Genealogy Discussion (Seri 3): Yesus Ben Stada/Ben Pandera

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian dari seri diskusi dengan Menachem Ali di Facebook. Tulisan M Ali bisa dibaca di wall FBnya atau lewat Web Yeshiva Institute. http://yeshivainstitute.net/sejarah-yang-terlupakan-part-3/

Hasil gambar untuk Jesus In Talmud

M Ali telah menuliskan panjang lebar tentang pandangan orang Yahudi terhadap Yesus berdasarkan literatur rabbinik bahwa Yesus adalah anak hasil dari perzinahan. Kajian historis tentang pandangan Yahudi ini memang cukup komprehensif disajikan M Ali, namun M Ali terkesan membiarkan pembaca mendapatkan kesan bahwa pandangan itu merupakan fakta riil. Selain itu M Ali tidak kritis mencermati informasi yang disajikan dari data historis tanpa memperhatikan detail dr informasi tersebut.
Pandangan Yahudi yg disampaikan itu pada prinsipnya menolak konsep the virgin birth dalam Injil dan M Ali tidak bersikap kritis terhadap pandangan itu, padahal dalam Quran yang seharusnya menjadi standing point-nya sebagai seorang muslim, justru menerima konsep the virgin birth. QS Maryam 20: Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Penyebutan ayat Quran ini bukan berarti kami membenarkannya sebagaimana disalahpahami oleh pihak tertentu. Karena pernyataan serupa tentang konsep the virgin birth juga dijumpai dalam injil apokrif “...The blessed and glorious ever-virgin Mary, sprung from the royal stock and family of David”. Gospel of the Nativity of Mary, Chapter 1. Namun adanya konsep ini dalam injil apokrif bukan berarti membenarkan otoritas injil apokrif tsb. Kemungkinan besar berbagai dokumen pasca dituliskannya Injil kanonik, telah mengadopsi konsep ini dengan modifikasi-modifikasi tertentu termasuk Quran yang terbit 600an tahun kemudian. Kita akan mengkaji secara cermat data historis yang disajikan M Ali dari literatur rabbinik. Namun terlebih dahulu kita perlu membahas masalah perubahan yang terjadi dalam Talmud & literatur rabbinik lainnya berkaitan dengan rujukan kepada Yesus. Dalam hal ini, saya sependapat dengan M Ali bahwa teks yang berkaitan dgn Yesus telah mengalami sentuhan pengeditan dari pihak Yahudi karena faktor tekanan dr kekristenan. Dalam sejarah terdapat pihak-pihak tertentu dalam kekristenan yang sangat keras terhadap orang Yahudi sehingga menyita & membakar manuskrip-manuskrip Talmud, Midrash dan literatur rabbinik lainnya. Morris Goldstein dalam bukunya Jesus in the Jewish Tradition, New York: Macmillan Publishing Co, 1950, cukup gamblang menjelaskan hal ini, mengenai perintah dari otoritas Yahudi untuk menghilangkan rujukan-rujukan tentang Yesus dari Nazareth dlm Mishnah/Gemara atau mengubahnya sehingga rujukan yg berkaitan dgn Yesus telah berubah bentuknya. Dari teks Talmud Babilonia kita bisa melihat pada catatan kakinya mengenai versi yang belum disensor tersebut. M Ali menyebutkan nama-nama seperti Ben Stada & Ben Pandera dalam Talmud yg dianggap merujuk pada Yesus dari Nazareth. Namun M Ali tidak cermat melihat detail dari keterangan tersebut dan langsung mengadopsi pemahaman bahwa Ben Stada itu Yesus. Salah seorang Pakar R.T. France mengingatkan kita untuk berhati-hati mengambil informasi "sejarah" dr literatur rabbinik. Karena menurutnya sejarah itu sendiri bukan merupakan pokok pembahasan dari para rabbi, informasi sejarah hanya muncul sebagai ilustrasi untuk uraian yg berkaitan dengan hukum dan teologi. France R.T. The Evidence for Jesus, Downers Grove, IL:InterVarsity Press, 1986. Dan hal ini terjadi pada M Ali yang kurang "berhati-hati" melihat teks-teks dalam Talmud tersebut.

Hasil gambar untuk jesus in the jewish tradition morris goldstein
Mari kita lihat teks dlm Talmud Babilonia yg menyebutkan nama Ben Stada & Ben Pandera. Talmud - Mas. Shabbath 104b: HE WHO SCRATCHES A MARK ON HIS FLESH, [etc.] It was taught. R. Eliezer said to the Sages: But did not Ben Stada bring forth witchcraft from Egypt by means of scratches18 [in the form of charms] upon his flesh? Versi yang tidak disensor: Was he then the son of Stada: surely he was the son of Pandira?-Said R. Hisda: The husband was Stada, the paramour was Pandira. But the husband was Pappos b. Judah? — His mother was Stada. But his mother was Miriam the hairdresser? — It is as we say in Pumbeditha: This one has been unfaithful to (lit., ‘turned away from’ — satath da) her husband. — On the identity of Ben Stada v. Sanh., Sonc. ed., p. 456, n. 5. Jika Ben Stada yang dimaksud adalah Yesus dan Maria (Miriam) sebagai Stada yang bersuamikan Pappos ben Judah (Yehuda), maka muncul anakronisme disini. Karena Pappos ben Judah hidup sezaman dengan rabbi Akiba yaitu sekitar tahun 135 M. "..Pappos ben Jehudah, whom the Gemara alleges to have been the husband of the mother of Jesus, is the name of a man who lived a century after Jesus, and who is said to have been so suspicious of his wife that he locked her into the house whenever he went out (b. Gitt. 90a ). He was contemporary with, and a friend of, R. Aqiba ; and one of the two conflicting opinions concerning the epoch of Jesus places him also in the time of Aqiba". Travers Herford, Christianity in Talmud & Midrash, William & Norgate, London, 1953 page 40. Ben Stada disebut berasal dari Mesir & membawa sihir dari sana, penyebutan Ben Stada ini lebih merujuk pada orang Mesir sebagaimana tertulis dalam PB, Kis 21:38 "Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?". Keterangan dalam PB ini sejalan dengan tulisan Joshepus, Antiquities 20:8:6 ".. Moreover, there came out of Egypt (20) about this time to Jerusalem one that said he was a prophet, and advised the multitude of the common people to go along with him to the Mount of Olives... Now when Felix was informed of these things, he ordered his soldiers to take their weapons, and came against them with a great number of horsemen and footmen from Jerusalem, and attacked the Egyptian and the people that were with him..." Dalam Talmud tersebut Ben Stada disamakan dengan Ben Pandera yang memang dalam Talmud pada bagian lain Ben Pandera lebih merujuk pada Yesus seperti dalam Talmud Babilonia: Abodah Zarah 27b dan Talmud Yerusalem: Shabbath 14d & Abodah Zarah 40d. Maka penyebutan Ben Stada jelas tidak akurat karena pihak Ammorium telah mencampurkan adukan Orang Mesir itu dengan Yesus. Hal ini membuktikan rujukan dalam Talmud berkaitan informasi sejarah bukanlah informasi yg bisa diandalkan. Makanya seorang Jewish Scholar Joseph Klausner dalam bukunya Jesus of Nazareth, New York: Menorah Publishing Co, 1925, menunjukan sifat kurang dapat dipercaya dari para Ammoraim khususnya berkaitan dengan informasi sejarah, hal ini sejalan dengan pendapat R.T France. Jika kita menelusuri lebih lanjut pada masa sebelum Talmud dikompilasi, kita bisa menemukan informasi dari seorang penulis pagan bernama Celsus yg menentang kekristenan dan salah satunya mengenai tuduhan the illegitimate birth dari Yesus. Tulisan Celsus berjudul the True Discourse (Alethes Logos) tahun 178M telah hilang, namun kutipannya ditemukan dlm tulisan Origen berjudul the Contra Celsum (Against Celsus) thn 248M yang menjawab tuduhan atau serangan dari Celsus termasuk tentang illegitimate birth tersebut yang didengar Celsus dari orang Yahudi diaspora. Hal yang menarik pada masa yang sama dengan Origen yaitu Justin Martyr dalam bukunya Dialogue with Trypho menuliskan pembelaannya terhadap kekristenan dari seorang Yahudi, namun tidak ada tuduhan dari orang Yahudi dalam dialog tersebut mengenai the illegitimate birth dari Yesus. Seorang Bible Scholar disegani Paul Meier dalam salah satu bukunya dari rangkaian bukunya yang monumental tentang studi Yesus sejarah, memberi pengamatan terhadap hal ini ".. That Matthew’s version should be the major target of the parody is hardly surprising. Matthew—the supposedly “Jewish Gospel”—is much clearer in its affirmation of the virginal conception than is Luke, and by the middle of the 2d century Matthew was fast becoming the most popular Gospel in mainstream Christianity... All that the story in Celsus really tells us, therefore, is that by the middle of the 2d century a.d. some Diaspora Jews had become aware of the claims Matthew made in 1:18–25 and had tried to refute them by parody". Meier, J. P. (1991). A marginal Jew, rethinking the historical Jesus: Volume one, The Roots of the Problem and the Person (224). New Haven; London: Yale University Press. page 223. Berdasarkan kajian ini, kita bisa menarik konklusi bahwa rujukan tentang Yesus dalam Talmud bukanlah informasi yang akurat. Tuduhan mengenai the illegitimate birth (anak hasil perzinahan) kemungkinan nanti berkembang setelah beredarnya informasi tentang kelahiran Yesus dalam injil kanonik Matius & Lukas yang di dalamnya menjelaskan tentang kelahiran Yesus dari seorang perawan (the virgin birth). Bahkan perkembangannya justru dimulai di kalangan orang Yahudi diaspora dibanding orang Yahudi di Palestina sebagaimana kita bisa lewat dr pembahasan hal tersebut dalam tulisan Origen & Justin Martyr. Apakah pada masa Yesus, orang Yahudi khususnya ahli-ahli Taurat telah aware dengan kelahiran Yesus yang tidak biasanya (the Virgin Birth) sehingga memunculkan tuduhan mengenai the illegitimate birth, akan kita bahas dalam tulisan berikutnya khususnya tentang Yoh 8:41. Lihat Seri Diskusi
Share:

Kajian Tekstual & Konteks Sejarah Perkataan Yesus: Eli/Eloi Eli/Eloi Lama Sabachthani

Perkataan Yesus di kayu salib "Eli/Eloi Eli/Eloi Lama Sabachthani" menarik untuk dikaji secara teliti, karena beberapa polemikus Islam mempersoalkan perkataan tersebut. Polemik tentang hal ini begitu hangat di bahas di media sosial dan dipertajam dengan kajian The Yeshiva Intitute (TYI) dengan mengkonfrontir perkataan Yesus terhadap teks dalam Tanakh Hebrew dan Targum Aramaic. http://yeshivainstitute.net/hello-world-2/. Pada tulisan ini kita akan fokus pada kajian tekstual dari teks perkataan Yesus itu dan melihat kesesuiannya dengan konteks sejarah bahasa-bahasa di Israel pada abad pertama. Pada tulisan berikutnya kita akan menganalisis berbagai versi Tanakh termasuk Tarqum pada masa Yesus dan teknis pengutipannya yang membuktikan bahwa pengutipan itu tidaklah harus secara verbatim atau harus persis kata demi kata.

Berikut ini point utama dari TYI:
[[[Eli Eli lama azvatani אֵלִ֣י אֵ֭לִי לָמָ֣ה עֲזַבְתָּ֑נִי itu bahasa IBRANI sedangkan Eli Eli methul ma shevaqtani א ִלי ֵא ִלי ְמטוּל ַמה ְשַׁב ְקָתִּני itu bahasa ARAM. Bukan gado-gado Ibrani dan Aram.
Methul ma shevaqtani adalah frase Aram yang termaktub dalam Targum Yonathan, dan Lama shevaqtani adalah frase Ibrani atau Aram? Meskipun artinya sama tapi redaksinya BEDA. Masalahnya dari mana Yesus mengutip ucapan tersebut?
Apakah Yesus mengutip dari Targum versi ubahan sendiri atau rabbi-rabbi Yahudi yang telah mengubah teks Targum Yonathan?]]]


Hasil gambar untuk eli eli lama sabakhtani

Preposisi TYI dalam melontarkan tuduhan ini bahwa setiap perkataan yang merujuk ke Tanakh harus berupa kutipan verbatim (kata per kata). Menurutnya teks dalam Tanakh Hebrew tersebut menggunakan Ibrani dan Targum menggunakan Aramik, sehingga perkataan Yesus harus memilih diantara keduanya. Karena kata-kata dari perkataan Yesus terdapat unsur kata Ibrani & Aramik atau tidak sama persis dengan Tanakh Hebrew & Targum, maka disimpulkan Yesus telah keliru mengutip atau Yesus merujuk Targum ubahannya sendiri. Alternatif lain yang diajukan mereka bahwa teks Targum itu "aslinya" terdapat perkataan Yesus secara verbatim, namun kemudian diedit oleh rabi-rabi Yahudi. Alternatif solusi yang diajukan ini berdampak pada “pembenaran” adanya perubahan teks-teks kitab suci oleh orang Yahudi sesuai dengan perspektif teologis Islam.

Kajian TYI ini secara linguistik terkesan cukup powerfull karena ditunjang dengan data tekstual yang cukup memadai. Namun sayangnya pendekatan linguistik ini mengabaikan konteks sejarah berupa penggunaan bahasa yang multilingual di Israel pada masa Yesus serta cara perujukan ke teks-teks Tanakh melalui interpretasi teks-teks apokaliptik messianik yang lazim pada masa itu. Apakah rujukan atau pengutipan harus verbatim? inilah yang menjadi titik persoalan sebenarnya dan bukan pada masalah di permukaan menyangkut perbedaan minor secara tekstual . Sebagai kickback untuk TYI dan polemikus Islam lainnya, bagaimana jika metodologi mereka ini diterapkan ke Quran? akan terlihat terjadinya standard ganda dan Quran tidak akan lulus ujian berdasarkan standard mereka sendiri.

Tulisan ini diawali dengan kajian tekstual terhadap teks-teks yang dipermasalahkan. Transliterasi dilakukan menggunakan standard kaidah linguistik yang ada sedangkan arti dari beberapa kata kunci serta transliterasinya mengacu pada kamus standard Hebrew/Aramaic & Greek yang banyak digunakan dalam dunia akademik yaitu Strong's Hebrew & Greek Dictionaries. Sebagai pembanding digunakan kamus lainnya seperti Thayer, Gesenius & Jastrow. Untuk penjelasan terhadap konteks sejarahnya mengacu pada pendapat pendapat bible scholar sebagaimana tertulis dalam buku & jurnal akademik yang ada.

1. Kajian Tekstual: Sabachthani & Azavthani

Berikut ini teks yang akan menjadi kajian kita: 
Markus 15:34 Eloi, Eloi, lamma sabachthani
Matius 27:46 Eli, Eli, lama sabachthani
Mazmur 22:1 Eli, Eli Lama Azavthani (Catatan: untuk Bible versi Jewish ayatnya Maz 22:2)

Perkataan Yesus di kayu salib ini terdapat perbedaan antara Markus dan Matius pada kata Eloi &; Eli, sedangkan perbedaan antara Markus/Matius dengan Mazmur pada kata Sabachthani dan Azavthani. Untuk itu kita bahas dulu kata Sabachthani dan Azavthani yang paling dipersoalkan para polemikus Islam. Jawaban standard atas masalah ini dengan menyatakan bahwa kata Sabachthani adalah Aramik sedangkan Azavthani adalah Ibrani, namun kedua-duanya memiliki pengertian yang sama. Jika kita perhatikan teks-teks dalam Markus & Matius, pada bagian pertama penulis tidak menerjemahkan perkataan itu tetapi mentransliterasikannya ke Yunani. Nanti pada bagian kedua penulis memberikan terjemahan atau maknanya dalam bahasa Yunani. Untuk itu kita perlu memahami perspektif penulis Injil ini karena mereka lebih tahu situasinya pada masa itu.
Markus 15:34:...Ελωι ελωι λαμμᾶ σαβαχθανι ὅ ἐστιν μεθερμηνευόμενον Ὁ θεός μου ὁ θεός μου εἰς τί με ἐγκατέλιπές. Translit: elOi elOi lamma sabachthani o estin methermEneuomenon o theos mou o theos mou eis ti me enkatelipes
Matius 27:46:... Ηλι, Ηλι, λαμα σαβαχθανι; τουτ εστι, Θεε μου, Θεε μου, ινατι με εγκατελιπες; Translit: Eli Eli lama sabachthani tout estin thee mou thee mou ina ti me enkatelipes. 
Tidak ada perbedaan signifikan dari kedua "terjemahan" ini, hanya perbedaan minor dalam grammar. Markus menggunakan kata Theos dalam bentuk nominatif sedangkan Matius menggunakan kata Thee bentuk vokatif dari Theos serta perbedaan dalam penggunaan conjuction (eis & ina). Sedangkan kata lainnya terutama verb menggunakan kata yang identik "εγκατελιπες" (enkatelipes). Maka bisa dipastikan antara penulis Markus & Matius memiliki pengertian yang sama terhadap perkataan Yesus di kayu salib tersebut. Mari kita bandingkan dengan teks dalam Mazmur 22:1 dalam versi Greek (LXX/Septuginta)
Mazmur 22:1 . ...Ὁ θεὸς ὁ θεός μου, πρόσχες μοι· ἵνα τί ἐγκατέλιπές με; μακρὰν ἀπὸ τῆς σωτηρίας μου οἱ λόγοι τῶν παραπτωμά των μου. Translit: O theos o theos mou, prósches moi: ína tí enkatelipes me
Teks dalam LXX ini tidak ada perbedaan signifikan dengan Markus/Matius khususnya penggunaan kata "Theos" dan "Enkatelipes". Secara sederhana kita rumuskan silogismenya.
Premis 1: Kata "Sabachthani" dalam bahasa Aramik pada injil Matius/Markus diterjemahkan menjadi "Enkatelipes" dalam bahasa Yunani.
Premis 2: Kata "Azavthani" dalam bahasa Ibrani pada Mazmur diterjemahkan menjadi "Enkatelipes" dalam bahasa Yunani pada LXX.
Konklusi: Kata "Sabachtani" memiliki pengertian yang sama dengan "Azavthani".

Karena kata Sabachthani & Azavthani telah mendapatkan tambahan pronomina suffix "thani" maka kita perlu melacak apa kata dasarnya. Langkah pertama kita bandingkan dulu kata Azavthani & Enkatelipes menggunakan Strong's Hebrew & Greek Dictionaries.
Azavthani: H5800 עָזַב ‛âzab aw-zab' A primitive root; to loosen, that is, relinquish, permit, etc.: - commit self, fail, forsake, fortify, help, leave (destitute, off), refuse, X surely.
Enkatelipes: G1459 ἐγκαταλείπω egkataleipō eng-kat-al-i'-po From G1722 and G2641; to leave behind in some place, that is, (in a good sense) let remain over, or (in a bad one) to desert: - forsake, leave.

Akar kata azavthani: azab dan enkatelipes:egkataleipo dari rentang arti semantik kedua kata tersebut memiliki kesamaan pada makna "forsake/leave" dalam bahasa Indonesia artinya "meninggalkan". Langkah kedua kita mengidentifikasi apa kata dasar yang tepat untuk Sabachthani mengacu pada makna "forsake/leave" tersebut. Ada dua kandidat akar kata yang biasa diajukan dari beberapa peneliti berdasarkan kemiripan dengan kata "Sabach" (tanpa prononima thani) yaitu Shebaq (shebak) dan Zebach (zehbakh), ada beberapa variasi transliterasi dari kedua kata ini. Namun dalam tulisan ini kita gunakan transliterasi & arti kata menurut Strong.

Pertama, H7662 שְׁבַק shebaq sheb-ak' (Chaldee); corresponding to the root of H7733; to quit, that is, allow to remain: - leave, let alone.
Kedua, H2077 זֶבַח zebach zeh'-bakh From H2076; properly a slaughter, that is, the flesh of an animal; by implication a sacrifice (the victim or the act): - offer (-ing), sacrifice.
Berdasarkan rentang arti semantik kedua kata tersebut, maka kata yang pertama "shebak" yang paling sesuai yaitu pada makna kata "leave", sedangkan kata zebach makna katanya "sacrifice" tidak ada kaitannya dengan arti dari kata azavthani & enkatelipes.Selanjutnya kita menentukan jenis bahasa dari kata "shebak" apakah Ibrani atau Aramik dengan membandingkan berbagai Hebrew/Aramaic Dictionaries serta menganalisis sebaran & penggunaan kata ini dalam Tanakh. 

Dari uraian arti kata menurut Strong, kata Shebak disebut sebagai bahasa Chaldee, yang diserap ke dalam Aramik menjadi kata standard Aramik. HWF Gesenius dalam bukunya Gesenius Hebrew-Chaldee Lexicon to The Old Testament, 1846 serta Thayer juga menyatakan hal yang sama kata shebak adalah Chaldee. Sebagai kata standard Aramik kata ini digunakan di berbagai Targum (Aramik) sebagaimana dituliskan Marcus Jastrow dalam bukunya Dictionary of Targumim, Talmud and Midrashic Literature, 1926.

Mari kita lihat distribusi penggunaan kedua kata tersebut dalam Tanakh. Kata Shebaq digunakan sebanyak 5 kali tersebar di 5 ayat, kitab Ezra (6:7) dan Daniel (2:44, 4:15, 4:23, 4:26). Jika dicermati ayat-ayat ini hanya terletak pada teks-teks Aramik dalam Tanakh yang menurut bible scholars teks-teks Aramaic tersebut diantaranya Ezra (4:8-6:18;7:12-26) dan Daniel (2:4b-7:28). Daniel 2:4 (JPS) "Then spoke the Chaldeans to the king in Aramaic...". Sedangkan kata zebach digunakan sebanyak 162 kali di 153 ayat dan tidak satupun kata ini terletak di bagian Aramik dari Tanakh.

Kita sependapat dengan TYI dalam menganalisis teori Hamp tentang kata "shavak" sebagai kata Ibrani. Jika yang dimaksud kata shavak adalah shebak, maka meskipun kata itu terdapat dalam Mishnah tidak serta merta diklaim sebagai Ibrani. Karena memang Talmud & Mishnah banyak menyerap kosakata Aramik. Kata original Ibrani untuk makna yang sama dari kata Shebak: forsake/leave yaitu "azav/azab".

Dari kajian ini kita bisa pastikan bahwa akar kata yang tepat untuk Sabachthani adalah Shebaq (Aramaic) dan bukan Zebach (Hebrew). Jika ada yang tetap berpendapat bahwa akar kata sabachthani adalah Zebach yang artinya sacrifice/mengorbankan maka jelas telah berbeda pendapat dengan penulis Markus & Matius. Kedua penulis memahaminya demikian dan menerjemahkan ke Yunani menggunakan kata "εγκατελιπες/enkatelipes" yang artinya “leave/forsake”. Jika yang dimaksud maknanya adalah “sacrifice” maka akan digunakan kata "θυσία/thusia". Kata Shebaq setelah ditambah pronomina menjadi shebaqthani yang ditransliterasikan ke Greek menjadi σαβαχθανί, huruf vokal e & a disamakan menjadi a dan huruf q atau k menjadi huruf ch dalam bahasa Yunani sehingga transliterasi dalam huruf latinnya menjadi Sabachthani.

2. Kajian Tekstual: Eli/Eloi & Lamma
 
Sekarang kita kaji kata Eli & Eloi, mengapa terdapat perbedaan antara Markus & Matius?. Selama ini pemahaman umum yang berkembang kata Eli adalah Ibrani sedangkan Eloi adalah Aramaik. Arti kata Eli menurut Strong, G2241 ἠλί ēli ay-lee' Of Hebrew origin ([H410] with pronoun suffix); my God: - Eli. Kata El merupakan Noun yang merupakan nama ilahi selain Eloah dan Elohim. Setelah ditambahkan pronoun menjadi El-i atau my God/Allahku.

Kata Eloi yang selama ini dikenal sebagai Aramik, menurut saya kurang tepat. Karena kata yang tepat untuk Aramik adalah Elahi terdiri atas kata Elah bentuk noun nama ilahi dalam Aramik ditambah suffix pronoun "i" menjadi Elahi. Contoh penggunaan kata Elahi dalam Aramik bisa dilihat pada bagian Aramik dari Tanakh (Daniel 4:8). Kata Eloi merupakan salah satu varian hasil transliterasi dari Ibrani ke Yunani. Contohnya bisa dilihat dalam versi Greek dari Tanakh (LXX), Hakim-hakim 5:5 ὄρη ἐσαλεύθησαν ἀπὸ προσώπου κυρίου Ελωι, tertulis kata κυρίου Ελωι yang ditransliterasikan menjadi kyríou Eloi, kata Ελωι yang sama terdapat juga dalam Markus 15:34 ελωι ελωι λαμμα σαβαχθανι.

Bagaimana dengan kata λαμμα (Lamma)? Menurut Strokng kata ini adalah Ibrani; G2982 λαμά, λαμμᾶ lama lamma lam-ah', lam-mah' Of Hebrew origin ([H4100] with preposition prefixed); lama (that is, why): - lama. Kata dasarnya dalam Ibrani H4100, maw, mah, maw, mah, meh, A primitive particle; properly interrogitive what? (including how?, why? and when?). Penggunaan kata dasar yang mirip (מָה mâh) juga digunakan dalam teks-teks Aramik dengan makna yang sama (Why/Mengapa), seperti dalam Daniel 2:15 (מָה mâh). Kata ini menurut Strong adalah Aramik/Chaldee merujuk pada kata dasar yang mirip seperti yang digunakan dalam kata "lamma". H4101 מָה mâh maw (Chaldee); corresponding to H4100: - how great (mighty), that which, what (-soever), why.

Dari kajian ini kita telah mengetahui bahwa kata Eli bahasa Ibrani, Lamma bahasa Ibrani/Aramik dan Sabachthani bahasa Aramik. Dari data ini, maka kemungkinan paling kuat bahwa bahasa dasar yang digunakan Yesus adalah Aramik mengacu pada penggunaan kata sabachtani, jika bahasa dasarnya Ibrani maka yang digunakan Azavthani. Kata Lamma memang cenderung Ibrani namun memiliki akar kata yang mirip dengan Aramik, sehingga kata dasarnya Aramik telah mendapat pengaruh dari Ibrani. Khusus untuk kata Eli ada dua kemungkinan, pertama karena berkaitan dengan nama ilahi, orang Israel termasuk Yesus cenderung menggunakan istilah dalam Ibrani dibanding Aramik. Kemungkinan kedua kata El itu sendiri sifatnya generik untuk nama ilahi sebagai kata dasar untuk Elah (Aramik) dan Elohim (Ibrani), sehingga bisa digunakan oleh penutur bahasa Ibrani maupun Aramik.

Kesimpulan dari kajian tekstual ini perkataan Yesus tersebut menggunakan bahasa dasar Aramik yang beberapa katanya telah mendapat pengaruh cukup kuat dari Ibrani. Kesimpulan ini akan kita uji dengan kajian konteks sejarah bahasa-bahasa Palestina pada masa Yesus.

3. Kajian Konteks Sejarah Bahasa-bahasa di Israel pada Abad Pertama

Palestina pada masa Yesus memiliki keanekaragaman bahasa: Yunani, Ibrani dan Aramik bahkan di lingkungan penguasa Romawi digunakan bahasa Latin. Tidak heran tulisan pada salib Yesus (Titulus) dituliskan dalam tiga bahasa. Yoh_19:20 "... kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani". Kajian para scholar secara umum menyatakan bahwa orang Israel pada masa itu termasuk Yesus bisa berbahasa Ibrani & Aramik termasuk Yunani walaupun dalam bentuk percakapan yang sederhana.
"..Simultaneously, then, from about the time of the Maccabean revolt until into the third century A.D., the peoples of Palestine coexisted in a state of multilingualism. Native speakers of Hebrew, various dialects of Aramaic, anda Koine Greek lived side by side... Current scholarship tends to support the belief that Jesus may well have spoken at least three languages: Hebrew, Galilean Aramaic, and at least some Greek. Roger T. Macfarlane, Language of New Testament Judea, hal 233
"...This means that for Jesus to have conversed with inhabitants of cities in the Galilee, and especially of cities of the Decapolis and the Phoenician regions, he would have had to have known Greek, certainly at the conversational level..", The Galilee in Late Antiquity, Lee Levine (ed.), Jewish Theological Seminary of America: 1992
Penyebaran bahasa Aramik di Israel di mulai pada periode kerajaan Assyrian (720 SM), pada saat itu Aramik menjadi bahasa internasional (lingua franca) menggantikan Akkadian. Pengaruhnya semakin besar sejak periode Persia (538-332 SM), saat itu Persia menduduki wilayah-wilayah di sekitarnya termasuk daerah Palestina/Israel. Wilayah utara Israel yaitu Galilea yang berbatasan dengan Asyur/Persia jelas terkena dampak paling kuat dibanding daerah selatan: Yudea dan Yerusalem. Pada sekitar tahun 332 SM Alexander dari kerajaan Yunani menaklukan Persia sehingga mengakhiri hegemoni Persia digantikan dengan helenisasi diseantero wilayah mediterania termasuk Palestina, saat itulah bahasa Yunani menancapkan pengaruhnya. Pada masa Yesus bahasa lokal di Palestina menggunakan bahasa Ibrani/Aramik, sedangkan bahasa Yunani merupakan bahasa internasional yang umumnya digunakan dalam perdagangan, diplomasi, & surat menyurat. Makanya injil ditulis dalam bahasa Yunani untuk menjangkau semua orang termasuk non Yahudi. 

Penggunaan bahasa Aramik di Israel tidak saja dampak dari aneksasi kerajaan Persia, namun yang sangat signifikan terjadi saat orang-orang Israel dibuang ke Babel. Saat di Babel mereka diajarkan bahasa Aramik seperti Daniel dan orang-orang muda lainnya dan berinteraksi dengan penduduk setempat menggunakan Aramik. Sekembalinya dari Babel banyak orang Israel telah menggunakan Aramik dan khususnya untuk anak-anak mereka banyak yang tidak berbahasa Ibrani. Neh 13:24 “Sebagian dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain itu dan tidak tahu berbicara bahasa Yahudi”. Para scholar seperti Joseph a. Fitzmayer telah mengkaji fenomena ini.
"..During the Babylonian captivity (sixth century B.C.) many Jews had been cut off from their homeland; in Babylonia, they had come to use the dominant lingua franca, Aramaic, a sister language of Hebrew. After their return, some of the returnees probably used Hebrew, but the use of Hebrew does not seem to have been widespread. Fitzmyer, Joseph A. “Did Jesus Speak Greek?.” Biblical Archaeology Revi ew, Sep/Oct 1992, 58-63, 76-77.
Bible scholars awalnya cukup banyak yang memandang fenomena pengaruh Aramik ini secara berlebihan dengan beranggapan bahasa Ibrani menjadi bahasa yang mati dan hanya digunakan di sinagoge saja atau dilingkungan keagamaan bangsa Yahudi. Namun dari berbagai penemuan arkeologi dan kajian terbaru, pemikiran ini sudah out of date.
"..Earlier scholarship used to argue that Hebrew had become a dead language after the exile, and that Aramaic was the spoken language of ordinary Jews" M.O Wise "Languages of Palestine" in Dictionary of Jesus and the Gospels, (Downer’s Grove, IL: InterVarsity Press) 1998, c1992. 
Inskripsi arkeologi dari Dead Sea Scroll menjadi salah satu bukti membantah anggapan itu, dengan jumlah teks-teks mayoritas dalam Ibrani dari berbagai dokumen Qumran tersebut. Namun di sisi lain mengambil kesimpulan ekstrim sebaliknya bahwa bahasa utama saat itu Ibrani dan mengecilkan arti bahasa Aramik juga tidak tepat. Karena di lingkungan Qumran yang sektarian dan tertutup itu, jejak pengaruh bahasa Aramik cukup banyak ditemukan walaupun tidak sebanyak Ibrani. Beberapa teks Aramik dari DSS sebagai berikut; Genesis Apocryphon, the Prayer of Nabonidus, the New Jerusalem text, bagian2 dari Enoch literature, a “pseudo-Daniel” cycle, Tobit dan the Testament of Levi. Selain itu kehadiran Targum yang merupakan parafrase Aramik dari Hebrew Tanakh juga menjadi salah satu bukti pengaruh Aramik yang cukup kuat di Israel pada abad pertama.

Persoalan Hebrew vs Aramaic memang masih diperdebatkan para ahli, namun satu hal yang pasti bahwa kedua bahasa ini memang telah eksis di Israel pada masa Yesus. Maka yang perlu dicermati bagaimana kehadiran secara bersama kedua bahasa ini. Beberapa scholar telah menganalisis tentang penyebaran kedua bahasa ini secara geografis bahwa di bagian utara Palestina/Israel yaitu Galilea tingkat konsentrasi pengggunaan Aramik lebih tinggi dibanding Ibrani dibanding bagian selatan; Yudea & Yerusalem. Beberapa scholar menyebut bahasa di Galilea ini sebagai Jewish Palestine Aramaic dan ada pula yang menyebutkan sebagai bahasa Ibrani dialek Galilea. Keterangan mengenai perbedaan bahasa atau dialek ini bisa kita temukan dalam Injil.
Mat 26:69 Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu. ...
Mat 26:73 Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." 
Rabin Chaim seorang jewish scholar menyatakan pendapatnya mengenai perbedaan bahasa/dialek di kedua daerah ini
"...while in Jerusalem mishnaic Hebrew was a home language and probably already also a literary language, and Aramaic a lingua franca, in Galilee Aramaic was a home language..", Rabin, Chaim. “Hebrew and Aramaic in the First Century.” in The Jewish People in the First Century: Section One: Historical Geography, Political History, Social, cultural and Religious Life and Institutions. Edited by Shmuel Safrai and Menahem Stern. Philadelphia: Fortress, 1976.
Tesis Chaim cukup masuk akal mengingat daerah Galilea berbatasan dengan Assyria sehingga tingkat penetrasi Aramik begitu tinggi, disamping itu kondisi Galilea umumnya pedusunan yang kurang maju di banding Yerusalem & Yudea. Kajian Chaim sejalan dengan Michael O. Wise yang menyatakan kurangnya pengaruh Ibrani di Galilea dibanding di Yudea.
"...The fact that the region [of Galilee] came under Jewish control only after some centuries of government by Aramaic and Greek-speaking rulers suggests that Hebrew was much less well known in Galilee than it would have been in Judea..." Michael O. Wise, "Languages of Palestine." Pages 434-44 in The Dictionary of Jesus and the Gospels (IVP: 1992).
Berdasarkan data ini, saya cenderung pada posisi bahwa bahasa dasar yang digunakan Yesus adalah Aramik karena Dia memang besar di Nazareth daerah Galilea dan pelayanannya umumnya di daerah tersebut. Namun pengaruh Ibrani dari bahasa yang digunakan Yesus begitu kuat, sebagaimana terlihat dari penggunaan beberapa kata Ibrani disamping Aramik & sebagian kecil Yunani yang tercatat dalam Injil. Silahkan saja bagi mereka yang berpendapat lain bahwa bahasa dasar Yesus adalah Ibrani, masalah ini bukan fokus tulisan ini. Jika seandainya Ibrani memang bahasa dasar Yesus maka pengaruh Aramik juga begitu kuat terhadap bahasa dasar tersebut. Hubungan saling mempengaruhi ini telah dikaji oleh banyak scholars salah satunya Roger T. Macfarlane.
 "..There is no doubt that Aramaic influenced the grammar and vocabulary of postexilic Hebrew. Aramaic, on the other hand, was no uniformly applied by the various ethnic and cultural groups that received it, Roger T. Macfarlane, Language of New Testament Judea, hal 233 ".
4. Kesimpulan

Kajian konteks sejarah bahasa-bahasa di Israel sejalan dengan kajian tekstual sebelumnya mengenai perkataan Yesus di kayu salib. Apa yang dikatakan Yesus di kayu salib tersebut merupakan kata-kata ungkapan keseharian mereka. Berbagai pengajaran Yesus yang merujuk kepada Tanakh termasuk berbagai perumpamaan dan pengajaran penggenapan nubuatan yang diajarkan Yesus menggunakan ungkapan keseharian dari penduduk Israel pada masa itu. Maka perkataan Yesus di kayu Salib dalam bahasa Aramik dengan pengaruh Ibrani merupakan hal yang wajar pada masa itu. Dari kajian ini pendekatan linguistik lewat kajin tekstual yang teliti, sangat cocok dengan kajian konteks sejarahnya. Sehingga anggapan bahwa kutipan atau rujukan kepada Tanakh harus mengacu secara verbatim pada teks Ibrani (Proto Masoret) atau teks Aramik (Tarqum) tidaklah tepat. Karena pengungkapan kata-kata dari pengutipan itu disesuaikan dengan ungkapan sehari-hari namun maknanya tepat sama dengan apa yang dimaksudkan dalam Tanakh tersebut.
Share:

Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib

Fakta kematian Yesus memiliki dasar pembuktian yang sangat kuat, baik dari data biblikal maupun extra biblikal. Namun fakta ini ditolak oleh Quran yang muncul sekitar 600 tahun kemudian setelah peristiwa penyaliban & kematian Yesus. Kesarjanaan modern dari berbagai spektrum teologis dari konservatif sampai liberal tidak ada yang menolak salah satu fakta mendasar ini, bahwa Yesus memang telah disalibkan & mati. Bahkan scholar yang dikenal liberal, agnostic & atheis seperti John Dominic Crossan, Bart Ehrman & Gerd Ludemann tidak ada yang berpendapat bukan Yesus yg disalib atau Yesus tidak mati disalib. Namun para sarjana Islam tetap bertahan melawan pendapat mayoritas scholar ini dengan tetap meyakini bahwa Yesus tidak mati sesuai apa yang dinyatakan Quran.

Muncul pertanyaan berkaitan dengan konteks sejarah dari pernyataan Quran tersebut, apakah pernyataan ini memiliki kaitan dengan data sejarah sebelumnya? Atau pernyataan yang benar-benar baru? Sebelum menganalisisnya kita lihat dulu teks Quran yang berbicara tentang hal ini serta melakukan survey terhadap berbagai pendapat para sarjana & ulama Islam dari masa ke masa.

Teks yang menjadi acuan yaitu QS An Nisaa 4:157.
"dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa"
Berdasarkan teks ini muncul teori substitusi (substitution theory) yang menyatakan bahwa bukan Yesus (Isa) yang disalibkan. Namun teori ini tidak terima beberapa sarjana Islam lainnya dengan tafsiran tersendiri atas teks tersebut, mereka berpendapat Yesus memang disalibkan tetapi tidak mati atau hanya pingsan, pendapat ini dikenal dengan nama teori pingsan (swoon theory). Masih ada teori lain namun kurang begitu dikenal yaitu dual sphere/figurativ docetism theory. Kita tidak menganalisis lebih jauh teknis penafsiran atas teks itu dari pendapat-pendapat yang berbeda tersebut. Namun kita lebih menekankan pada analisis sejarah atas teori-teori tersebut. Jika kita menyimak sejarah tafsir Islam, maka terlihat jelas bahwa substitution theory & figurativ docetism theory lebih banyak dipegang para sarjana & ulama Islam awal sedangkan swoon theory lebih populer di masa belakangan.

Hasil gambar untuk jesus crucified swoon theory

Sarjana Islam awal yang diketahui memegang substution theory ini yaitu al-Kalbi (763M) dan sejarawan Islam awal Ibn Ishaq (767M) yang juga menulis biografi Muhammad yang pertama. Selanjutnya ahli tafsir Islam awal yang terkenal Al-Tabari (923M) kemudian sarjana Islam lainnya seperti Abd Al-Jabbar (1025M), Al-Baydawi (1286M), Ibn Kathir (1373M), Al-Suyuti (1505M) dll. Namun mengenai siapa "orang pengganti" tersebut terdapat banyak variasi pendapat. Ada yang menyatakan bahwa dia salah satu murid Yesus dan ada juga menyatakan dia salah satu orang Yahudi yang menangkap Yesus. Ada yang menyebutkan nama orang itu Yudas dan ada beberapa nama lainnya seperti Natyanus (al-Kalbi), Tatanus (Al-Baydawi), Serjes (Ibn Ishaq).

Namun ahli tafsir lainnya mengkritisi substitution theory dengan mengajukan dual sphere/figurative docetism theory seperti Ja'far Ibn Muhammad Al-Sadiq (750M), Al-Sijistani (971M) & Abu Al-Futuh al-Razi (1131M). Theory ini beranggapan bahwa tubuh fisik Yesus yang disalib tetapi jiwanya tidak disalib sehingga tidak ada "orang pengganti" dalam peristiwa penyaliban Yesus. Dari data sejarah tafsir Islam sejak lahirnya Islam sampai abad pertengahan, belum ada data tentang sarjana Islam yang memegang swoon theory, nanti pada abad belakangan mulai banyak sarjana Islam terutama para apologet Islam yang memegang teori ini seperti Ahmed Deedat orator Islam yang terkenal. Termasuk Irena Handono yang menuliskan buku khusus tentang hal ini.

Dari penelusuran berbagai data biblikal, non biblikal & extra biblikal pra Islam ditemukan hanya beberapa dokumen sejarah saja yang memiliki kaitan dengan substitution & figurativ docetism theory namun sama sekali tidak ada petunjuk mengenai swoon theory. Data sejarah tersebut bagian dari injil apokrif & dokumen-dokumen gnostik pada abad ke-2 s/d 5 yaitu The Second Treatise of the Great Seth & Apocalypse of Peter serta pengajaran dari Basilides & Cerinthus sebagaimana ditulis oleh Ireneus (Adv. haer). Sedangkan data awal untuk swoon theory kita bisa mengaitkannya dengan ide tentang teori pingsan yang pertama kali dimunculkan oleh Venturini pada sekitar abad ke-17.

Menurut Ireneus (Adv. haer. 1.24.4), the gnostic Basilides mengajarkan bahwa Yesus tidak menderita melainkan orang lain yang mengantikan dia disalib yaitu Simon dari Kirene  “Rather a certain Simon of Cyrene was compelled to bear his cross for him … and through ignorance and error it was he who was crucified.”. Sedangkan Cerintus menurut Ireneus ((Adv. haer. 1.26.1), Cerintus memiliki pemahaman adanya perbedaan antara Yesus duniawi (the earthly Jesus) dengan Kristus sorgawi (the heavenly Christ). Sehingga yang disalib adalah Yesus duniawi tetapi Kristus sorgawai tidaklah mati “in the end Christ withdrew again from Jesus—Jesus suffered and rose again, while Christ remained impassible inasmuch as he was a spiritual being.”.

Dalam the Apocalypse of Peter (VII.81.7–25) salah satu dokumen gnostik dari Nag Hammadi Library, kita bisa membaca bahwa menurut dokumen ini Petrus melihat ada dua figur yang terlibat dalam penyaliban. Salah seorang mengalami penyiksaan dengan dipaku kaki & tangannya dan orang yang lainnya melihatnya dari atas pohon sambil tertawa melihat peristiwa itu berlangsung. “The Savior said to me, ‘The one whom you saw on the tree, happy and laughing, is the living Jesus; but the one into whose hands and feet they drive the nail is his fleshly part. It is the substitute being put to shame, the one who came to being in his likeness.’”.

Hal yang serupa juga dinyatakan dalam dokumen gnostik lainnya dalam The Second Treatise of the Great Seth (VII.51.20–52.3) “I visited a bodily dwelling. I cast out first the one who was in it, and I went in … He was an earthly man; but I, I am from above the heavens.”. Dalam dokumen ini, Yesus dianggap menolak menyatakan bahwa dia yang disalib melainkan orang lain yaitu Simon "..It was another, their father, who drank the gall and the vinegar; it was not I … It was another, Simon, who bore the cross on his shoulder” (VII.56.6–11).

Dari berbagai data ini, kita bisa melihat adanya pemahaman gnostik yang beranggapan bahwa Yesus tidak disalibkan melainkan orang lain. Pemahaman lainnya bahwa bukanlah Yesus sesungguhnya yang disalibkan melalui hanya tubuh duniawinya saja. Apakah ini mirip dengan pengajaran Quran? yah, untuk substitution theory mirip dengan orang pengganti seperti Simon berdasarkan pengajaran Basilides & The Second Treatise of the Great Seth dan untuk figurativ docetism mirip dengan pengajaran Cerintus & the Apocalypse of Peter. Mungkin karena adanya kemiripan ini sehingga Menachem Ali menyebut tentang The Second Treatise of the Great Seth dalam sebuah seminar saat membahas penyaliban Yesus. Jika kita membandingkan sejarah tafsir Islam atas persoalan ini, adanya kemiripan ini memiliki kaitan dengan pendapat para sarjana Islam awal yaitu substitution & figurativ docetism theory. Hal ini menunjukan juga bahwa swoon theory memang benar-benar pendapat baru yang tidak memiliki rujukan sejarah pada masa lahirnya Islam maupun masa pra Islam.

Namun masalah yang substansial, apakah keterangan tersebut merupakan fakta sejarah yang riil atau tidak. Pernyataan-pernyataan dari Basilides, Cerintus, the Apocalypse of Peter & The Second Treatise of the Great Seth jelas bukanlah fakta sejarah melainkan imajinasi dari para pengikut gnostik. Makanya sejak awal para bapa gereja seperti Ireneus dalam bukunya yang membahas ajaran sesat, telah membantah hal itu seperti pengajaran Basilides & Cerintus tersebut. Demikian pula dengan dokumen gnostik the Apocalypse of Peter & The Second Treatise of the Great Seth yang berisi sinkretisme antara kekristenan & gnostik. Bahkan dari antara dokumen-dokumen tersebut terdapat detail signifikan tertentu yang kontradiktif, seperti yang disalibkan orang lain vs tubuh duniawi Yesus.

Perlu diketahui bahwa munculnya injil apokrif & dokumen gnostik nanti banyak terjadi mulai abad ke-2 yaitu sejak meninggalnya generasi para rasul. Pada abad pertama, ajaran-ajaran dalam kekristenan belum banyak muncul karena masih ada para rasul yang langsung mengcounter ajaran tersebut seperti surat rasul Yohanes menanggapi ajaran docetism. Sejak meninggalnya para rasul, mulai banyak bermunculan pengajar sesat dan juga menuliskan ajaran-ajarannya tersebut yang dikategorikan sebagai injil apokrif. Salah satu motivasi penulisan injil apokrif ini yaitu ingin memasukan bahan-bahan yang tidak ada dalam injil kanonik khususnya kehidupan masa kecil Yesus. Selain itu memasukan pengajaran gnostik dipadukan secara sinkretistik dengan kekristenan seperti paham docetism.

Banyak orang yang tidak paham termasuk Menachem Ali yang mencoba mengambil beberapa bagian tertentu dari injil apokrif untuk menjustifikasi Islam. Justru pemahaman dari kalangan kekristenan gnostik ini lebih menekankan pada aspek keilahian Yesus. Namun kesesatan mereka, terletak pada pemahaman kristologi yang tidak seimbang karena mereka umumnya menolak kemanusiaan Yesus. Hal ini sudah ditanggapi oleh rasul Yohanes dalam suratnya. Makanya mereka menolak Yesus bisa mati karena dianggap Yesus hanya sepenuhnya ilahi. Sehingga sungguh ironi, jika Quran mengadopsi hal ini namun disisi lain menolak keilahian Yesus yang justru posisi Yesus begitu ditinggikan sebagai figur ilahi dalam dokumen-dokumen gnostik tersebut.

Menarik menyimak pendapat salah seorang scholar Raymond Brown dalam bukunya The death of the Messiah, Volume 1 and 2: From Gethsemane to the grave, a commentary on the Passion narratives in the four Gospels (1094). New York; London: Yale University Press. Brown menuliskan
"..Islamic apologists have pointed out that Mohammed would have had no trouble accepting the crucifixion of Jesus; therefore the fact that he did not accept it shows he got revelation on the subject from God. But we do not know how much orthodox Christianity Mohammed knew; the Arabian Christianity he was acquainted with probably came from Syria and was heterodox. It may have brought with it the gnostic substitution views described above. (Tröger, “Jesus” 217, maintains that certainly the Islamic commentators on the Koran were familiar with gnostic texts.)..". 
Menurut Brown informasi yang terdapat dalam Quran tersebut kemungkinan didapatkan dari ajaran kekristenan heretik yang ada di Arabia. Hal ini sejalan dengan beberapa pendapat scholar lainnya seperti J. Spencer Trimingham  dalam bukunya Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times, London, Longman, 1979.

Dari analisis historis ini kita bisa melihat bahwa anggapan bahwa Yesus tidak mati di kayu Salib, baik pendapat yang menyatakan bukan Yesus yang disalibkan tetapi orang lain maupun pendapat Yesus memang disalib tetapi tidak mati hanya pingsan, kesemua teori ini tidaklah memiliki dasar yang kuat. Rujukan sejarah yang ada dari substitution & figuratif docetisme theory justru membuktikan adanya pengaruh injil apokrif & dokumen gnostik terhadap Quran. Dan dokumen-dokumen itu seperti kisah tentang penyaliban bukan merupakan fakta sejarah melainkan imajinasi dari pengikut gnostik yang dianggap sebagai sebuah fakta sejarah dalam Quran.
Share: