokus pada pembahasan keturunan Daud yang merupakan bagian utama dari pengharapan mesianik bangsa Israel.

= The Virgin Birth
Dalam injil Mat 1:18 disebutkan bahwa Maria telah mengandung dari Roh Kudus sebelum Yusuf & Maria hidup sebagai suami istri. Demikian pula dalam penulisan silsilah Yesus, kedua penulis injil "aware" dengan adanya fakta The Virgin Birth ini.
Luk 3:23  Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli. 
Mat 1:16 "Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus".


Dalam injil Lukas digunakan kalimat "menurut anggapan orang" (ōn huios hōs enomizeto) dan dalam injil Matius kata egennçsen (bentuk aorist aktif) artinya "memperanakkan" tidak digunakan untuk menghubungkan Yusuf & Yesus. M Ali mengomentari hal ini dengan menyatakan "...Pada teks Injil Matius 1:1 St. Matius berbicara silsilah Yesus dalam konteks teologis, sebaliknya pada Injil Matius 1:16 ternyata St. Matius berbicara justru dalam konteks historis yang sebenarnya, karena secara de facto Yesus memang tidak memiliki nasab dari jalur Yusuf secara biologis..". Pada bagian lain M Ali menyatakan ".. susunan redaksi teks Matius 1:16 justru berubah 360% yakni berpola dogmatis, bukan berpola genetis..".

Saya kira pernyataan M Ali tidak tepat, justru penulis injil Matius menyajikan data historis apa adanya bukan pernyataan dogmatis seperti klaim M Ali. Bukankah dalam ayat berikutnya (Mat 1:18) dituliskan narasi tentang kehamilan Maria yang tidak ada unsur keterlibatan Yusuf, sehingga penulis ini memang "aware" terhadap faktor "The Virgin Birth" atas kelahiran Yesus. Karena dalam ayat 16 penulis secara jelas menyebutkan Maria yang melahirkan Yesus dan bukan Yusuf memperanakan Yesus.

Ok mari kita masuk pada inti pembahasan tentang Yesus sebagai Keturunan Daud melalui Yusuf.
Image result for Jesus Joseph

M Ali merumuskan kriteria Mesias dengan tiga kategori "... seorang Messiah harus (1) seorang laki-laki dan bukan seorang perempuan, (2) nasabnya harus bersambung dari jalur garis ayah (lineage of the father) karena sistem silsilah merujuk pada sistem patriakhal, dan bukan bersambung pada jalur garis ibu, (3) dia nasabnya bersambung kpd Raja Daud..". Saya sependapat dengan kategori 1 & 3, namun berbeda pendapat dengan kategori 2 karena yang disebut sebagai keturunan Daud tidak harus melalui jalur ayah tetapi bisa juga melalui jalur ibu dan Yesus memenuhi kedua jalur tersebut. M Ali kemudian menambahkan penjelasan bahwa keturunan dari jalur ayah itu harus keturunan secara biologis dan Yesus tidak memenuhi syarat berdasarkan kriteria tersebut  "...status jalur 'biologis' tidak ada hubungan sama sekali antara Yesus & Yusuf..". Namun masalahnya tidak data yang secara jelas menegaskan tentang point keturunan biologis ini.

Ok mari kita bahas secara detail tentang hal ini, terlebih dahulu membahas tentang keharusan keturunan biologis untuk penyebutan seorang anak. Apakah disebut sebagai anak yang sah haruslah anak kandung secara biologis? Data dari Tanakh & literatur rabbinik jelas berkata tidak. Memang untuk anak non biologis biasa kita kenal dengan sebutan anak angkat atau anak adopsi. Namun dari data yang ada, hampir tidak ada perbedaan signifikan antara anak biologis vs anak non biologis karena keduanya sama-sama disebut sebagai anak.

Pertama-tama kita lihat dari data yang diajukan M Ali tentang Levirate Marriage dalam pembahasannya atas silsilah dalam injil Lukas. ".. Jadi Yusuf bukan anak angkat Eli, karena konsep anak angkat tidak dikenal dalam silsilah, yang dikenal hanyalah silsilah dalam perkawinan Levirat (Ulangan 25:5-6)".
Ulg 25:5  "Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar.
Ulg 25:6  Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel.


Dalam aturan tentang Levirate Marriage disebutkan tentang seseorang yang telah kawin kemudian mati dengan tidak meninggal anak laki-laki, maka saudara dari yang meninggal itu kawin dengan istri dari yang meninggal itu. Anak laki-laki yang lahir dianggap sebagai anak dari yang meninggal itu. Ini berarti anak itu adalah anak non biologis dari yang meninggal. Sebenarnya hal ini sudah ada sebelum Taurat diberikan kepada Musa yaitu pada masa Yakub. Kej 38:8  Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: "Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu."

Dari data ini, point saya jelas bahwa yang disebut anak tidaklah harus anak secara biologis. Ketentuan ini memang secara khusus diatur dalam aturan Levirate Marriage dan bisa dikatakan sebagai "special adoption". Hal seperti ini bisa juga terjadi dalam kondisi lain seperti antara Yusuf & Yesus.

Selanjutnya kita lihat data tentang Musa yang diangkat sebagai anak oleh puteri Firaun.
Kel 2:10  Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."
M Ali memberi komentar tentang hal ini ".. Fir'aun mengangkat Musa sbg anak angkat, karena Musa bukan anak istrinya. Dan itu pun tradisi Mesir, bukan tradisi Yahudi. Musa adalah anak orang Ibrani, atau anak orang lain yang dibuang, lalu diangkat menjadi anak angkat oleh Firaun...".

M Ali menyatakan hal itu bukanlah tradisi Yahudi melainkan tradisi Mesir, namun sayangnya M Ali yang familiar dengan literatur rabbinik justru mengabaikan data yang ada dalam Talmud yang bertentangan dengan pernyataan tersebut.
"..R. Simon b. Pazzi once introduced an exposition of the Book of Chronicles as follows: 'All thy words are one, and we know how to find their inner meaning'. [It is written], And his wife the Jewess bore Jered the father of Gedor, and Heber the father of Socho, and Jekuthiel the father of Zanoah, and these are the sons of Bithya the daughter of Pharaoh, whom Mered took. Why was she [the daughter of Pharaoh] called a Jewess? Because she repudiated idolatry, as it is written, And the daughter of Pharaoh went down to bathe in the river, and R. Johanan, [commenting on this,] said that she went down to cleanse herself from the idols of her father's house. 'Bore': But she only brought him [Moses] up? - This tells us that if anyone brings up an orphan boy or girl in his house, the Scripture accounts it as if he had begotten him. 'Jered': this is Moses. Why was he called Jered? Because manna came down [yarad] for Israel in his days..." (Talmud Mas. Megillah 13a)

"And his wife Ha-Jehudiah bore Yered the father of Gedor [and Heber the father of Soco, and Jekuthiel the father of Zanoah] and these are the sons of Bithia the daughter of Pharaoh, whom Mered took. Now, 'Mered' was Caleb; and why was he called Mered? . - Because he opposed the counsel of the other spies. But was he [Moses] indeed born of Bithia and not rather of Jochebed? - But Jochebed bore and Bithia reared him; therefore he was called after her". (Talmud Mas. Sanhedrin 19b)

Keterangan dalam Talmud ini merupakan interpretasi atas tulisan dalam kitab Tawarikh (JPS/Jewish Publication Society)
1Tw 4:17  And the sons of Ezrah: Jether, and Mered, and Epher, and Jalon. And she bore Miriam, and Shammai, and Ishbah the father of Eshtemoa -
1Tw 4:18  and his wife Hajehudijah bore Jered the father of Gedor, and Heber the father of Soco, and Jekuthiel the father of Zanoah - and these are the sons of Bithiah the daughter of Pharaoh whom Mered took.


Dalam Talmud ini disebutkan tentang puteri Firaun bernama Bithiah (daughter of God) yang kemungkinan diberi nama itu setelah convert ke Judaism. Kemudian disebut sebagai Jehudijah atau diterjemahkan secara literal menjadi "Jewess" dalam Sanhedrin. Bithiah ini kawin dengan Mered dan melahirkan beberapa anak. Namun yang menarik salah satu anak bernama Jered menurut Talmud adalah Musa (Moses) yang secara genetis anak dari Jochebed dan Amram (Kel 6:20), tetapi Jered ini tetap disebutkan sebagai anak dari Bithiah.

Terlepas dari benar tidaknya intepretasi dari Talmud ini, pointnya tetap jelas bahwa perihal anak adopsi bukan hanya tradisi Mesir melainkan juga bagian dari tradisi Yahudi. Sebagai data tambahan dari Midrash yang meneguhkan point tersebut. Shemot Rabbah 46:5 He who brings up a child is called “Father,” not he who merely begot him.

Sekarang kita lihat data seputar Yesus sebagai anak Yusuf.
Dalam Matius 1:18 dituliskan tentang Maria yang bertunangan dengan Yusuf keturunan Daud dan Maria ternyata telah mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Masalah tentang pertunangan dan kaitannya dengan status suami istri bisa disimak di Link ini. Hal ini membuat Yusuf akan menceraikan Maria yang dianggapnya telah berzinah atau telah berhubungan seks dengan orang lain (Ay 19). Tuduhan ini dikembangkan dalam Talmud dan sayangnya M Ali ikut serta mendukung tuduhan Talmud itu, padahal Quran sendiri menerima konsep "The Virgin Birth" dan tidak menerima tuduhan zinah tsb. Tetapi malaikat Tuhan datang menjumpai Yusuf dan menegaskan untuk tetap mengambil Maria sebagai istri dan menjelaskan bahwa kandungan Maria dari Roh Kudus (Ay 20-21) dan Yusuf melakukan apa yang diperintahkan malaikat itu (ay 24-25).

Dari narasi ini, Yesus jelas lahir dari keluarga Yusuf & Maria serta Yusuf menerima Yesus sebagai anaknya. Hal ini semakin dipertegas dengan ritual Sunat kepada Yesus yang dilaksanakan Yusuf & Maria (Luk 2:21), membawa anak itu ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Tuhan (Luk 2:22-23) dan secara rutin tiap tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Luk 2:41). Pada usia ke-12, Yesus dibawa ke Yerusalem dan terpisah dengan kedua orang tuanya. Saat Yesus ditemukan oleh orangtuaNya, ibuNya bertanya kepadaNya "..lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau (Luk 2:48). Maria menyebutkan kalimat "Bapa-MU dan aku.." yang menunjukan dengan jelas bahwa Yusuf adalah ayah dari Yesus.

Berdasarkan semua data ini tidaklah terlihat perbedaan signifikan antara anak biologis dan anak non biologis karena sama-sama disebut sebagai anak. Anak dari hasil Levirate Marriage tetap disebut sebab anak dari saudaranya yang telah meninggal. Musa (Jered) menurut Talmud walaupun bukan anak biologis dari Bithiah (Puteri Firaun) tetap disebut sebagai anak Bithiah. Data lain dari Talmud  juga menegaskan bahwa anak adopsi itu dianggap sebagai anak yang dilahirkan ".. This teaches thee that whoever brings up an orphan in his home, Scripture ascribes it to him as though he had begotten him". (Talmud Mas. Sanhedrin 19b)
Demikian pula Yesus disebut anak Yusuf tidaklah salah, bukankah Maria sendiri menyebutkan bahwa Yusuf adalah ayah Yesus. Dalam ayat-ayat lain Yesus juga disebut sebagai anak Yusuf.
Yoh 6:42  Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"
Luk 4:22  Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
Yoh_1:45  Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret."


Lalu bagaimana dengan ayat berikut ini?
Rom 1:3  tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud,
Ayat ini menuliskan tentang Yesus sebagai keturunan Daud menurut daging atau keturunan secara genetik yang merujuk ke Maria. Paulus dalam surat-suratNya banyak berbicara pada aspek inkarnasi Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia (Rom 8:3, 9:5, 1 Tim 3:15) sebagaimana juga dituliskan oleh rasul Yohanes (Yoh 1:1, 2 Yoh 1:7). Hal ini berkaitan dengan nubuatan mesianik seperti Mesias yang menderita (Yes 53), Kelahiran sang Mesias (Yes 7:14, Mika 5:1), Mesias yang Ilahi (Yes 7:24, 9:6) dll.

Namun bukan berarti yang disebut sebagai keturunan Daud hanya dari sisi genetik. Pada bagian lain dari PB kita bisa melihat Yesus disebutkan sebagai keturunan Daud secara hukum. Hal ini berkaitan dengan nubuatan mesianik yang berbicara tentang Mesias sebagai Raja sehingga lebih banyak dikaitkan dengan Daud yang keturunannya dijanjikan menjadi Raja yg kekal (Yes 11:1, Yer 23:5). So.. apakah Yesus memiliki legal standing sebagai Mesias sang Raja?

Dalam pembahasan kita sebelumnya, anak hasil dari Levirate Marriage juga disebut sebagai anak dari saudaranya yang meninggal. Hal ini berarti secara hukum anak itu sah sebagai anak dari saudara ayah kandungnya yang telah meninggal sehingga berhak menerima warisan. Demikian pula Yesus berhak menerima warisan dari Yusuf karena Yesus adalah anak yang sah secara hukum. Tidak hanya hukum Yahudi termasuk hukum internasional saat itu yaitu hukum Romawi.

Pertama Yusuf & Maria secara resmi telah bertunangan/menikah (Mat 1:18, Luk 2:5) dan hal ini tentu dicatat secara administratif menurut hukum Yahudi dalam sebuah "public records"termasuk nama anak mereka. "...Jews preserved their genealogical tables with remarkable accuracy through all the centuries before the birth of Jesus and also during the first century after His birth.. In his Autobiography (para. I) Josephus states that he reproduces his genealogical table as he found it "in the public records". And in his work Against Apion (i) he relates how Jews—even those who lived outside Palestine—sent the names of their children to Jerusalem to be officially recorded. (Geldenhuys, New International Commentary: The Gospel of Luke). Kedua, Yusuf & Maria telah membawa Yesus sebagai anak mereka untuk menjalankan ritual Yahudi yaitu Sunat hari ke delapan (Luk 2:21), pentahiran (Luk 2:22-23) dan secara rutin tiap tahun mengikuti ritual Paskah (Luk 2:41), sehingga secara hukum Yahudi Yesus benar-benar anak Yusuf. Ketiga, Yesus sebagai anak mereka telah didaftarkan dalam sensus yang dilaksanakan oleh pemerintahan Romawi (Luk 2:1).

Mari kita lihat kembali pernyataan M Ali tentang hal ini "..Jadi kalau secara hukum TaNaKH, status Yesus yang disebut anak Daud yang dikaitkan dng Yusuf ternyata tidak memiliki makna apapun. Dalam hal ini saya tidak mempersoalkan status hukum Yusuf sebagai keturunan Daud melalui King Salomo, dan laporan Injil Matius itu sesuai dng status hukum dalam TaNaKH, baik ditinjau dari status perkawinan ipar nenek moyang Yusuf maupun bila ditinjau dari status garis ayah biologis beliau. Namun yang kita kaji ini adalah status hukum Yesus, bukan status hukum Yusuf. Yesus tidak memiliki status hukum apa2 bila dikatikan dng Yusuf.."

Berdasarkan kajian ini maka pernyataan M Ali ini tidaklah berdasar, karena Yesus jelas memiliki status hukum sebagai anak Yusuf yang sah. So... apakah Yesus keturunan Daud melalui Yusuf? jawabannya tegas Yah.

Pembahasan bagian kedua tentang Yesus Keturunan Daud melalui Maria silahkan disimak di link ini.
Share:

Benarkah Shur adalah Hijr al-Hijaz menurut Tafsir Saadia Gaon?

Ulasan ini ditujukan untuk menjawab tulisan Menachem Ali (M Ali) yang diposting di website The Yeshiva Institute dengan judul Dimana Lokasi Hijr Al-Hijaz dan Al-Jafar dalam Targum Saadia?. Apologet Islam ini memang selalu memberi kesan sebagai "linguistic expert" namun jika dikaji secara seksama kajiannya cenderung sebuah "word play" demi agenda yang diusungnya. Tema tentang Hijr al-Hijaz sebenarnya telah didiskusikan lewat FB dan saya telah mengklarifikasi tuduhannya seputar "linguistic study", namun M Ali mengabaikannya dan tetap mengulang tuduhannya tersebut dengan memainkan Strawman Argument.
Share:

Apologetika Islam & Tafsir Saadia Gaon

Sudah hal biasa apologis Islam berupaya mencari rujukan teks dalam Bible untuk mendukung eksistensi Islam. Berbagai ayat ditafsirkan secara eisegesis berdasarkan kemiripan atau kecocokan tertentu dengan mengabaikan konteks dari teks yang dimaksud. Sehingga makna sebenarnya dari teks digantikan dengan makna sesuai keinginan penafsir. Pendekatan ini dipopulerkan oleh debator Islam Ahmed Deedat dan diteruskan oleh penerusnya Zakir Naik. Cara yang lebih "ilmiah" melalui kajian linguistik yang lebih tepat disebutkan sebagai "word play" dilakukan Benyamin Keldani dalam bukunya Muhammad in the Bible. Belakangan ini apologis Islam seperti The Yeshiva Institute (Menachem Ali dkk) mulai concern dengan pendekatan historis dengan mencari sumber-sumber ektrabiblikal terutama literatur rabbinik untuk mendukung posisi Islam. Rujukan utama mereka pada Tafsir Saadia Gaon, seorang rabbi di era Gaonim pada sekitar abad ke-10 yang memberikan beberapa detail informasi yang dianggap mengkonfirmasi pernyataan Quran.

Sebenarnya sangat banyak detail informasi  dari berbagai literatur rabbinik seperti Targum, Talmud, Midrash dan tulisan rabbi-rabbi Yahudi, namun informasi yang diambil TYI hanya bagian sangat kecil yang dianggap cocok dengan teologi Islam. Kepingan informasi itu dikemas dan di-blow up sedemikian rupa dalam framework apologetis Islam. Padahal hal-hal yang substansial yang seharusnya ada kalau memang benar-benar ada justru tidak ada data penunjangnya. Misalnya konsep Tahreef Bible, nubuat kenabian Muhammad, Ismail sebagai anak dikorbankan, eksistensi kabbah & blackstone dll justru tidak ada petunjuk yang bisa mereka dapatkan dari literatur rabbinik yang ada karena memang nihil.

Dalam artikel ini kita secara khusus mengkaji tentang Rabbi Saadia Gaon disingkat Rasag yang Tafsirnya menjadi sumber rujukan utama pihak TYI. Ruang lingkup kajian ini mencakup latar belakang sejarah tafsir Rasag, metodologi penulisannya dan pendapat Rabbi  & Jewish Scholars serta kajian singkat atas literatur rabbinik awal. Sumber referensi yang digunakan adalah tulisan para Scholar yang memang disegani dalam dunia akademik. Namun artikel ini belum masuk pada kajian yang lebih detail seperti kajian linguistik terhadap primary sources. Kajian yang lebih teknis akan menyusul ditulis & publish setelah artikel ini.

Sebelum lebih lanjut, perlu diluruskan dulu opini yang dibangun pihak TYI yaitu Menachem Ali & Ismaun Ghofur yang memposisikan kami seakan-akan menolak tulisan Rasag secara keseluruhan. Ismaun Ghofur dalam sebuah diskusi di FB menyatakan ".. Kristen menolak tafsir Rasag hanya karena alibi penolakan tanpa dasar ilmiah adalah sebuah upaya apologetika tanpa pertanggungjawaban akademik, fakta tradisi Rabbinik justru menerima sepenuhnya Tafsir Rasag..". Padahal tidak ada pernyataan kami yang menolak tafsir Rasag dalam pengertian tafsir secara keseluruhan, melainkan harus dilihat case by case seperti tafsir Rasag atas Kej 10:30 yang menurut kami tidak tepat.

Kekristenan dan Yudaisme terutama sejak era abad pertengahan berbeda pendapat dalam penafsiran teks-teks messianik dalam Tanakh/PL, namun dalam penafsiran ayat-ayat lain umumnya tidak ada perbedaan yang substansial. Sebaliknya pernyataan Ismaun Ghofur bahwa tradisi rabbinik menerima sepenuhnya tafsir Rasag justru bertentangan dengan data yang ada karena dalam beberapa detail tertentu rabbi-rabbi lain seperti Ibn Ezra, Rashi, Radak dll tidak sependapat dengan Rasag. Bahkan beberapa Jewish Scholar masa kini mengkritisi metodologi penafsiran yang dilakukan Rasag. Herannya TYI yang mengklaim bahwa pihak yang mengkritisi Rasag dianggapnya tidak akademik, justru tidak memberlakukan data seputar Rasag secara proporsional tetapi terlalu melebih-lebihkan melampaui kapasitas data yang ada. Apakah pihak TYI memang sepenuhnya menerima tafsir Rasag dan konsisten dengan sikapnya ini?

Kita akan menggali lebih lanjut masalah ini diawali dengan pembahasan latar belakang sejarah tafsir Rasag. Selanjutnya mencermati metodologi penafsiran yang dilakukan serta memperhatikan pendapat dari rabbi Yahudi dan Jewish scholars.

A. LATAR BELAKANG SEJARAH TAFSIR RASAG
Saadia Gaon (Rasag) merupakan salah satu rabbi terkenal di era Geonim, lahir di tahun 882 M di distrik Fayyiim Mesir dan meninggal di tahun 942M pada abad ke-10. Pada awal tahun 920 M menjadi figur penting di lingkaran rabbinik dan di tahun 928 diberi posisi sebagai Gaon kepala Akademi Sura sekolah rabinnik yang berada di Baghdad. Biografi lengkap Rasag ditulis Henry Malter dalam bukunya Saadiah Gaon: His Life and Works (Philadelphia, 1921).

Pada masa hidup Rasag, pemerintahan Islam telah berkuasa di seputar Timur Tengah, Afrika Utara dan seputar Mediterania sampai ke Andalusia Spanyol. Pasca kejayaan dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus, dinasti selanjutnya dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad melanjutkan hegemoni pemerintahan Islam. Kehadiran pemerintahan Islam pada masa Rasag di abad pertengahan telah memberi dampak semakin meluasnya pengaruh Islam dan budaya Arabic di wilayah-wilayah yang dikuasai Islam. Pihak minoritas seperti Yahudi & Kristen memang dilindungi terutama bagi mereka yang taat terhadap penguasa ditandai dengan memberikan pajak (jizyah). Namun kuatnya pengaruh Islam dan budaya Arabic ikut mempengaruhi kehidupan orang Yahudi & Kristen pada masa itu.

Teguh Hindarto telah melakukan kajian cukup komprehensif latar belakang sejarah masa hidup Rasag dalam tulisannya Saadia Gaon dan Tumbuhnya Tradisi Penulisan Judeo Arabic di Era Pemerintahan Islam: Tinjauan Sosio Historis. Dalam tulisan itu Hindarto menggambarkan keberadaan pemerintahan Islam dan dampaknya terhadap kehidupan orang Yahudi pada masa itu, salah satunya berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab "...Sejak pemerintahan Islam menaklukkan negara-negara besar di atas (Persia, Spanyol, Konstantinopel), bukan saja warga negara yang ditaklukkan memiliki status dhimmi melainkan terjadi penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa lisan dan tulisan serta media penyebarluasan pengetahuan dan kebudayaan dengan menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani klasik yang menjadi basis perkembangan sains modern di kemudian hari. Bukan hanya karya-karya filsafat Yunani klasik melainkan naskah-naskah keagamaan Yahudi/Yudaisme pun diterjemahkan dalam bahasa Arab.." hal 5.

Rasag merupakan rabbi Yahudi yang merintis penerjemahan Torah secara lengkap ke dalam bahasa Arab. Uniknya terjemahan berbahasa Arab itu tetap menggunakan karakter Hebrew yang diistilahkan dengan nama Judeo Arabic. Hindarto menyatakan bahwa kehadiran bahasa Judeo-Arabic merupakan cara komunitas Yahudi beradaptasi terhadap pengaruh dan dominasi pemerintahan Islam. Rasag yang hidup di lingkungan pemerintahan Islam terutama saat dia menjadi kepala Akademi Sura di Baghdad yang menjadi pusat pemerintah dinasti Abbasiyah melakukan penerjemahan Torah ke dalam Arabic karena kondisi yang mengharuskan dia melakukan hal seperti itu.

Penerjemahan yang dilakukan Rasag juga melibatkan penafsiran Rasag atas teks-teks Torah sehingga tulisannya lebih tepat disebut Tafsir dalam bahasa Arab dibanding Tarjamah sama seperti Targum yang merupakan parafrase Torah/Tanakh dalam Aramaic. M. Polliack menyatakan hal tersebut dalam bukunya The Karaite Tradition of Arabic Bible Translation: A Linguistic and Exegetical Study of Karaite Translations of the Pentateuch from the Tenth and Eleventh Centuries C.E. (Leiden, 1997)  ".. Saadiah's awareness of the interpretive nature of his translation of the Pentateuch may explain its designation as tafsir; a term which better conveys this sense than the term tarjamah.." hal 86. Dalam kajian kita selanjutnya, tidak hanya sebatas pengaruh penggunaan Arabic terhadap Rasag namun juga adanya serapan Islamic Terms dalam proses penerjemahan/penafsiran yang dilakukan Rasag.

B. SERAPAN “ISLAMIC TERMS” DALAM TAFSIR RASAG
Saadia Gaon dalam tafsirnya atas Torah menggunakan beberapa Islamic terms seperti Allah sebagai kata ganti YHWH & Elohim, Imam, Rasul, Musa dan sebagainya. Penggunaan terms dari luar sebagai bahasa serapan merupakan hal yang biasa seperti bahasa Indonesia yang menyerap kata-kata dalam bahasa Arab, Ibrani, Sansekerta dll yang juga digunakan dalam Alkitab dan terjemahan Quran. Quran sendiri dalam bahasa aslinya Arab juga terdapat kosakata serapan dari bahasa Ibrani, Yunani dsb. Namun masalahnya, Rasag melangkah lebih jauh dengan menggunakan Islamic Terms yang umumnya nama-nama geografis yang ada dalam Torah digantikan dengan nama yang ada dalam tradisi Islam yang lokasinya berbeda.

Pihak apologis Islam seperti TYI mengklaim bahwa nama-nama geografis itu dalam tradisi Islam yang disebutkan dalam Tafsir Rasag merujuk pada lokasi yang sama. Sehingga hal ini menguatkan upaya pihak Islam membangun benang merah antara Islam dan tradisi sebelumnya sebagaimana tercatat dalam Tanakh/PL. Beberapa Islamic Terms yang dimaksud adalah:
  • Mecca = Mesha dan Madinah = Sefar dalam tafsir Kej 10:30
  • Mata air Zam-zam = sumur Lahai Roi dalam tafsir Kej 16:13-14
  • Al-qiblah untuk Negeb dalam tafsir Kej 12:9, 13:1
  • Hijr Al-Hijaz = Shur dalam tafsir Kej 16:7 dan lain-lain. 
Untuk mendukung tafsir Rasag, pihak TYI mengajukan kitab Asathir yang diklaim sebagai Targum Samaritan yang di dalamnya ada tulisan Bakkah. Selain itu mereka melakukan eisegesis atas kata boakah sebagai Bakkah dalam Kej 25:18 serta menafsirka lembah Baka dalam Maz 84:7 sebagai Bakkah/Mekkah. Kemudian mencoba mengangkat figur Ismael yang diklaim setara dengan Ishak karena sama-sama sebagai anak (benih) Abraham.
Masing-masing point akan dibahas tersendiri melalui kajian detail mengacu pada primary sources serta membandingkan secondary sources yaitu kajian Bible Scholars yang ahli dibidangnya. Secara garis besar bisa dijelaskan secara ringkas nama-nama yang disebut dalam tafsir Rasag berikut ini: 
  • Pernyataan Rasag bahwa Mecca = Mesha dan  Madinah = Sefar justru bertentangan dengan tradisi Islam karena dalam hadist Bukhari disebutkan saat kunjungan Abraham ke Bakkah tempat itu belum berpenghuni dan tafsir Rasag tidak didukung oleh umumnya rabbi-rabbi Yahudi serta analisis historis sebaran keturunan Joktan tidak merujuk ke daerah Mekkah & Madinah.
  • Sumur Lahai Roi yang dianggap sebagai mata air Zam-zam juga bertentangan tradisi Islam yang menyebutkan mata air Zam-zam ditemukan oleh Hagar & Ismael sedangkan dalam Tanakh sumur Lahai Roi ditemukan oleh Hagar dan saat itu Ismael belum lahir. Letak sumur Lahai Roi di antara Kadesh & Bered di selatan Palestina bukan di Arabia.
  • Kata al-qiblah sebagai Negeb juga tidak tepat karena kata Negeb bisa merujuk pada nama tempat (tanah Negeb) yang berada di wilayah selatan Israel atau arah selatan dan tidak ada sangkut pautnya dengan arah Qiblah ke Kabbah di Mekkah. 
  • Kata Hijr Al-Hijaz = Shur tidaklah tepat karena Shur yang dimaksud masih terletak di wilayah selatan Israel dekat dengan Kadesh, sedangkan Hijaz nama kuno untuk sebuah wilayah yang berada di Arabia. Kata Hagra dalam Tarqum juga tidak merujuk pada Mekkah melainkan dibagian selatan Israel. 
Seorang Jewish Scholar bernama David M. Freidenreich telah melakukan kajian cermat terhadap tafsir Rasag dalam tulisan The Use of Islamic Sources in Saadiah Gaon's "Tafsīr" of the Torah", The Jewish Quarterly Review, New Series, Vol. 93, No. 3/4 (Jan. - Apr., 2003). Freidenreich menyatakan "..Saadiah Gaon's influential translation of the Torah into Arabic has long been known to contain countless "mistranslations," passages in which Saadiah consciously modifies the biblical text to conform to Arabic literary style or to his own beliefs and understanding of the Bible. Several of the modifications found in Saadiah's Tafslr derive from Islamic sources, including Islamic terminology and phraseology, Islamic law and tradition, and the Qur'an itself." hal 353.

Freidenreich telah memberikan bukti komprehensif terhadap pernyatannya tersebut tentang "mistranslations". Salah satunya tentang tafsir Rasag mengenai hajr alhijaz=road to shur dalam Kej 16:7 "... Saadiah's Tafsir of Gen 16:7 thus ignores all biblical evidence that Shur is in the Sinai and reports that Hagar received the annunciation of the birth of Ishmael on the road to Mecca, the very location to which, according to Islamic tradition, Abraham took Ishmael and Hagar after Sarah sent them away and the place in which Abraham built the Ka'bah. There can be no doubt that the translation of shur as hajr alhijaz must be due to the influence of Islamic traditions, as Jewish sources ascribe no significance whatsoever to the Hijaz region of Arabia..” hal 374. Demikian pula tentang Mesha = Mecca dan Sefar=Madinah dalam tafsir Kej 10:30, Freidenreich menyatakan "... he (Rasag) translates the locations Mesha and Sephar as Mecca and Medina, respectively; Saadiah was clearly not averse to including references to Islamic sites in the Tafsir.." hal 375-376.

Kajian yang dilakukan David M. Freidenreich tentulah dapat dipertanggungjawabkan secara akademik yang jelas bukan sebuah "pseudo academic" sebuah term yang disematkan pihak TYI terhadap lawan diskusinya. David M. Freidenreich sendiri adalah Associate Professor of Jewish Studies di Colby College. Dia mendapatkan gelar Ph.D dari Columbia University dan rabbinic ordination dari the Jewish Theological Seminary.  Ini merupakan bukti bahwa tafsir Rasag tidak harus diterima sepenuhnya.

Untuk melengkapi pemahaman kita atas masalah ini, kita perlu mengetahui dari mana sumber informasi tentang berbagai Islamic Tems ini. Jika kita kembali pada pembahasan sebelumnya mengenai latar belakang sejarahnya, maka tindakan Rasag ini dilakukan karena kondisi saat itu begitu kuatnya hegemoni Islam. Apalagi dia berada di Baghdad yang merupakan pusat pemerintah dinasti Abbasiyah. Dalam buku H. Malter, Saadiah Gaon: His Life and Works (Philadelphia, 1921), Malter menuliskan pengaruh dari penulis-penulis Islam di Mesir sebelum dia pindah dari Mesir ke Palestina ".. The question is to what extent did Saadia, prompted either by his own desire for learning, or other motives, familiarize himself with the works of Muhammedan authors before his emigration from Egypt to Palestine. We shall have occasion to show the influence of Arabic literature on Saadia in works of his, written beyond a doubt at a later period of his life. Here, only the following passage can be cited to prove that the Arabic influence had begun to show its traces at the time when he was preparing one of his earliest known literary productions, the Hebrew lexicon and rhyming dictionary 'Agron. The very name of this book, written in his twentieth year, is in imitation of titles used by Muhammedan authors for similar works.." hal 39.

C. RABBI-RABBI YAHUDI, JEWISH SCHOLARS & TAFSIR RASAG
Rasag adalah rabbi terkenal di era Geonim (540 - 1040 M) dan selanjutnya di era Rishonim (1040 - 1560 M) bermunculan banyak rabbi yang terkenal dan sering menjadi sumber rujukan Yudaisme seperti Shelomo ben Yitzhak (Rashi), Shmuel ben Meir (Rashbam), Moshe ben Nachman (Ramban), Rabbi Moshe ben Maimonede (Rambam), Avraham ben Meir (Ibn Ezra), David Kimchi (Radak) dll. Namun dari sekian banyak tulisan dari para rabbi ini sangatlah sedikit yang menyebutkan informasi yang sejalan dengan Rasag terhadap penyebutan nama-nama geografis seperti Mesha = Mecca, Lahai Roi = Zam-zam dll.

Memang Radak menyebutkan tentang tafsiran Rasag mengenai Kej 10:30 Mesa=Mecca & Sefar=Madinah, namun bukan berarti Radak sependapat dengan Rasag. Karena Radak justru punya penafsiran sendiri yang berbeda dengan Rasag. Jika memang benar Mesa=Mecca maka informasi ini merupakan salah satu informasi penting yang seharusnya telah diketahui rabbi-rabbi lainnya. Ayat ini dalam perikop Table of Nations secara khusus ayat 30 itu berkaitan dengan sebaran tempat tinggal keturunan Joktan. Namun hanya beberapa Rabbi yang mengulas tentang Joktan dan tidak menyinggung sama sekali tentang keberadaan Mekkah & Madinah tersebut. Satu-satunya konfirmasi dari rabbi-rabbi lain seperti Radak dan Ibn Ezra yaitu tentang sumur Lahai Roi sebagai mata air Zam-zam. Namun mereka hanya menyatakan dugaan saja yang jika dibandingkan dengan tradisi Islam justru kontradiktif. Karena mata air Zam-zam dalam tradisi Islam ditemukan oleh Hagar & Ismael sedangkan Lahai Roi oleh Hagar sendiri & Ismael belum lahir. Mengenai al-Qiblah = Negeb dan Al-Hijaz = Shur, tidak dukungan  pernyataan rabbi-rabbi yang lain.

Bahkan rabbi Abraham Ibn Ezra justru mengkritik penyebutan nama-nama lokasi biblikal dalam tafsir Rasag yang dianggapnya hanya mimpi atau imajinasi Rasag dalam rangka menyesuaikan tafsirannya dengan Islam. Sebagaimana dinyatakan Freidenreich mengenai tafsir Ibn Ezra atas Kej 2:11 "... The 12th-century commentator Abraham Ibn Ezra, who frequently cites and often rejects Saadiah's translational interpretations, comments acerbically that: [Saadiah] did this with families, cities, animals, birds, and rocks. Maybe he saw them in a dream. And he certainly erred in some cases, as I will explain in their proper places. If so, we should not rely on  his dreams. Perhaps he did this for the glory of God. Because he translated the Torah in the language of Ishmael and in their script ..". Idem

Rabbi Saadia Gaon memang diakui dalam tradisi rabbinik sebagai salah satu rabbi yang berpengaruh di samping Rashi, Rambam dll. Namun bukan berarti seluruh tafsirannya harus diterima, buktinya pernyataan-pernyataan berkaitan dengan Mekkah dalam Tanakh tidak mendapat dukungan dari rabbi-rabbi lainnya. Bahkan dari pihak Yudaisme masa kini tidak ada pernyataan yang mendukung tafsir Rasag berkaitan dengan Mekkah tersebut, termasuk Tovia Singer yang cukup dekat dengan Menachem Ali. Demikian pula dalam tulisan-tulisan akademis dari Jewish sholars tidak ada yang memperhitungkan pernyataan Rasag tersebut. Nahum Sarna seorang Jewish Scholar yang disegani dalam commentary-nya atas kitab Kejadian tidak menyebutkan pernyataan-pernyataan Rasag tersebut. Sarna, N. M. (1989). Genesis. English and Hebrew; commentary in English.; The JPS Torah commentary. Philadelphia: Jewish Publication Society. Demikian pula dalam commentary berbobot lainnya diantaranya:
  • Adele Berlin & Marc Zvi Brettler,  The Jewish Study Bible, Oxford University Press, 2004
  • Speiser, E. A, Genesis: Introduction, Translation, and Notes (70). New Haven;  London: Yale University Press, 2008 
  • Skinner, J., A critical and exegetical commentary on Genesis. New York: Scribner, 1910
  • Lange, J. P., Schaff, P., Lewis, T., & Gosman, A, A commentary on the Holy Scriptures : Genesis. Bellingham, 2008
  • Fruchtenbaum, A. G,  Ariel's Bible commentary: The book of Genesis (1st ed.), San Antonio, TX: Ariel Ministries, 2008



D. LITERATUR RABBINIK AWAL & TAFSIR RASAG
Dari mana sumber informasi Rasag dalam menuliskan hal-hal tersebut? masa hidup Rasag di abad ke-10 M sangat jauh dengan masa terjadinya kisah-kisah tersebut pada sekitar abad 18 SM. Jika tafsirnya hanya sebatas tafsiran moral dalam penerapan Torah bisa saja itu sebagai inovasi atau penemuan baru. Namun informasi berupa nama-nama geografis seperti Mesha, Lahai Roi tidak bisa hanya sekedar imajinasi semata, melainkan perlu warisan dari oral tradition dan mendapat konfirmasi dari sumber-sumber yang lebih awal seperti Targum, naskah Qumran, jewish apokriph, jewish pseudopigrapha dan berbagai literatur rabbinik masa-masa awal. Satu-satunya rujukan yang dianggap berasal pada masa awal sekitar abad ke-2 adalah kitab Asathir. Namun uraian dari kitab Asathir juga bertentangan dengan tradisi Islam dan menurut para ahli yang kredibel dalam studi Samaritan Aramaic, kitab Asathir ini merupakan produk belakangan pada abad pertengahan.

Apakah Saadia Gaon mewarisi oral tradition tentang eksistensi Mekkah khususnya di kalangan bangsa Yahudi sebagaimana klaim M Ali? Kisah Abraham & Ismael yang berkunjung ke Mekkah untuk membangun Kabbah/Mekkah terdapat dalam tradisi Islam seperti Quran, Hadist, kitab Tarikh & Tafsir. Kisah ini jelas peristiwa signifikan dalam masa hidup Abraham & Ismael. Namun mengapa kisah ini tidak tercatat dalam Tanakh/PL?. Bisa saja dijawab bahwa Bible telah dipalsukan, namun kapan pemalsuan ini terjadi untuk menghilangkan kisah "penting" tersebut? Adakah referensi sejarah tentang peristiwa pemalsuan itu? Apakah narasi dalam dokumen Dead Sea Scroll yang paralel dengan Tanakh berbasis Masoret Text juga telah dipalsukan?

Jika peristiwa kunjungan Abraham & Ismael ke Mekkah ini benar-benar fakta sejarah, maka seharusnya narasi kisah ini tercatat dalam Tanakh. Demikian pula keberadaan "Black Stone" dan bangunan Kabbah yang menjadi inti dari Mekkah itu sendiri.Tetapi yang diajukan sebagai bukti hanya untuk eksistensi "Mekkah" sedangkan hal yang substansial yaitu narasi kisahnya dan eksistensi Black Stone & Kabbah tidak ada data pendukungnya. Apakah oral tradition yang dimaksud hanya menyangkut eksistensi "mekkah"? Jelas tidak ada oral tradition seperti itu, kecuali berdasarkan pada penafsiran pribadi Rasag tentang Mesha = Mecca, Lahai Roi = Zam-zam, al Qiblah = Negeb, Al-Hijaz = Shur dsb.

Berbagai dokumen kuno yang relevan tidak ada jejak narasi kisah Abraham ke Mekkah, eksistensi Black Stone & Kabbah termasuk Mekkah itu sendiri. Mulai dari berbagai versi Tanakh: Teks Masoret (bah Ibrani), Septuaginta (bah Yunani) dengan berbagai variannya, Samaritan Pentateuch (bah Aramaic) termasuk dokumen-dokumen Dead Sea Scroll. Berbagai dokumen Jewish Apocrypha seperti Esdras, Tobit, Makkabe dll. Berbagai dokumen Jewish Pseudepigrapha seperti Enoch, Sibylline Oracles, Testament of Levi dll. Berbagai Targum, Talmud, Midrash serta tulisan penulis Yahudi kuno seperti Philo & Joshepus. Bahkan bisa diperluas dengan dokumen-dokumen extrabiblikal seperti tulisan Herodotus, Strabo dll.

E. PENUTUP
Tafsir Saadia Gaon (Rasag) telah digunakan sebagai rujukan apologetika Islam khususnya oleh pihak TYI dalam upaya membuktikan keberadaan Mekkah dalam Tanakh. Namun dari kajian yang cermat, tafsir Rasag yang memuat hal-hal yang mendukung teologi Islam ini justru tidak bisa dilepas dengan kondisi pada masa itu adanya pengaruh budaya Arab & Islam yang begitu kuat. Tafsir Rasag tentang Mekkah, Zam-zam dll ini merupakan pendapat pribadinya yang mengakomodasi Islamic Terms dalam tafsirnya, pendapat ini seharusnya merupakan informasi penting, namun tidak diketahui atau didukung oleh rabbi-rabbi lain seperti Rashi, Rambam dll. Demikian pula pernyataan Rasag itu bukanlah mewarisi oral tradition, karena tidak ada bukti signifikan dari literatur rabbinik awal seperti Targum, Talmud dsb.

Penggunaan tafsir Saadia Gaon oleh apologis Islam sebenarnya problematik bagi Islam sendiri. Karena terbukti pernyataan Rasag itu kontradiktif dengan tradisi Islam seperti penyebutan Mesa=Mekkah yang dalam Tanakh dalam konteks keturunan Joktan. Padahal dalam Hadist Bukhari dituliskan saat kunjungan Abraham ke Mekkah untuk membangun Kabbah, saat itu Mekkah belum berpenghuni. Jika kita mengkaji lebih lanjut sebenarnya tradisi Islam tentang Abraham, Ismael dan kabbah banyak terdapat versi yang kontradiktif. Uraian lengkapnya bisa dibaca dalam buku Reuven Firestone, Journeys in Holy Lands: The Evolution of the Abraham-Ishmael Legends in Islamic Exegesis (Albany, 1990). Demikian pula keberadaan Mekkah pada masa Abraham juga patut dipertanyakan, karena tidak ada rujukan dari berbagai literatur kuno yang menyebut keberadaannya bahkan sebelum abad ke-4. Silahkan baca buku Rafat Amari, Islam in the Light of History, Religion Research Institute, 2004.
Share: